Kekosongan Dan Penolakan
(dikutip dari buku "Kesadaran
Sejati
- Wisnu Prakasa")
Arti dari Kekosongan (Emptiness, Kesunyataan) bukanlah menolak
segalanya,
tetapi Kekosongan yang sebenarnya adalah
"Mengenal kesadaran alamiah
dari semuanya"
Disaat belajar meditasi dengan mengosongkan pikiran, bukanlah bearti harus
menghilangkan apa yang ada semuanya. Seperti apa yang tampak dihadapan, apa yang
didengar, rasa sakit dipinggang yang mulai terasa, rasa lapar, rasa ngantuk,
sakit digigit nyamuk, ataupun suhu ruangan yang terlalu panas atau terlalu
dingin.
Kita tidak perlu melawan ataupun berusaha mencoba menghilangkan sakit dipinggang
ataupun gatal-gatal gigitan nyamuk. Juga kita tidak perlu berusaha untuk merubah
pikiran kita bahwa kita tidak kedinginan dan kelaparan. Semua perlawanan dan
penolakan ini bukanlah arti sebenarnya dari kekosongan. Semakin mereka menolak,
maka semakin besar kesulitan yang akan dihadapi.
Walaupun pada awalnya mereka merasa mampu menghilangkan semua rasa tersebut,
tetapi pada akhirnya mereka akan menyerah. Janganlah para murid hanya meniru apa
yang dilakukan dan diperbuat oleh para Guru Besar, tanpa memahami makna
pembinaan yang sebenarnya. Pahamilah bahwa kondisi tubuh dan keadaan setiap
mahluk berbeda-beda, demikian pula pencapaian dan kejernihan kesadaran para
mahluk juga berbeda-beda.
Diwaktu lampau, Guru Besar Bodhidharma duduk bermeditasi menghadap dinding gua
selama bertahun-tahun tanpa makan dan minum. Para umat yang tidak memahami dasar
pembinaan Bodhidharma hanya meniru meditasi yang dilakukan Bodhidharma. Mereka
merasa bangga bilamana dapat mencontoh keberhasilan Bodhidharma yang bermeditasi
bertahun-tahun tanpa makan dan minum.
Para umat berkeras kepala untuk menirunya, mungkin dapat melawan rasa lapar
tersebut pada awalnya, sehingga rasa lapar dapat ditahan atau menghilang selama
beberapa hari. Bilamana mereka meneruskan hingga berminggu-minggu dengan melawan
rasa lapar tersebut, tetapi sangat disayangkan pada akhirnya mereka akan
meninggal karena kelaparan sebelum mendapatkan pencerahan.
Bodhidharma dapat mencapai tahap meditasi kekosongan tersebut karena beliau
telah membina dan berlatih tahap-tahap sebelumnya, tetapi banyak umat yang
mencari jalan pintas dan hanya mencontoh untuk menginginkan hasil secepat
mungkin. Mereka tidak menyadari bahwa pencapaian tersebut diperlukan pembinaan
dasar yang kuat, tetapi mereka hanya mencontoh dan mengambil jalan pintas
sehingga mengabaikan dan memandang rendah tahap-tahap dasar sebelumnya.
Saat kita bermeditasi kekosongan, dan timbul rasa lapar, rasa sakit pinggang ,
gatal-gatal nyamuk, dan rasa dingin dari ruangan. Kita harus dapat menerima ini
semua. Rasakanlah sakit pinggang dan gatal-gatalnya, dan rasakan ruangan yang
dingin ini, rasakan rasa lapar yang timbul. Bilamana memang kita belum makan,
kenapa kita tidak makan dahulu? Bilamana terasa terlalu dingin, dapatkah kita
mencari tempat posisi yang lebih hangat ? Tetapi kadangkala kita tidak mempunyai
pilihan lain dan harus menerima keadaan tersebut, disini kita memerlukan suatu
pemahaman kesadaran yang sesungguhnya dari keadaan diri.
Bilamana kita telah mengetahui keadaan kita yang sebenarnya, maka tubuh dan
pikiran kita dapat menerima semua yang timbul tanpa harus bereaksi untuk
menjadikannya sebagai suatu penghalang. Bilamana kita memahami keadaan yang
sebenarnya ini dengan Kesadaran Sejati yang tetap jernih dan tenang, maka kita
akan mengerti dan memahami arti kekosongan yang sesungguhya.
Memahami alamiah kekosongan juga bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Salah
satu contoh kecil yang penah saya hadapi disaat saya harus menjalani operasi amandel.
Pada pagi hari sekitar jam 9 saya menjalani operasi amandel sekitar 2 jam.
Kemudian saya dibawa kekamar rawat. Dokter yang mengoperasi saya memberitahukan
bahwa saya dapat keluar dari rumah sakit bilamana sudah bisa makan dan minum,
karena beliau khawatir bilamana saya tidak dapat menelan makanan ataupun minum, maka beliau menyarankan untuk diinfus.
Dengan rasa sakit di tenggorokan, saya memaksakannya untuk bertanya kepada
dokter apabila saya sudah bisa makan dan minum, apakah saya bisa keluar hari
ini juga. Dokter dengan tersenyum menyetujuinya, lalu beliau menawarkan setiap
saat bisa meminta es krim. Bila dapat menghabiskan setengahnya saja, saya dapat
diizinkan keluar dari rumah sakit.
Saya kemudian meminta es krim kepada seorang perawat, karena saya ingin
mencobanya. Sebenarnya hal ini suatu yang berat sekali, untuk berbicara saja
saya sudah sulit sekali. Dan juga saya rasakan air ludah sendiri saja, tidak dapat saya telan
walaupun sedikit sekali.
Tidak berapa lama, suster tersebut membawakan 2 scope es krim di mangkok dan 1
gelas air putih dihadapan saya, berbagai gambaran perasaan khawatir mulai timbul membangkitkan
rasa takut agar tidak mencobanya.
Saya menyadari sepenuhnya, semua gambaran pikiran yang timbul lalu. Berbagai
macam gambaran pikiran yang timbul silih berganti, tetapi tetap saja saya tidak
mengikutinya. Saya selalu menyadari alamiah kejernihan Kesadaran, akhirnya
gambaran pikiran tersebut tidak lagi memperdaya, sehingga rasa takut dan
khawatir tidak lagi timbul.
Kemudian secara perlahan-lahan saya mencoba 1 sendok kecil es krim kedalam mulut saya.
Disini saya merasakan rasa sakit yang luar biasa di tenggorokan saya.
Seketika itu juga, berbagai macam gambaran pikiran terus
timbul ingin menutupi kejernihan kesadaran sejati akan rasa sakit yang alamiah.
Gambaran pikiran yang timbul selalu ingin memperdaya kesadaran saya, sehingga
rasa sakit yang ada menjadi penderitaan, kesedihan, dan ketakutan yang berkepanjangan.
Kesadaran saya tetap laksana penonton yang melihat gambaran-gambaran pikiran
yang terus timbul dan hilang silih berganti. Saya menyadari seluruh
gambaran pikiran lainnya yang mengikuti rasa sakit luar biasa yang dirasakan,
tetapi seluruh gambaran pikiran dapat saya pisahkan dengan kejernihan Kesadaran
Sejati.
Rasa sakit di dalam tenggorokan, saya rasakan benar-benar apa adanya dan
saya menerima rasa sakit yang timbul ini dengan Kesadaran yang tetap jernih dan
tenang. Walaupun sakitnya terasa sekali, bukanlah menjadi suatu penderitaan dan
penghalang bagi saya. Sulit bagi saya untuk melukiskan alamiah keadaan yang
sesungguhnya ini dengan kata-kata. Mungkin mereka yang telah memahami Kesadaran Sejati akan mengerti maksud
saya yang sebenarnya. Yang ada saat itu adalah Saya dan Rasa Sakit menjadi satu
kesatuan yang tidak terpisahkan.
Saya tidak menolak, melawan, atau menahan rasa sakit yang timbul, tetapi
saya menyadari:
"Rasa sakit adalah rasa sakit".
"Saya adalah rasa sakit, rasa sakit adalah saya,
Hanyalah Ini !"
Walaupun saya merasakan sakit yang luar biasa, rasa sakit yang timbul tidak
menjadi penghalang bagi diri saya untuk menelan es-krim ini. Rasa sakit dan saya
menyatu tanpa beda, sehingga saya menyadari bahwa rasa sakit ini bukanlah
penghalang yang harus saya hilangkan. Rasa sakit ini memang benar dan nyata,
karena alamiah saya yang masih mempunyai tubuh kasar.
Saya mencoba sendok kedua dan seterusnya hingga akhirnya saya dapat menghabiskan
es-krim dan meminta satu gelas air putih. Tampak jelas rasa kaget di wajah Dokter
dan para suster yang menyaksikan kenekatan saya untuk menghabiskan semuanya. Lalu saya berkata, bahwa saya akan pulang siang ini
juga. Dokter langsung tersenyum kepada saya dan menyetujuinya. Beliau juga
memuji saya kenekatan saya, dan sambil bercanda mengatakan bahwa Dirinya
bagaikan turut merasakan sakit, ketika saya memakan es krim.
Sore harinya
saya keluar dari rumah sakit, langsung pergi kerumah makan untuk memesan nasi
hainan. Sendok pertama terasa sakit kembali, tetapi saya mencoba kembali cara
diatas hingga akhirnya saya dapat menghabiskan juga tanpa sisa.
Disini saya tidak berusaha menolak rasa sakit yang timbul, atau berusaha menahan
rasa sakit. Saya hanya berusaha memahami rasa sakit yang timbul. Saya hanya
menerima rasa sakit yang timbul dan merasakan sakitnya dengan menjaga Kesadaran
Sejati tetapi jernih dan tenang. Hingga akhirnya saya memahami bahwa rasa sakit
ini adalah bagian dari diri saya, dan saya harus menerima rasa sakit ini.
Bilamana kita telah memahaminya, maka rasa sakit dan Kesadaran Sejati bukanlah
dua hal yang harus dipisahkan.
Mungkin ada yang menduga bahwa saya sebagai orang yang mempunyai kelebihan dapat
mengontrol dan menguasai syaraf yang menimbulkan rasa sakit. Sebenarnya, saya
bukanlah orang yang mempunyai kelebihan tersebut. Saya bahkan tergolong lebih
sensitif terhadap respon syaraf saya dibandingkan secara umumnya.
Bersyukurlah saya atas amandel saya ini, karena dengan keadaan ini saya dapat
lebih memahami apa yang oleh Para Mahluk Suci dan Guru jelaskan tentang Kesadaran Sejati dan
Kekosongan itu. Walaupun ini hanya sebagai contoh kecil yang saya alami dalam
proses awal pembinaan Kesadaran Sejati.
Dengan memahami arti kekosongan yang sesungguhnya, kita akan mengerti bahwa yang
membuat diri kita tidak kosong adalah gambaran pikiran yang selalu menutupi
kesadaran sejati kita sehingga kita tidak lagi menyadari sifat alamiah dari
segalanya. Rasa sakit adalah sifat alamiah karena amandel saya yang dioperasi,
tetapi kesedihan dan penderitaan yang ditimbulkan oleh rasa sakit tersebut
merupakan gambaran pikiran yang menutupi kesadaran sejati.
— Namo Uci Yauw Ce Cin Mu Ta
Thien Cun —