Home
Back
Info Dharma
Galleria

Jabatan Kehormatan
(dikutip dari buku "Kisah-Kasih Spiritual Bagian 2-  Wisnu Prakasa")

Telah menjadi suatu tradisi umum di banyak vihara bahwa donatur besar dan utama selalu diangkat menjadi Pengurus Kehormatan. Jabatan ini sebagai perlambangan tanda terima kasih atas perhatian dan kerelaan para donatur dalam membantu berlangsungnya perputaran roda dharma.

Saya mencoba menjelaskan sesuatu, yang mana kiranya bukan bermaksud untuk merendahkan para donatur atau tidak menghargai jerih payah dan pengorbanan para donatur yang telah memberikan waktu, tenaga, dan materi pada berlangsungnya pemutaran Roda Dharma. Semua ini saya berani ungkapkan demi kebaikan bersama, karena saya ingin membantu menyempurnakan segala persembahan yang telah diberikan dengan iklas oleh para donatur.

Kiranya persembahan para donatur dapat benar-benar bermanfaat baik secara duniawi, rohani dan spiritual. Dan semoga seluruh persembahan mereka, dapat menjadi warisan spiritual dikehidupan sekarang dan yang akan datang.

Saya percaya bahwa banyak donatur yang tidak ingin diketahui oleh umum. Mereka yang pada dasarnya demikian, bagaikan menanam bibit hingga tumbuh menjadi pohon. Mereka tidak hanya merawat bibit dan pohonnya tetapi juga menjaganya dari segala macam penghalang dari luar lainnya seperti hama dan panasnya matahari yang berlebihan. Sehingga mereka akan mendapatkan hasil buah karma baik yang lebih sempurna.

Walaupun mereka sendiri tidak mengharapkan apapun dari pemberiannya, tetapi telah menjadi alamiah hukum alam (sebab-akibat). Apa yang kita tanam (perbuat), kita juga yang akan memetik hasilnya.

Untuk para Dermawan, anda bagaikan mendirikan sebuah rumah. Setelah beberapa lama, rumah ini tentu akan rusak dimakan waktu sedikit demi sedikit. Bilamana atapnya bocor, apakah tindakan anda selanjutnya ? Tentunya anda tidak rela rumah yang anda dirikan rusak, maka anda secara spontan akan memberikan bantuan lagi untuk memperbaiki atap yang bocor tersebut. Tentunya niat anda sangat baik dan tulus, semua orang akan memuji kedermawanan dan ketulusan hati anda.

Disaat anda mendapat jabatan Pengurus kehormatan, dan mendengar dari sesama umat tentang atap yang bocor. Apakah spontanitas dalam memberikan dana untuk memperbaikinya sama seperti sebelumnya ? Ataukah anda memberikan bantuan karena merasa suatu kewajiban sebagai Pengurus Kehormatan ? Hanya andalah yang mengetahui kebenarannya.

Perbuatan sama dilakukan, dan seluruh biaya sama dikeluarkan. Tetapi hanya diri sendiri yang dapat membedakan arti keiklasan yang ada didalamnya.

Saya hanya ingin menyampaikan pesan bahwa jabatan kehormatan yang kita terima, kadangkala dapat menjadi penghalang yang tersembunyi. Saya bukannya menginginkan para pengurus kehormatan untuk melepas jabatan, tetapi saya mengharapkan agar para pengurus kehormatan tidak menyia-nyiakan rasa keiklasan, ketulusan, dan dana yang memang telah ada pada diri anda. Sangat baik bilamana anda tetap menjadi pengurus kehormatan dan tetap memiliki rasa iklas dan tulus yang sebenarnya.

Bilamana mereka yang menjabat pengurus kehormatan, dapat menggunakan jabatan ini sebagai alat untuk membantu pemutaran Roda Dharma, maka anda merupakan mahluk yang memang terberkati. Anda mempunyai kesempatan yang jarang dimiliki oleh umat lainnya, dimana para pengurus kehormatan mempunyai kesempatan yang baik untuk membina secara langsung ajaran dharma. Anda tidak hanya pendukung kebenaran dharma tetapi anda turut bersama-sama memutar roda dharma, sungguh jarang sekali mahluk yang memiliki berkah seperti ini.

Untuk para pengurus vihara, saya mengharapkan agar tidak membedakan umat dari segi materi, baik dari status sosial maupun dari besarnya sumbangan yang diberikan. Walaupun sudah menjadi tradisi di Indonesia, saya tetap mempunyai kepercayaan bahwa masih banyak pengurus vihara yang tidak memanfaatkan tradisi Pengurus kehormatan sebagai alat untuk mengikat para donatur. Biarkanlah tradisi Pengurus kehormatan secara alamiah terbentuk tanpa mengandung unsur keterikatan yang tersembunyi.

Didalam bisnis, adalah hal yang umum untuk memberikan service dan pelayanan yang lebih baik bagi pelanggan yang memberikan profit lebih besar. Tetapi vihara adalah tempat kebenaran dan pemutaran roda dharma, bukan tempat untuk berbisnis. Seluruh umat mempunyai derajat dan martabat yang sama di hadapan para Budha, Bunda Mulia, dan Bodhisatva. Mereka yang memberikan profit dan dana yang lebih besar, tidak berarti harus diberikan service dan pelayanan yang lebih dari umat lainnya. Perhatian, keiklasan dan ketulusan hati para donatur, nilainya jauh melebihi dari sumbangan yang diberikannya.

Bagi para umat lain yang memang belum memiliki berkah materi berlebihan, jangan merasa rendah hati terhadap para donatur. Masih banyak jalan dan cara untuk membaktikan diri anda pada dharma. Jangan kita berprasangka kurang baik terhadap para dermawan, karena sumbangan yang mereka berikan sebenarnya telah meringankan dan mempermudah tugas dharma seluruh umat. Bersyukurlah terhadap keiklasan para dermawan, karena pemutaran roda dharma akan menjadi jauh lebih baik.

Hanya tingkat spiritual para umat yang pantas mendapatkan tempat dan pelayanan yang lebih. Walaupun demikian mereka yang memiliki tingkat spiritual yang lebih tinggi, jangan menjadi sombong dan menganggap rendah umat lainnya. Semua jabatan dan pelayaran yang diberikan umat lain, dapat menjadi penghalang bilamana anda terikat dengannya.

Wanita Berjubah Biru selalu mengingatkan kepada saya untuk tidak terikat dengan persembahan yang diberikan para umat. Biarkanlah para umat memberikan persembahan dengan keiklasannya. Segala persembahan akan dipersembahkan kembali kepada Bunda Mulia, sehingga keiklasan hati mereka akan menjadi berkah yang tidak terhingga bagi mereka.

Namo Uci Yauw Ce Cin Mu Ta Thien Cun

 


  Dharma Center 'BUNDA MULIA' 
Jakarta, INDONESIA

  Vihara 'Yauw Ce Cin-Mu'  
Hua Lien, TAIWAN.

Copyright 2001 Yayasan Dharma Mulia Persada Indonesia. All rights reserved.