Home
Back
Info Dharma
Galleria

Kebenaran Adalah Milik Seluruh Mahluk
(dikutip dari buku "Kisah-Kasih SpiritualBagian 9 -  Wisnu Prakasa")

Saya banyak mendengar beberapa umat Buddha yang menanyakan tentang adanya latihan meditasi yang diajarkan oleh beberapa pastur, romo dan beberapa pemimpin dari agama lain. Walau saya sebenarnya tidak ingin mengomentari apapun tentang hal ini, tetapi banyaknya perbincangan yang telah saya denar dikalangan para umat yang mulai cenderung mengarah pada pandangan yang sudah kearah negatif. Maka saya memutuskan untuk memberikan pandang yang sebenarnya dengan permasalahan ini.

Dalam beberapa bulan ini, saya mulai banyak mendengar dari para umat yang cenderung mengatakan, bahwa agama dan aliran lain mulai mengambil dan mengikuti cara-cara meditasi dari ajaran agama Buddha. Bahkan adapula umat yang dengan bangganya, mengatakan bahwa inilah bukti hebatnya agama Buddha sehingga agama lain juga menirunya. Para umat lainnya juga mulai membenarkan pendapat-pendapat yang demikian, sehingga mereka secara tidak langsung telah ikut memandang rendah agama dan aliran lain.

Walau pembinaan dan pengalaman spiritual saya masih sangat rendah, tetapi demi Kebijaksanaan dan Cinta Kasih Mulia agar para mahluk dapat memahami kebenaran sesungguhnya. Saya berusaha mengungkapkan dengan singkat akan kebenaran yang sesungguhnya dalam pandangan saya secara pribadi.

Latihan dan pembinaan meditasi adalah suatu cara pembinaan bagi para mahluk untuk mulai memahami keadaan dirinya dengan tenang. Didalam ketenangan meditasi, para mahluk mulai dapat lebih memahami Zat Yang Maha Esa, memahami jati dirinya, memahami kesadaran sejatinya, memahami keadaan dan kondisinya, memahami kembali segala ucapan dan perbuatannya, memahami makna dan tujuan hidupnya, memahami kebenaran yang sesungguhnya, memahami ketenangan, memahami keindahan, memahi alamiah, memahami semesta alam, dsb.

Disini saya melihat dengan jelas bahwa meditasi adalah sebagai alat yang membantu para mahluk untuk dapat lebih memahami seluruh kebenaran alamiah. Dan kebenaran alamiah bukan monopoli dari satu golongan atau aliran, karena kebenaran alamiah sudah ada pada awalnya dan tidak diciptakan atau dibuat oleh satu golongan dan aliran manapun.

Saya dapat katakan bahwa baik agama Tao, Buddha, Hindu, dsb, mereka tidak menciptakan meditasi. Tetapi mereka hanya memberikan label pembinaan kebenaran tersebut sebagai MEDITASI.

Meditasi yang sebenarnya bukan hanya dilakukan dengan duduk bersila, dan sambil membaca mantra. Menjalankan pembinaan meditasi yang sebenarnya, dapat dijalankan dalam berdoa, zikir, merenung, puja-bhakti, sholat, sembahyang, dsb. Meditasi yang sebenarnya juga dapat dilakukan disaat berdiri, duduk, berbaring, bergerak, berdiam, dsb.

Hal ini bagaikan Matahari, yang telah ada pada awalnya. Di Indonesia, kita memberikan namanya sebagai matahari. Di Amerika, mereka memberikan namanya sebagai ‘The Sun’. Walau kita memberikan nama ‘matahari’, tetapi matahari tetap hak dari seluruh mahluk di seluruh bangsa. Dan tidak terbatas pada hak dan monopoli dari mereka yang memberikan nama dan label ‘Matahari’.

Demikian pula dengan penduduk Indonesia, yang sebagian besar memakan nasi dari beras yang dimasak. Beras ini berasal dari tanaman yang dinamakan ‘tanaman padi’. Tetapi kita tidak bisa mengatakan bahwa padi, yang dimasak menjadi nasi adalah milik dan monopoli orang Indonesia. Bagaimana dengan bangsa-bangsa lainnya, yang juga memakan nasi dari beras. Apakah mereka akan dikatakan sebagai bangsa yang meniru bangsa Indonesia ?

Inilah kebenaran alamiah dari NASI, yang juga dimiliki dan dimakan oleh bangsa-bangsa lainnya. Inilah kebenaran alamiah dari MATAHARI, yang dapat dinikmati, dilihat dan dirasakan oleh bangsa-bangsa lainnya. Demikian pula dengan kebenaran alamiah MEDITASI, yang memang sudah dikenal dan dapat dibina oleh seluruh mahluk dari berbagai golongan dan aliran.

 

— Namo Uci Yauw Ce Cin Mu Ta Thien Cun —

 


  Dharma Center 'BUNDA MULIA' 
Jakarta, INDONESIA

  Vihara 'Yauw Ce Cin-Mu'  
Hua Lien, TAIWAN.

Copyright © 2001 Yayasan Dharma Mulia Persada Indonesia. All rights reserved.