Home
Back
Info Dharma
Galleria

Menjual Prajna
(Oleh: herianto lim, submit: 11 May 2001 )

Dikisahkan seorang pedagang yang sering bepergian ke kota untuk menjajakan dagangannya. Menjelang hari raya, terpikir olehnya untuk memberi hadiah kepada isterinya. Seharian dia mengelilingi pasar tapi masih belum menemukan hadiah yang cocok untuk di beli. Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah toko yang tak berisikan apa-apa dan hanya dijaga
oleh seorang pak tua dengan pamflet "MENJUAL PRAJNA".

Karena ingin tahu, dia pun mendekati lalu bertanya, "Apakah Prajna ini dapat dijual ?"
"Tentu saja !" , jawab Pak tua.
"Kalau begitu, berapa harganya ?"
"Sebuah Prajna berharga 10 tael".
"Baiklah, saya beli !"

Sebelum Pak tua itu menulis, dia terlebih dahulu berkata : "Maju tiga langkah ke depan, renungkan dengan baik. Mundur tiga langkah ke belakang, renungkan dengan baik. Sewaktu api kebencian menyala, gunakanlah kekuatan renungan ini. Padamnya api amarah adalah hal yang paling bagus".
Dia bahkan memesan lagi, "Ingat, kelak ketika anda sedang emosi, bacalah syair ini".

"Apakah dengan empat baris sajak ini sudah berharga 10 tael ? Anda telah menipu orang", ketus si pedagang.

Pak tua hanya tertawa ramah.

Mungkin karena menganggap orang tua itu sudah berusia lanjut, maka si pedagang tak mempermasalahkannya lagi lalu langsung membayarnya supaya bisa lebih cepat tiba di rumah.

Sekembalinya di rumah, hari sudah larut. Sang isteri sudah tertidur pulas, dan anehnya dibawah ranjang terdapat dua pasang sepatu. Yang satu sepatu perempuan, yang satu lagi sepatu lelaki. Dalam hati ia bergumam, "Sungguh perempuan tak tahu malu, saat saya tidak di rumah maka telah berbuat zinah !".

Dengan hati murka, dia pergi ke dapur dan mencari pisau dengan maksud menghabisi nyawa isterinya.

Ketika akan mengangkat pisau, dia kembali teringat sajak orang tua tadi.Lalu dibacanya pelan-pelan, "Maju tiga langkah ke depan, renungkan dengan baik. Mundur tiga langkah ke belakang, renungkan dengan baik".

Dengan hati bimbang dia terus mondar-mandir. Ternyata suara berisiknya telah membangunkan isterinya. Begitu terbangun dan mengetahui suaminya telah pulang, sang isteri berkata : "Wah, kamu koq demikian larut pulang ?".
"Di atas ranjang itu siapa ?"
"Tak ada orang."
"Mengapa ada sepasang sepatu ini ?"
"Hari ini kan malam hari raya. Tunggu seharian ternyata kamu masih belum pulang. Agar melambangkan arti berkumpul bersama, terpaksa sepatu barumu saya taruh di bawah ranjang !", kata isterinya.

Begitu terdengar penjelasan isterinya, pedagang itu menjadi lega karena tidak sempat bersifat
kasar. Teringat syair itu, dengan kagum ia berkata :"Sungguh merupakan syair yang amat bernilai !. Sekalipun 1000 tael harganya tetap tidak mahal".

Padamnya api murka berarti membawa citra kebaikan.

Penjelasan :
Di tengah kesibukan manusia dewasa ini, angkara murka begitu mudah meluap. Kemurkaan itu bukan saja mencelakakan jiwa raga, tetapi kadang kala dapat merusak perkara penting. Belajar menaklukkan emosi berarti perisai hati menjadi permata hati.
 

— Namo Uci Yauw Ce Cin Mu Ta Thien Cun —

 


  Dharma Center 'BUNDA MULIA' 
Jakarta, INDONESIA

  Vihara 'Yauw Ce Cin-Mu'  
Hua Lien, TAIWAN.

Copyright © 2001 Yayasan Dharma Mulia Persada Indonesia. All rights reserved.