Apakah Kepercayaan Saya ?
(dikutip dari buku
"Kisah-Kasih Spiritual Bagian XIII : Wisnu Prakasa")
Di Awal tahun 2001, seorang umat dari salah satu aliran
Tantrayana bertanya kepada saya: Banyak orang dari berbagai aliran agama
dan kepercayaan lain, yang bertukar pikiran, memohon petunjuk, nasehat, hingga
Ajaran. Apakah kepercayaan saya yang sebenarnya, sehingga dapat diterima oleh
berbagai agama dan aliran ?
Pertanyaan seperti ini, justru sering sekali diajukan kepada saya
oleh para umat-umat Buddha dan Tao. Sering timbulnya pertanyaan yang demikian,
justru hal ini menunjukan dalam pandangan
dan pikiran mereka, yang penuh dengan misteri mengapa saya bisa demikian akrab
dengan umat-umat, guru, pengajar, dan pemimpin dari agama dan aliran lain.
Alasan mengapa saya bisa dekat dan akrab dengan mereka, telah saya jawab dengan
apa adanya, yaitu: "Sebab saya selalu
menghormati dan menghargai kepercayaan dan keyakin semua mahluk pembina
spiritual.
Dengan demikian, secara alamiah, sangat tidak mengherankan bila saya
sebaliknya juga sangat dihargai oleh mereka. Inilah alamiah kehidupan spiritual
saya yang sebenarnya".
Tetapi untuk menjawab, Apakah kepercayaan saya yang
sebenarnya. Untuk ini saya memohon maaf sebelumnya, karena pertanyaan ini hanya
dapat saya jawab sebatas makna kata-kata ucapan saja, tetapi maksud dan intisari
jawaban sebenarnya, sangat sulit untuk dijelaskan dengan keterbatasan bahasa
yang ada.
Seperti halnya bila saya ditanya, “Masakan apa yang saya
paling sukai ?”.
Dan saya akan menjawab ‘Nasi Goreng’.
Bila 3 orang umat yang berasal dari China, Jawa, dan India.
Dan langsung membuatkan saya nasi goreng. Apakah mereka dapat benar-benar
mengerti dan memahami’Nasi Goreng’ yang saya maksud ?
Umat dari China akan membayangkan bahwa saya menyukai nasi,
dikasih minyak wijen, dikasih sedikit sayur, daging, seafood, lalu digoreng.
Umat dari Jawa, akan membayangkan bahwa saya menyukai nasi
yang digoreng pakai bumbu jawa, dan di goreng dengan telur dan kecap manis.
Umat berasal dari India, akan membayangkan bahwa saya menyukai
nasi yang diberi sedikit bumbu kari, bumbu india lainnya, lalu digoreng.
Apakah semua nasi goreng yang ada tersebut, termasuk nasi
goreng yang saya maksudkan ?
Apakah rasa dan aroma nasi goreng tersebut, sesuai dengan rasa
dan aroma yang saya maksudkan ?
Bila saya mencicipi satu persatu, dan mengatakan semua nasi
goreng mereka sangat enak.
Apakah rasa enak yang saya rasakan dari masing-masing nasi goreng, sama rasa enaknya ?
Apakah rasa enak yang saya rasakan, sama rasanya dengan apa yang mereka rasakan ?
Walau pada awalnya, saya telah mengatakan dengan jelas bahwa
masakan kesukaan saya adalah ‘nasi goreng’, tetapi terbukti tidak ada seorangpun
yang dapat menggantikan lidah saya, atau memahami rasa dan aroma nasi goreng
yang saya maksudkan.
Dan bila saya harus menjawab pertanyaan diatas, walau dengan
keterbatasan bahasa sehari-hari. Dengan pasti saya akan mengatakan bahwa: “Kepercayaan
yang saya bina dan jalankan sebagai pedoman dan tujuan kehidupan Spiritual
saya adalah Kepercayaan kepada YANG MAHA TUNGGAL DAN MAHA SUCI, dengan jalan pembinaan
kehidupan spiritual untuk
mencapai Ke-Buddha-an / Ta-Tao / Kesunyataan Tunggal / Kesempurnaan Sejati /
Pencerahan Agung.”
Tetapi………
Apakah Jawaban yang saya katakan, sama artinya seperti umat
lainnya ?
Apakah Pemahaman yang saya maksudkan, sama maknanya seperti umat lainnya ?
Apakah Kesadaran saya ini, sama keadaannya seperti umat lainnya ?
Walau masing-masing umat mendengar dan membaca jawaban yang
sama dari saya, tetapi dapat saya pastikan. tidak ada satu umatpun, yang
benar-benar dapat memahami makna, maksud, dan intisari yang sebenarnya dari
Jawaban saya ini.
Jangankan mahluk lain, bahkan pikiran saya sendiri tidak dapat
memahami makna intisari Jawaban saya yang sebenarnya.
Inilah bukti akan sifat alamiah Kesadaran yang tanpa batas,
dimana dari bahasa hingga pikiran yang timbul, tidak mungkin dapat memahami
kejernihan Kesadaran.
Petanyaan yang sangat sederhana ini, telah saya jawab
selengkap-lengkapnya, baik dengan ucapan, pikiran, dan kesadaran saya yang
sebenarnya.
— Namo Uci Yauw Ce Cin Mu Ta
Thien Cun —