Karma Bagaikan Segelas Air
(dikutip dari buku "Kisah-Kasih Spiritual Bagian
8 - oleh: Wisnu Prakasa")
(disadur ulang berdasarkan ajaran Sang Buddha)
Sebagai kelahiran di alam manusia, kita masih memiliki buah
karma dari seluruh perbuatan masa lampau kehidupan kita. Dimana karma baik
akan menjadikan kehidupan kita lebih bahagia, dan karma buruk akan membuat
kehidupan kita lebih menderita.
Memiliki berkah karma baik dalam kehidupan ini, merupakan
suatu berkah yang sangat luar biasa. Dengan memiliki berkah karma baik dalam
kehiduan sekarang ini, berarti kita juga memiliki kesempatan untuk menanam
kembali bibit karma baik sebanyak-banyak. Sehingga kehidupan yang akan datang,
dapat lebih baik lagi.
Bagaikan seorang yang memiliki berkah rejeki karma baik,
sehingga kehidupan yang sekarang memiliki berkah materi yang lebih. Berkah
yang dimiliki seharusnya dapat digunakan kembali untuk menanam karma baik.
Dengan rezeki yang sedikit berlimpah, berarti mereka mempunyai modal untuk
dapat lebih beramal dan membantu mahluk lain yang membutuhkannya.
Sehingga segala perbuatan amal dan bantuan yang merekan
lakukan, bagaikan mempersiapkan harta warisan untuk kehidupan yang akan
datang. Dengan demikian, dirinya telah terus menjaga dan memiliki warisan
berkah yang tidak putus disetiap kehidupan yang akan datang hingga Pencapaian
Agung Sejati.
Tetapi bagaimana dengan karma buruk yang kita miliki dari
kehidupan kita yang masa lampau ?
Pada awal kelahiran manusia, tubuh bagaikan satu gelas yang
hanya masih memiliki sedikit air didalamnya dengan sedikit rasa asin.
Selanjutnya segala perbuatan, ucapan, dan pikiran manusia
yang akan menentukan rasa yang sesungguhnya dari air didalam gelas ini.
Dengan berbuat kebaikan, kita mengumpulkan karma baik
bagaikan menuang sesendok air putih kedalam gelas. Dengan berbuat keburukan,
kita mendapat karma buruk, bagaikan menuang sesendok garam kedalam gelas.
Walau kita telah memiliki rasa asin sejak awal kelahiran
kita, tetapi kita jangan berputus asa untuk berusaha menuangkan air putih
kedalam gelas kita. Walau garam yang telah didalam gelas tidak dapat
dikeluarkan lagi, tetapi dengan lebih banyak air putih yang kita tuangkan ke
dalam gelas ini. Rasa asin tersebut akan semakin jauh berkurang, bahkan tidak
melepas kemungkian akan benar-benar dapat terasa bagaikan tawar kembali karena
jumlah air yang semakin banyak.
Saya mengajak para umat untuk selalu merenungkan ini.
Sebagai manusia kadang telah berbuat kesalahan, jangan kita
menyesalkan yang berkepanjangan. Tetapi selanjutnya harus berusaha
mengumpulkan karma baik sebanyak-banyak untuk mengimbangi perbuatan buruk
kita. Dan tentunya kita harus menghindari perbuatan buruk tersebut.