Awal Pembinaan Kesadaran Sejati
(dikutip dari buku "Kesadaran
Sejati Bagian 4 - oleh: Wisnu Prakasa")
Telah banyak umat yang membina ajaran "Pembinaan
Kesadaran Sejati" dari Bunda Mulia. Dengan membina kesadaran sejati,
berarti mereka lahir kembali menjadi mahluk spiritual, sehingga tujuan
kehidupannya menjadi kehidupan spiritual untuk mencapai Pencapaian Agung (Tao
dan Kebudhaan).
Dalam tahap awal menyadari kesadaran sejati, anda hanya baru
mencapai tahap pemahaman perasaan kesadaran sejati. Berhati-hatilah dengan
perasaan yang timbul dan cenderung selalu memperdaya kesadaran. Perasaan merasa
telah memahami dan mencapai kesadaran, bukan kesadaran sejati yang sesungguhnya.
Walaupun demikian, Jangan anda khawatir atau cepat berputus-asa, karena semua proses ini merupakan proses awal yang baik dalam
pembinaan kesadaran sejati. Semua mahluk yang membina kehidupan spiritual harus
melewati tahap-tahap yang demikian.
Bagaikan seorang anak kecil yang baru dapat berjalan, dirinya
akan merasakan setiap langkah kakinya satu demi satu. Dirinya kadang masih
terjerat dengan perasaan yang timbul karena baru merasakan berjalan. Rasa senang
dan takut melebur menjadi satu. Perasaan ini timbul mengiringi setiap langkahnya
satu demi satu, walaupun kadang kala dirinya tidak dapat menyadari perasaan yang
timbul.
Ketika dirinya telah dapat berlari, setiap langkahnya telah
menjadi bagian darinya tanpa menimbulkan lagi perasaan senang dan takut. Kedua
langkah kaki dan ayunan tangan menjadi suatu ikatan yang seirama dengan
sendirinya tanpa timbul gambaran pikiran yang mengaturnya. Bila kita melangkah
dan berusaha mengatur ayunan tangan kita, maka tentu langkah kita akan menjadi
janggal dan kaku. Demikian pula bila kita menahan tangan agar tidak bergerak
sewaktu melangkah, tentu langkah kita akan lebih kaku lagi. Biarkan tangan kita
bergerak tanpa harus timbul pikiran yang mengaturnya, maka tangan kita akan
bergerak dengan sendirinya seirama dengan langkah kaki kita. Hal ini terjadi
karena tanpa timbulnya gambaran pikiran, maka otomatis keserasian gerakan kaki
dan tangan akan menyatu menjadi satu-kesatuan yang tidak terpisahkan dalam diri
kita.
Dibalik ajaran ini sesungguhnya saya telah membuka salah satu
makna rahasia terbesar dari "Wu-Wei" dalam Tao-Te-Ching. Inilah salah
satu gambaran contoh yang sangat sederhana yang dapat saya jelaskan dari "Wu-Wei" (dalam
bahasa indonesia, saya pribadi mengartikan: "bergerak tapi tidak melakukan").
Master Lao-Tzu dan Master Chuang-Tzu telah menjelaskannya sejak lampau, tetapi
hingga sekarang sangat sedikit sekali mahluk yang dapat memahaminya. Dimana
sejak masa lampau, Para Guru-Guru Besar berusaha memahami makna
"Wu-Wei". Mereka menghabiskan waktu berpuluh-puluh tahun untuk
memahaminya, ada yang berhasil tetapi lebih banyak yang gagal.
Berhati-hatilah para umat yang telah merasa mengetahui
sekilas makna "Wu-Wei" dari keterangan saya diatas, lalu menjadi
sombong dan merasa telah memahami keseluruhannya. Saya selalu berusaha untuk
menjelaskan ajaran Dharma Mulia dengan bahasa sehari-hari agar mudah
dipahami, tetapi semua ajaran yang saya jelaskan bukan hanya sebagai
pengetahuan, tetapi ajaran Dharma Mulia harus dibina dan dihayati sehingga makna yang
sesungguhnya dapat dirasakan sendiri. Saya hanya dapat menunjukan, dan anda yang
harus membinanya.
Sekali lagi saya mengingatkan bahwa untuk menghayati makna
"Wu-Wei" yang sesungguhnya, syarat utama adalah kesadaran sejati yang
telah terbina dan jernih dari segala kemelekatan pikiran. Bila Kesadaran Sejati
telah jernih, maka otomatis anda akan dapat memahami apa yang diungkapkan oleh
Master Lao-Tzu dan Master Chuang-Tzu. Walaupun ungkapan kedua Master Sejati ini
tampak sangat sulit dipahami dan bahasa yang luar biasa indahnya, tetapi
ternyata beliau berdua sama-sama membicara hal yang sama.
Dengan ini saya berani
mengatakan bahwa ternyata Master Lao-Tzu dan Master Chuang-Tzu hanya
mengungkapkan ajaran yang sangat sederhana sekali. Tanpa mengurangi rasa hormat yang
tidak terhingga kepada Master Lau-Tzu dan Master Chuang-Tzu , saya kembali mengulangi ungkapan
ajaran beliau dalam bahasa yang sangat sederhana yaitu KEBENARAN DARI ALAMIAH
KESADARAN.
Beliau tidak merahasiakan
atau mengajarkan suatu ajaran yang aneh, mistis, tidak masuk akall dan sulit dipahami. Mereka bukanlah ahli pembuat puisi
yang mengarang kata-kata yang indah tapi sulit dipahami. Beliau hanya
mengungkapan tentang KEBENARAN dari alamiah kesadaran dari pembina spiritual, sehingga bagi
mereka
yang telah mencapainya tentu akan berani mengatakan bahwa memang BENAR sudah
layak dan sepantasnya harus demikian. Memang benar bahwa matahari terbit dari
timur dan terbenam di barat. Memang benar bila ingin berlari kencang, kita tidak usah memikirkan kapan melangkahkan kaki kedepan dan kapan
mengayunkan tangan. Memang benar bahwa bila haus, harus minum untuk
menghilangkan dahaga. Dan memang benar, bila lapar harus makan. Demikianlah bila kesadaran telah jernih dan terbebaskan dari
kemelekatan gambaran pikiran yang timbul,
maka KEBENARAN DARI ALAMIAH KESADARAN akan terungkap dengan sendirinya.
Bagi para umat yang membaca ini, dan langsung merasakan telah dapat memahami
makna ajaran yang saya ungkapan ini. Bahkan mungkin merasa kira-kira telah dapat
memahami arti "Wu-Wei" dan Kesadaran yang sebenarnya. Saya ingatkan bahwa
bila timbul perasaan yang demikian, hal ini bagaikan seorang anak kecil dalam
proses awal berjalan, tetapi dirinya merasa telah dapat berlari kencang.
Walaupun
mungkin sekarang merasa telah dapat memahami kesadaran awal yang sebenarnya, tetapi
tanyakan kembali dalam diri. Apakah perasaan telah memahami memang benar-benar kesadaran atau
hanya merupakan salah satu jelmaan
pikiran yang meniru sebagai kesadaran. Pahamilah bahwa kesadaran sejati
sesungguhnya tidak menimbulkan perasaan dan pikiran, bila perasaan timbul maka
kesadaran sejati akan tertutupi.
Demikian pula jangan berputus asa melewati tahap awal pembinaan
kesadaran sejati ini, karena dengan pembinaan yang lebih baik lagi, anda pasti
dapat berlari meninggalkan jelmaan pikiran yang selalu membayangi kesadaran.
Bilamana sudah dapat berlari, maka kita tidak lagi diperdaya oleh
perasaan takut dan senang yang timbul diwaktu pertama kali belajar
melangkahkan kaki di masa bayi.