Home
Back
Info Dharma
Galleria

Inkarnasi Para Guru Besar
(dikutip dari buku "Kisah-Kasih Spiritual Bagian XIII : Wisnu Prakasa")

Secara pribadi, saya juga mengakui banyaknya inkarnasi dari para Guru Besar hingga Mahluk Suci di alam manusia. Banyaknya inkarnasi dari para Mahluk Suci, juga dikenal dan dipahami oleh para umat dari Dewi Yauw Ce Cin Mu. Bahkan pada salah satu sutra Yauw Ce Cin Mu, juga menjelaskan adanya 18 Mahluk Suci yang diutus oleh Mahadewi Yauw Ce Cin Mu, untuk turun dan terlahir di alam manusia. Inkarnasi para Mahluk Suci di alam manusia, sebagai sinar penjelmaan welas asih dan kebijaksaan untuk membantu para mahluk dari segala sumber penderitaannya, membantu para mahluk dalam pembinaan Dharma Mulia, dan membimbing para mahluk untuk menuju Pencapaian Agung dan KeBuddhaan.

18 Mahluk Suci yang diutus ini, akan terlahir di alam manusia. Sehingga, mereka akan terlahir di dunia ini untuk menjalankan tugas mulia dan perintah Maha Dewi Yauw Ce Cin Mu. Sehingga sejak lampau hingga sekarang ini, kita dapat mengenal banyak sekali kehidupan para Master Spiritual dan Guru-Guru Besar yang sangat luar biasa. Segala perbuatan, ucapan, dan kesadarannya benar-benar mencerminkan penjelmaan dari sinar welas asih dan kebijkasaan dari para Mahluk Suci.

Walaupun inkarnasi juga banyak dijelaskan dalam ajaran Dharma Mulia dari MahaDewi Yauw Ce Cin Mu, tetapi dalam mengajarkan dan menjelaskan tentang inkarnasi, saya lebih mempertimbang lebih dalam lagi dampaknya. Dalam hal ini, saya lebih mengikuti gaya dari Guru saya, Wanita Berjubah Biru. Dimana Beliau lebih menekankan pembinaan diri sekarang ini juga, dibandingkan hanya sebatas mengungkapkan masalah inkarnasi dan pencapaian tingkat spiritual kehidupan yang lampau.

Wanita Berjubah Biru sudah banyak sekali mengungkapkan kehidupan masa lampau dan inkarnasi sebelumnya dari para mahluk. Bahkan Beliau dapat menyebutkan lebih dari 5 inkarnasi sebelumnya dari setiap mahluk, dengan mudahnya. Bahkan Beliau, dapat menjelaskan lebih detail lagi masalah kehidupan masa lampau setiap mahluk. Tetapi sangat disayangkan oleh Beliau, ternyata jerih payah Beliau justru lebih banyak berdampak negatif, dibandingkan manfaat baiknya. Sehingga, Beliau tidak lagi mau mengungkapkan masalah inkarnasi para mahluk tanpa alasan tertentu. Saya sendiri telah beberapa kali diingatkan oleh Beliau, agar jangan mengungkapkan masalah inkarnasi para mahluk tanpa alasan dan tujuan yang jelas.

Saya memahami dengan jelas, mengapa Wanita Berjubah Biru melarang saya, untuk mengungkapkan masalah inkarnasi para mahluk tanpa dasar yang kuat. Semua kendala ini, telah saya lihat dan saksikan sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai mahluk yang terlahirkan di alam manusia, yang terlahirkan dengan Kesadaran yang selalu terperdaya oleh Kemelekatan Gambaran Pikirannya, sehingga manusia tidak lagi dapat mengetahui dan memahami kehidupan-kehidupan masa lampaunya. Ketidak tahuan ini, membuat manusia menjadi semakin penasaran untuk mengetahui misteri kehidupan masa lampaunya.

Walau pada awalnya,  mungkin hanya sebatas rasa penasaran dan ingin tahu sekilas tentang keadaan pada kehidupan masa lampaunya, tetapi mereka tidak sadar dan tidak memahami akibat dan dampak selanjutnya, yang kadang sangat besar sekali pengaruhnya dalam kehidupan spiritual dan kehidupan sehari-hari mereka.

Bagi umat yang diberitahukan bahwa kehidupan masa lampaunya telah mencapai tingkat tertentu, maka setelah mendengar pernyataan yang demikian. Seolah-oleh, dalam sekejab itu juga, dirinya langsung merasa mencapai tingkat spiritualnya kembali dengan mudahnya. Padahal justru sebaliknya,  yang sebenarnya seketika itu juga, dirinya diperdaya oleh gambaran kemelekatan pikirannya.

Tetapi bagi umat yang diberitahukan bahwa kehidupan masa lampaunya, mengalami kehidupan yang kurang atau tidak baik. Umat ini akan langsung sedih, kecewa dan antipai, karena mereka sebelumnya nengharapkan sesuatu yang berlebihan, sehingga mereka tidak dapat menerima kenyataannya. Seharusnya mereka dapat bersyukur, bahwa dirinya mempunyai kesempatan kedua dalam kehidupan sekarang ini. Mereka seharusnya memahami bahwa kesulitan yang timbul sekarang, adalah benih dari perbuatan masa lampaunya. Sehingga mereka dapat berpikir secara positif, untuk tidak melakukan perbuatan-buatan buruk lagi, agar dikehidupan yang akan datang. Untuk itu seharusnya, mereka semakin lebih giat lagi melakukan pembinaan Dharma, melakukan perbuatan baik, dan menghindari perbuatan buruk; sehingga mereka tidak akan mengalami banyak penderitaan dan mencapai kehidupan yang lebih bahagia dan lebih baik di masa yang akan datang.

Demikian pula dengan inkarnasi-inkarnasi para Master Spiritual dan Guru-Guru Besar, yang memiliki rasa Welas Asih yang sangat luar biasa, sehingga mereka berani terlahirkan ke alam manusia ini, demi menolong mahluk-mahluk lainnya. Walau dirinya sudah memiliki tingkat pencapain Spiritual yang  tinggi, tetapi setelah terlahirkan di alam manusia, maka secara alamiah Kesadaran mereka akan terperdaya lagi oleh alamiah Pikirannya. Hal ini memang terjadi secara alamiah bagi seluruh mahluk, dimana penyebab untuk dapat terlahirkan di 6 alam tunimbal lahir ini, adalah timbulnya Pikiran yang memperdaya Kesadaran.

Ketika para Master dan Guru Spiritual yang terlahirkan kembali di alam manusia, maka secara alamiah Gambaran Kemelekatan Pikiran mereka telah memperdaya Kesadarannya. Dalam hal ini, saya dapat mengatakan bahwa Walaupun Bodhisattva Avalokitesvara, bila Beliau turun ke alam manusia dengan jalan terlahirkan dari seorang ibu manusia. Sang bayi inkarnasi dari Avalokitesvhara tetap akan memiliki Gambaran Kemelekatan Pikiran secara alamiah. Sehingga bayi inkarnasi ini tetap akan merasakan lapar sehingga timbul keinginan menyusui, dan bila tidak terpenuhi maka akan menangis. Demikian pula kecenderungan bayi, yang selalu ingin berdampingan atau dalam pelukan ibunya.

Saya dapat mengatakan bahwa alamiah pikiran dan kesadaran seorang bayi inkarnasi mahluk suci dan bayi inkarnasi bukan mahluk suci, tidak jauh berbeda sifat alamiahnya. Hanya keadaan luar yang lebih tampak perbedaaannya seperti: kondisi kesehatan, memiliki orang tua yang penuh kasih sayang, tempat kelahiran yang lebih baik, dsb.

Dengan memahami alamiah dari kelahiran kembali di alam manusia yang demikian, maka mahluk suci yang terlahirkan di alam manusia, mempunyai suatu resiko yang cukup tinggi dipedaya oleh Kemelekatan gambaran pikirannya. Walaupun mereka mempunyai karma baik dan berkah yang luar biasa dari Pencapaian Spiritualnya di masa lalu sebagai mahluk suci. Tetapi, bila mereka tidak menyadari sepenuhnya akan alamiah kemelekatan pikirannya, dan bila hanya menghabiskan karma baiknya saja. Mereka juga tidak lepas dari resiko terjebak selamanya dalam 6 alam tunimbal lahir.

Walau karma baik mereka sangat besar, sehingga mereka dapat bertemu dengan berbagai Guru-Guru Besar lainnya yang membantu mereka untuk mencapai kembali pencapaian mereka seperti sebelumnya. Tetapi, bila mereka tidak membina kehidupan spiritualnya kembali, maka semua Ajaran-ajaran tersebut tidak dapat menyelamatkan mereka dari kemelekatan Pikirannya. Akhirnya, sia-sia saja tujuan Mulia mereka untuk membimbing para mahluk lain dari alam tunimbal lahir, bahkan mereka saja tidak sanggup menyelamatkan dirinya sendiri lagi.

Di depan altar Bunda Mulia, di Vihara Hua Lien, Wanita Berjubah Biru pernah mengingatkan kepada saya bahwa, jangan mengungkapkan atau membongkar inkarnasi dari para mahluk, terlebih lagi inkarnasi para mahluk suci tanpa alasan yang kuat. Hal ihi justru dapat menjerumuskan mereka. Untuk membantu para inkarnasi dari mahluk-mahluk suci, memberikan bimbingan pembinaan Ajaran Dharma adalah yang terbaik. Bila mereka sudah dapat mencapai kembali Pencapaiannya, mengetahui atau tidak mengetahui masa lampaunya, tidak lagi dapat memperdayanya.

Namo Uci Yauw Ce Cin Mu Ta Thien Cun

 


  Dharma Center 'BUNDA MULIA' 
Jakarta, INDONESIA

  Vihara 'Yauw Ce Cin-Mu'  
Hua Lien, TAIWAN.

Copyright 2001 Yayasan Dharma Mulia Persada Indonesia. All rights reserved.