Telah menjadi suatu tradisi umum di banyak
vihara bahwa donatur besar dan utama selalu diangkat menjadi Pengurus
Kehormatan. Jabatan ini sebagai perlambangan tanda terima kasih atas perhatian
dan kerelaan para donatur dalam membantu berlangsungnya perputaran roda
dharma.
Saya mencoba menjelaskan sesuatu, yang mana
kiranya bukan bermaksud untuk merendahkan para donatur atau tidak menghargai
jerih payah dan pengorbanan para donatur yang telah memberikan waktu, tenaga,
dan materi pada berlangsungnya pemutaran Roda Dharma. Semua ini saya berani
ungkapkan demi kebaikan bersama, karena saya ingin membantu menyempurnakan
segala persembahan yang telah diberikan dengan iklas oleh para donatur.
Kiranya persembahan para donatur dapat
benar-benar bermanfaat baik secara duniawi, rohani dan spiritual. Dan semoga
seluruh persembahan mereka, dapat menjadi warisan spiritual dikehidupan
sekarang dan yang akan datang.
Saya percaya bahwa banyak donatur yang tidak
ingin diketahui oleh umum. Mereka yang pada dasarnya demikian, bagaikan
menanam bibit hingga tumbuh menjadi pohon. Mereka tidak hanya merawat bibit
dan pohonnya tetapi juga menjaganya dari segala macam penghalang dari luar
lainnya seperti hama dan panasnya matahari yang berlebihan. Sehingga mereka
akan mendapatkan hasil buah karma baik yang lebih sempurna.
Walaupun mereka sendiri tidak mengharapkan
apapun dari pemberiannya, tetapi telah menjadi alamiah hukum alam
(sebab-akibat). Apa yang kita tanam (perbuat), kita juga yang akan memetik
hasilnya.
Untuk para Dermawan, anda bagaikan
mendirikan sebuah rumah. Setelah beberapa lama, rumah ini tentu akan rusak
dimakan waktu sedikit demi sedikit. Bilamana atapnya bocor, apakah tindakan
anda selanjutnya ? Tentunya anda tidak rela rumah yang anda dirikan rusak,
maka anda secara spontan akan memberikan bantuan lagi untuk memperbaiki atap
yang bocor tersebut. Tentunya niat anda sangat baik dan tulus, semua orang
akan memuji kedermawanan dan ketulusan hati anda.
Disaat anda mendapat jabatan Pengurus
kehormatan, dan mendengar dari sesama umat tentang atap yang bocor. Apakah
spontanitas dalam memberikan dana untuk memperbaikinya sama seperti sebelumnya
? Ataukah anda memberikan bantuan karena merasa suatu kewajiban sebagai
Pengurus Kehormatan ? Hanya andalah yang mengetahui kebenarannya.
Perbuatan sama dilakukan, dan seluruh biaya
sama dikeluarkan. Tetapi hanya diri sendiri yang dapat membedakan arti
keiklasan yang ada didalamnya.
Saya hanya ingin menyampaikan pesan bahwa
jabatan kehormatan yang kita terima, kadangkala dapat menjadi penghalang yang
tersembunyi. Saya bukannya menginginkan para pengurus kehormatan untuk melepas
jabatan, tetapi saya mengharapkan agar para pengurus kehormatan tidak
menyia-nyiakan rasa keiklasan, ketulusan, dan dana yang memang telah ada pada
diri anda. Sangat baik bilamana anda tetap menjadi pengurus kehormatan dan
tetap memiliki rasa iklas dan tulus yang sebenarnya.
Bilamana mereka yang menjabat pengurus
kehormatan, dapat menggunakan jabatan ini sebagai alat untuk membantu
pemutaran Roda Dharma, maka anda merupakan mahluk yang memang terberkati.
Anda mempunyai kesempatan yang jarang dimiliki oleh umat lainnya, dimana
para pengurus kehormatan mempunyai kesempatan yang baik untuk membina secara
langsung ajaran dharma. Anda tidak hanya pendukung kebenaran dharma tetapi
anda turut bersama-sama memutar roda dharma, sungguh jarang sekali mahluk yang
memiliki berkah seperti ini.
Untuk para pengurus vihara, saya
mengharapkan agar tidak membedakan umat dari segi materi, baik dari status
sosial maupun dari besarnya sumbangan yang diberikan. Walaupun sudah menjadi
tradisi di Indonesia, saya tetap mempunyai kepercayaan bahwa masih banyak
pengurus vihara yang tidak memanfaatkan tradisi Pengurus kehormatan sebagai
alat untuk mengikat para donatur. Biarkanlah tradisi Pengurus kehormatan
secara alamiah terbentuk tanpa mengandung unsur keterikatan yang tersembunyi.
Didalam bisnis, adalah hal yang umum untuk
memberikan service dan pelayanan yang lebih baik bagi pelanggan yang
memberikan profit lebih besar. Tetapi vihara adalah tempat kebenaran dan
pemutaran roda dharma, bukan tempat untuk berbisnis. Seluruh umat mempunyai
derajat dan martabat yang sama di hadapan para Budha, Bunda Mulia, dan
Bodhisatva. Mereka yang memberikan profit dan dana yang lebih besar, tidak
berarti harus diberikan service dan pelayanan yang lebih dari umat lainnya.
Perhatian, keiklasan dan ketulusan hati para donatur, nilainya jauh melebihi
dari sumbangan yang diberikannya.
Bagi para umat lain yang memang belum
memiliki berkah materi berlebihan, jangan merasa rendah hati terhadap para
donatur. Masih banyak jalan dan cara untuk membaktikan diri anda pada dharma.
Jangan kita berprasangka kurang baik terhadap para dermawan, karena sumbangan
yang mereka berikan sebenarnya telah meringankan dan mempermudah tugas dharma
seluruh umat. Bersyukurlah terhadap keiklasan para dermawan, karena pemutaran
roda dharma akan menjadi jauh lebih baik.
Hanya tingkat spiritual para umat yang
pantas mendapatkan tempat dan pelayanan yang lebih. Walaupun demikian mereka
yang memiliki tingkat spiritual yang lebih tinggi, jangan menjadi sombong dan
menganggap rendah umat lainnya. Semua jabatan dan pelayaran yang diberikan
umat lain, dapat menjadi penghalang bilamana anda terikat dengannya.
Wanita Berjubah Biru selalu mengingatkan kepada saya untuk
tidak terikat dengan persembahan yang diberikan para umat. Biarkanlah para
umat memberikan persembahan dengan keiklasannya. Segala persembahan akan
dipersembahkan kembali kepada Bunda Mulia, sehingga keiklasan hati mereka akan
menjadi berkah yang tidak terhingga bagi mereka.