Jambhala
(dikutip dari buku
"Kisah-Kasih Spiritual Bagian XIII : Wisnu Prakasa")
Pada suatu waktu beberapa ratus tahun yang lampau, Dewi
Kwan-Im menyuruh 4 dari 5 anaknya, yaitu: Ganesha, Jambhala Kuning, Jambhala
Putih, dan Jambhala Hitam untuk turun ke dunia membantu para manusia. Dan
hanya Jambhala Biru, sebagai anak yang paling bungsu, harus menemani Sang Dewi
di Khayangan.
Para Jambhala yang merupakan jelmaan dari Anak-anak Dewi
Kwan-Im, merupakan Bodhisatva tingkat delapan, yang mempunyai berkah
rejeki yang berlimpah tanpa habis. Mendengar perintah dari Sang Dewi Kwan-Im,
maka ke-empat Jambhala lalu memutuskan untuk memilih wilayah yang akan di
bantunya.
Pertama dikunjunginya negara Antartika di kutub utara, dia
mencoba untuk membantu suku eskimo. Setelah tinggal beberapa hari, Ganesha yang
paling tertua di antara mereka, menyatakan bahwa belalainya tidak dapat
diluruskan kedepan karena telah membeku.
Merasa kasihan terhadap Ganesha, Lalu para Jambhala
memutuskan untuk berpindah dari Antartika, mencari tempat lainnya. Kali ini
diputuskannya untuk pindah ke Afrika, maka dan mereka membangun tempat tinggal
di Afrika.
Setelah beberapa minggu tinggal di Afrika, Jambhala hitam
menanyakan kepada ke tiga saudaranya: "Saudara-saudaraku, mengapa rasanya kalian
sengaja menahan diriku sendiri dirumah ? Saya telah bosan dirumah, karena selalu
disuruh menunggu dirumah terus sendirian, sementara kalian pulang hingga larut
malam."
"Mohon maaf. Kami memang sebenarnya tidak ingin membawamu
keluar karena kami sangat khawatir tidak dapat menemukan dirimu bila tersesat di
luar. Mereka semua memiliki warna kulit yang mirip dengan dirimu." kata Jambhala
Putih.
"Kalau begitu lebih baik kita berpindah tempat lagi." usul
Jambhala Hitam.
Mereka semua setuju karena merasa kasihan juga akan Jambhala
Hitam yang tidak dapat keluar rumah terlebih-lebih di malam hari. Maka
diputuskannya untuk berpindah ke negeri paman Sam, Amerika.
"Negeri ini sangat indah dan luas, dan kulit mereka tidak
sama dengan kulitku. Mari kita tinggal disini." kata Jambhala Hitam dengan wajah
berbinar-binar.
Mereka semua setuju, dan memutuskan untuk tinggal di Amerika.
Setelah beberapa bulan, Jambhala Kuning mengusulkan untuk pindah kembali.
"Mengapa engkau ingin berpindah dari negeri yang indah
begini? Orang-orang disini selalu menghargai hak asasi dan hukum ditegakkan
dengan benar, bukankah dengan demikian mereka juga telah membina ajaran Dharma
dalam kehidupan sehari-harinya ?." tanya Jambhala Putih.
"Maaf saudaraku, hal ini bukan karena masalah Dharma tetapi
masalahnya karena tikus (mongoose) kesayanganku tidak mau makan lagi. Dia telah
mabuk keju karena setiap hari makanannya pasti ada kejunya. Hamburger ada
kejunya, makan hotdog ada keju, makan pizza ada keju, makan sandwich ada keju,
maka kentang bakar ada kejunya, sepagetti ada keju, lasagna ada keju. Sekarang
dirinya takut untuk keluar, karena hidungnya menjadi sensitif setiap mencium bau
keju." Jelas Jambhala Kuning.
Merasa kasihan akan nasib binatang kesayangan Jambhala
Kuning, semua memutuskan untuk berpindah tempat lagi. Diputuskannya Australia
sebagai tempat barunya, dimana orang Australia masih mirip dengan orang Amerika,
tetapi makanan Australia tampak tidak selalu memakai keju, dan lebih
bervariasi macam dan rasanya.
"Negeri ini sangatlah unik, dari makanan yang rebus
hingga yang di panggang, dari makanan eropa hingga makanan asia semuanya ada.
Dan lagi, binatang-binatangnya juga sangat unik dan lucu." kata Jambhala Kuning.
Setelah beberapa bulan tinggal di Australia, Jambhala Putih
mengajukan usul untuk pindah dari negeri Australia. Para jambhala lainnya
terkejut dan menanyakan “ Mengapa engkau berniat pindah dari negeri yang indah
ini ?”
“Saudaraku, sebenarnya sayapun menyukai negeri ini. Tetapi
saya merasa kasihan terhadap kodok kesayanganku. Kodokku sangat stress sekali,
sehingga menolak untuk keluar bermain lagi. Anak-anak disini tidak ingin bermain
dengan kodokku. Anak-anak Australia tidak pernah mengenal istilah lompat kodok,
mereka hanya mengetahui lompat kangguru. Sungguh kasihan kodokku yang malang,
engkau tidak mempunyai teman disini.” Jelas Jambhala Putih.
Merasa kasihan akan nasib saudaranya, mereka memutuskan untuk
pergi sekalian saja ke Asia.
"Asia mempunyai banyak sekali kebudayaan yang beraneka ragam,
bagaimana kalau kita membangun tempat sendiri-sendiri." Usul Jambhala Hitam.
"Saya sangat setuju, walaupun jauh dimata tetapi dekat
dihati. Selama kita berada di asia, kita semua saling bertetangga." Kata
Jambhala Kuning.
Akhirnya mereka memutuskan untuk mencari tempat
sendiri-sendiri sesuai dengan keinginannya, dan saling berjanji untuk bertemu
kembali 5 tahun kemudian.
Lima tahun kemudian, mereka semua berkumpul kembali menepati
janjinya.
"Ganesh, bagaimana keadaanmu di India ?" tanya Jambhala
Kuning.
"Saya suka dengan India, karena mereka semua selalu
menyanyikan lagu untukku." Kata Ganesha yang menyukai musik.
"Bagaimana denganmu Jambhala Kuning, bukankah engkau di
negeri China ?" tanya Jambhala Hitam.
"Saya sangat menyukai rumahku, rumahku dibersihkannya dua
kali sehari. Mereka bahkan mengepel lantai rumahku dengan tubuhnya sendiri."
Kata Jambhala Kuning dengan bangga (maksudnya para umat melakukan total anjali
dihadapannnya).
"Kalau saya menyukai negeri Tibet, karena mereka semua
memakai pakaian merah. Hanya diriku, satu-satunya yang berwarna hitam. Jadi
mereka mudah sekali mengenali saya walau jauh sekalipun. Saya juga menyukai
keindahan gunung Himalaya, sehingga setiap minggu saya selalu berkemah di gunung
Himalaya yang penuh salju. Tetapi diriku yang hitam kelam, tetap saja dapat
dilihat dari kaki Gunung. Lucunya, walau saya berada di puncak gunung himalaya,
atau saya telah berada di kota, mereka selalu saja memanggilku dengan meniupkan
terompet yang sangat panjang dan besar. Mungkin mereka berpikir saya ini tuli
kali, kok manggilnya pake terompet panjang segala." ungkap Jambhala Hitam dengan
tersenyum.
"Kalau saya menyukai negeri Hong Kong, karena saya suka
sekali jalan-jalan di shopping mall. Walau saya engga pernah belanja
sekalipun, saya selalu dianggap sebagai pelanggan kehormatan disetiap toko-toko.
Bahkan sekarang ini, mereka telah menyediakan tempat khusus untuk saya di setiap
tokonya." kata Jambhala Putih dengan bangga.
Demikian kisah fiktif yang saya kemukakan, kiranya cerita ini
bukan bermaksud untuk merendahkan golongan tertentu. Cerita ini hanya untuk
menunjukkan bahwa keunikan suatu tempat juga mempengaruhi kehidupan masyarakat
tempat tersebut. Inilah membuktikan bahwa Kondisi Tempat dan Lokasi dapat
mempengaruhi kehidupan seseorang. Mereka yang dapat memanfaatkan pengetahuan
tentang Fung-Shui tentunya dapat menikmati kelebihan tempat tersebut.
Kiranya kita semua dapat mensyukuri keadaan lingkungan kita
dan menjaganya agar selalu serasi dengan energi Alam Semesta.
— Namo Uci Yauw Ce Cin Mu Ta
Thien Cun —