Berguru Pada Yang Salah
(dikutip dari buku "Kisah-Kasih
SpiritualBagian 10
- Wisnu Prakasa")
Seorang umat bertanya, "Saya menyadari bahwa
bila seorang murid bersalah, maka Gurunya ikut menanggung. Demikian pula
dengan Guru yang salah, maka muridnya akan turut menanggung. Dan bila kita
mengetahui Guru kita di jalan yang salah, bukankah sangat mengkhawatirkan dan
menakutkan. Bagaimana mengatasinya ?".
"Memang dalam beberapa sekte aliran
tertentu, dikenal keyakinan yang demikian. Tetapi mengapa harus dikhawatirkan
dan ditakutkan ? Bukankah pembinaan ini sangat baik pula untuk menjaga samaya
?" tanya saya balik.
"Dengan karma buruk saya saja, saya sudah
sangat khawatir dan takut. Apalagi ditambah dengan karma buruk Guru saya. Saya
tidak sanggup membayangkannya."
"Oh…saya mengerti." ungkap saya.
"Saya benar-benar memohon petunjuk.",
katanya dengan nada memelas.
"Apa yang harus ditakutkan, bukankah sejak
awal anda mengetahui keadaan Guru anda. Dan anda harus menerima alamiah
keadaan demikian. Inilah ikatan jodoh dan karma."
"Tetapi pada awalnya Guru saya sangat baik,
dan saya tidak mengetahui akan berubah."
"Bila anda terlahir dengan ayah seorang
pembunuh, apakah anda dapat menolak ?"
"Tentu saja tidak." jawabnya cepat.
"Lalu apakah anda langsung menganggap,
beliau bukan sebagai ayah anda ?" tanya saya kembali.
"Tidak mungkin."
"Sebagai seorang anak, apakah pantas
memutuskan hubungan dengan orang tua?"
"Tentu tidak."
"Walau orang tua kita bekas pembunuh, tetapi
orang tua tidak bersalah kepada anda. Dan kita tidak mengetahui permasalahan
yang sebenarnya. Yang pasti, anda masih berhutang budi kepada orang tua yang
telah melahirkan anda."
"Benar sekali.", jawabnya dengan perlahan.
"Baik, inilah yang dinamakan jodoh. Bila
anda telah mengetahui bahwa ayah anda adalah seorang pembunuh. Sebagai seorang
anak berbakti, anda harus berusaha untuk tidak menjadi pembunuh. Jika tidak,
anda akan menyulitkan diri anda sendiri, dan orang tua. Bukankah sebaiknya,
anda semakin berusaha berbuat kebaikan sebanyak mungkin. Sehingga karma baik
anda, dapat mengimbang karma buruk dari karma buruk yang dilakukan ayah anda.
Kita harus lebih banyak mendoakan agar orang tua kita berada di jalan yang
benar."
"Benar sekali." jawabnya dengan terseyum.
"Lalu, apakah anda mengetahui bahwa adapula
istilah: Sekali menjadi Guru Spiritual, selamanya menjadi Guru Spiritual ?
Inilah yang dikatakan bahwa ikatan Guru Spiritual, lebih kuat dibanding ikatan
dengan orang tua kandung. Dimana orang tua melahirkan tubuh kita, tetapi Guru
Spiritual melahirkan dan membimbing jiwa kita."
"Saya pernah mendengarnya."
"Walaupun kadang kita harus berpisah dengan
seorang Guru Spiritual, dan bertemu dengan seorang Guru Spiritual yang baru.
Kita harus dapat menghargai dan menghormati Guru Spiritual kita yang
sebelumnya. Jangan setelah berpisah dan mendapat Guru Spiritual yang baru,
lalu kita dapat sembarangan berkata tentang keburukan Guru Spiritual kita yang
sebelumnya. Tanpa bantuan dan bimbingan Guru Spiritual yang sebelumnya, apakah
mungkin kita dapat berjodoh dengan Guru kita yang baru ?"
"Benar.", jawabanya sambil tersenyum
kembali.
"Inilah yang dimaksud, sekali menjadi Guru
Spiritual, selamanya menjadi Guru Spiritual. Dan kita selamanya harus
menghargai dan menghormati beliau. Kita tidak pantas untuk mengungkapkan
keburukan beliau, apalagi berkata buruk tentang orang tua kita ?"
"Benar, jadi sebaiknya kita harus bertemu
lagi dengan Guru Spiritual yang lampau."
"Masalahnya sebenarnya bukan tidak ingin bertemu atau
tidaknya. Tetapi jika kita bertemu dengan guru kita terdahulu. Apakah kita
merasa senang atau takut? Berhati-hatilah, jika merasa takut. Pahamilah apa
yang kita takutkan ? Waspada dengan rasa takut yang timbul, karena rasa takut
yang timbul biasanya berasal dari perbuatan yang salah. Inilah yang membuat
kita takut untuk bertemu kembali dengan beliau.Dan inilah pentingnya untuk
menjaga sakralitas samaya, antara murid terhadap guru, juga sebaliknya." Jelas
saya, sambil mengakhiri percakapan dengan umat ini.