Home
Back
Info Dharma
Galleria

Doa Permohonan
(dikutip dari buku "Kisah-Kasih Spiritual -  Wisnu Prakasa")

Seorang umat baru, datang menjelaskan bahwa dirinya telah cukup lama mempelajari pengetahuan spiritual. Dirinya telah banyak belajar dari guru-guru besar terkenal di berbagai negara. Umat ini dengan semangatnya menceritakan panjang-lebar tentang berbagai pengalamannya bersama para guru besarnya.

Setelah hampir satu jam penuh mendengarkan dengan serius kisah umat ini yang sangat luar biasa anda unik. Kemudian umat ini meminta bantuan pandangan saya tentang suatu hal. Dengan rendah hati saya mengatakan bahwa bila memang saya mengetahuinya, pasti saya kan membantunya.

Kemudian umat ini menjelaskan bahwa banyak dari guru besarnya selalu menekankan kepadanya bahwa disaat melakukan puja bhakti dan berdoa, janganlah memohon ataupun meminta apapun. Inilah kunci terpenting didalam puja bhakti, ungkap umat ini kepada saya.

“Bagaimana menurut anda pribadi ?” tanya saya kepadanya.

“Bukankan bilamana kita masih banyak memohon ataupun meminta, berarti kita masih mempunyai banyak keinginan. Hal ini menunjukan tingkat pencapaian spiritual yang masih rendah.” ungkapnya lagi bersemangat.

“Saya juga setuju terhadap pendapat para Guru Besar anda. Disaat anda melakukan puja bhakti ataupun berdoa, apakah anda ingat bahwa anda tidak boleh memohon ?” kata saya.

Dengan tersenyum umat ini menjawab “Saya pasti menyadarinya sebelum memulai puja-bhakti, nasehat guru selalu saya ingat untuk tidak memohon.”

“Dan disaat anda berpuja bhakti dan berdoa, anda selalu sadar bahwa memohon hanya dilakukan oleh mereka yang tingkat spiritualnya masih rendah”

“Benar sekali, saya menyadari sepenuhnya. Memohon hanya dilakukan oleh mereka yang mencapai tahap awal dalam puja bhakti.”, tegasnya bersemangat.

“Bila direnungkan lagi, apakah anda menyadari bahwa sebelum anda memulai puja bhakti, selalu timbul gambaran untuk tidak memohon. Bukankah hal ini sebenarnya juga merupakan salah satu penghalang yang mengotori pikiran. Gambaran pikiran yang timbul untuk memohon ataupun tidak memohon adalah tidak berbeda.“

“Benar, tetapi saya selalu menolaknya terus.”

“Sangat baik bilamana anda dapat menolak gambaran yang timbul. Tetapi bagaimana anda dapat menolak gambaran dan ikatan pikiran yang membuat anda merasa lebih tinggi dari yang lain karena selalu merasa telah berhasil menolak gambaran untuk tidak memohon. Bukankah hal ini akhirnya juga menjerat anda untuk selalu membanggakan diri sendiri. Dan maaf, mungkin secara tidak langsung anda selalu memandang rendah umat lain yang berpuja bakti dengan cara memohon, bukankan hal ini juga sebagai debu-debu pikiran.” lanjut saya.

“Tapi...., bukankah memohon adalah…….. “, lelaki ini diam tertunduk. Tampak dirinya hanyut dalam pikirannya. Saya menunggu hingga beberapa saat tetapi dirinya masih diam tertunduk.

“Memohon ataupun tidak memohon tidaklah berbeda, keduanya dapat mengotori pikiran. Inilah Dharma Mulia yang kadang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Saya hanya dapat menunjukkan tetapi diri anda sendiri yang harus dapat membersihkan debu-debu pikiran.” Ungkap saya memecahkan keheningannya.

Umat ini tetap berdiam diri hingga beberapa menit, tampak kebingungan yang luar biasa dalam dirinya. Segala teori yang dipegangnya selama ini tidak lagi dapat menolak atau menerima. Inilah suatu sifat alamiah yang akan banyak dialami para umat dalam memahami kehidupan spiritual yang sesungguhnya.

Tiba-tiba, dia berkata “Terima kasih, terima kasih atas penjelasannya, Guru telah menyadari kekeliruan saya atas maksud dan tujuan dari kata-kata guru saya sebelumnya. Saya benar-benar tidak menyadari hal ini selama ini.”

“Semua karena karma dan berkah dari seluruh Guru Besar anda sebelumnya. Saya gembira karena anda telah menyadari arti sesungguhnya dari ajaran para Guru Besar anda. Satu hal lagi, saya tidak pernah merasa sebagai guru anda. Cukup panggil nama saja.“

“Mohon maaf, tetapi saya tetap menganggap sebagai guru saya. Tanpa bimbingan guru, tidak mungkin saya dapat memahami ajaran-ajaran ini.” Jawabnya dengan pelahan.

“Semua tergantung jodoh dan karma masing-masing. Bilamana telah tiba waktunya, anda pasti akan memahaminya. Bilamana belum waktunya, saya juga tidak dapat berbuat apa-apa. Apa artinya sebutan guru dan murid, bila masing-masing tidak memahami tugas dan kewajiban yang sebenarnya.”

Saya banyak menjumpai mereka yang belajar dari para guru besar secara tidak sadar telah terjerat dalam kata-kata yang diungkapkan oleh sang guru. Mereka hanya mencontoh apa yang diperbuat gurunya, dan mencernakah ungkapan guru mereka dalam batas pandangan dan pengertian mereka sendiri.

Tanpa disadari semua ini dapat menjadi penghalang bagi dirinya, bila mereka tidak memahami dengan bijaksana. Ini adalah hal yang wajar dalam proses belajar, hanya berapa lama mereka dapat menyadarinya dan keluar dari halangan ini ?

Ingatlah bahwa anda tidak sama dengan guru anda, dan kesadaran sejati anda tidak sama dengan kesadaran sejati guru anda. Kesadaran anda masih sangat terbatas tetapi kesadaran sejati guru anda adalah tanpa batas, karena guru anda telah mencapai tingkat pencapaian lebih tinggi dari anda. Berhati-hatilah bilamana hanya mencontoh apa yang guru anda perbuatan, tanpa memahami kebenaran sejati yang sesungguhnya.

Timbulnya penghalang ini sesungguhnya dapat diperkecil dan dipersingkat bilamana ikatan batin antara guru dan murid telah terjalin erat. Untuk mencapai ikatan batin yang kuat antara guru dan murid, di perlukan suatu ikatan samaya. Dimana ikatan samaya murid terhadap guru membawa suatu manfaat yang luar biasa besarnya bagi sang murid dalam menjalani kehidupan spiritual.

Demi kebaikan seluruh mahluk, dan dengan kerendahan hati. Saya mengingatkan kembali kepada para umat yang sedang menjalani kehidupan dharma agar selalu memegang teguh dan menjaga samaya terhadap guru anda masing-masing.
 

— Namo Uci Yauw Ce Cin Mu Ta Thien Cun —

 


  Dharma Center 'BUNDA MULIA' 
Jakarta, INDONESIA

  Vihara 'Yauw Ce Cin-Mu'  
Hua Lien, TAIWAN.

Copyright © 2001 Yayasan Dharma Mulia Persada Indonesia. All rights reserved.