2 Orang Tersesat di Hutan
(dikutip dari buku "Kesadaran
Sejati
- Wisnu Prakasa")
Dua orang berencana untuk
menjelajah hutan, satu membina Kesadaran, satu tidak membina spiritual .
Ternyata di dalam hutan mereka tersesat, sedangkan matahari mulai tenggelam
di barat.
Keduanya sama-sama mengalami musibah yang tidak terduga dan tidak
membahagiakan ini, tetapi tanggapan dan pandangan masing-masing sangat
berbeda.
Yang tidak membina
Kesadaran, akan mulai merasakan khawatir, takut, cemas yang terus
bekelanjutan. Selanjutnya, dia akan mulai menyesalkan keadaan dirinya atau temannya,
mengapa harus menjelajahi hutan, sehingga dirinya tersesat sekarang.
Melihat hari mulai gelap,
dirinya juga di penuhi oleh berbagai gambaran yang menakutkan, akan binatang
buas. Sedikit suara yang timbul saja, seketika itu juga membuat dirinya
menjadi takut dan mengira akan datangnya binatang buas yang setiap saat muncul
dan akan menerkamnya,
dan sebagainya.
Berbagai macam gambaran
Pikiran lainnya yang timbul silih berganti tanpa henti, dan terus membuat dirinya menjadi
semakin emosinal
dan sensitif. Inilah alamiah dari gambaran pikiran, yang memang akan dialami
bagi mereka yang tidak membina Kesadaran.
Yang membina Kesadaran,
pada awalnya mungkin juga mulai merasakan khawatir, takut, cemas juga. Tetapi
kemudian dirinya mulai menyadari dan memahami timbulnya gambaran pikiran
yang demikian adalah wajar, sehingga Kesadaran tetap
terjenihkan. Menjelajah hutan, lalu tersesat, bahkan hingga menjelang malam,
bagi pembina Kesadaran akan memahami bahwa semua itu adalah satu proses
kesatuan yang tidak terpisahkan. Itu adalah bagian dari alamiah kehidupan
yang sekarang dihadapi dengan Kesadaran yang tetap jernih, tanpa harus
diperdaya terus oleh berbagai gambaran Pikiran yang menyeramkan.
Selanjutnya, saya tidak
akan menjelaskan bagaimana dan apa yang dilakukan oleh pembina Kesadaran
dalam menghadapi keadaan tersesat di hutan.
Dengan Kesadaran yang
jernih, masalah Bagaimana dan Apa, masalah Tujuan dan Hasil, masalah Sebab
dan Akibat, juga tidak akan mempengaruhi Kesadarannya. Jadi semua itu bukan
hal yang terpenting, justru hal yang terpenting adalah menjaga Kesadaran
selalu jernih setiap saat.
Walau terjadi keadaan yang
terburuk,
mereka mati dimakan binatang buas, saya dapat pastikan bahwa salah satu akan
mati dalam ketakutan, dan dapat menjadi setan gentayangan.
Bilamana ada kesempatan
untuk bertahan hidup, manakah yang mempunyai kesempatan lebih besar ?
Walau karma dan keberuntungan juga sangat menentukan, tetapi dia yang dapat
menghadapi keadaan dengan lebih tenang, tentu memiliki peluang untuk
mencari jalan keluar lebih baik.
Mana yang lebih menderita
?
Walau keduannya sama-sama mengalami musibah yang tidak menyenangkan, tetapi
sungguh kasihan lagi bagi yang sudah mengalami musibah, dan harus ditambah
dengan merasakan berbagai ketakutan dan ketidak stabilan emosi yang bersumber dari ciptaan gambaran-gambaran
pikirannya sendiri.
Ini yang
saya maksud dengan ungkapan saya,
“Belum masuk Neraka, sudah merasakan Panasnya Api Neraka Pikiran.
Tidak terbayangkan, bagaimana bila sudah di Neraka yang sebenarnya ?”
( June, 2002 )