Kendala Awal Pemahaman Kesadaran
(dikutip dari buku "Kisah-Kasih
Spiritual- Wisnu Prakasa")
Kadang dalam tahap awal pemahaman Kesadaran, para pembina
Ajaran Kesadaran Sejati akan mulai merasakan keadaan tenang dan hening yang tidak berupa,
tidak berubah
dan tidak berbentuk. Terasa bagaikan berada dalam keadaan akan kekosongan,
keadaan tanpa kemelekatan dan ikatan apapun, dan bahkan kadang terasa
bagaikan dalam keadaan tanpa dualisme kemelekatan gambaran pikiran. Keadaan ini
kadang dapat dicapai dengan mudah pada saat pertama kali mengalaminya, tetapi
selanjutnya keadaan ini tampak sangat sulit atau tidak dapat dicapainya lagi.
Para pembina Kesadaran Sejati, "Berhati-hatilah bila mengalami keadaan yang demikian.
Ini merupakan proses alamiah yang pasti akan dirasakan dalam tahap awal pembinaa."
Pahamilah bahwa
Kesadaran yang sesungguhnya bukan suatu hal yang kadang dapat dicapai, dan
kadang tidak dapat dicapai. Jika kita mengalami hambatan ini, berarti keadaan
tenang dan hening yang kita alami bukan merupakan pencapaian dari Kesadaran yang
sebenarnya. Walaupun terasa bagaikan kekosongan dan tanpa kemelekatan apapun.
Sebenarnya kekosongan ini adalah tidak kosong, karena perasaan yang dirasakan
ini sebenarnya adalah kemelekatan itu sendiri.
Jika kita merasa kadang mencapainya, dan kadang tidak mencapainya. Dua perasaan
ini sebenarnya merupakan kemelekatan baru yang timbul. Dengan merasa telah
mencapainya, kita merasa telah mendapatkan sesuatu. Dengan merasa tidak
mencapainya, kita merasa kekurangan sesuatu. Semua perasaan yang timbul ini,
merupakan penjelmaan gambaran pikiran yang telah memperdaya kita, walau tidak
kita sadari sepenuh.
Pencapaian Kesadaran yang sebenarnya, terbebasan dari perasaan mencapai atau
tidak mencapai. Dimana Kesadaran merupakan dasar alamiah yang paling sederhana,
dan Kesadaran ini adalah jati diri yang sesungguhnya dari para mahluk. Sehingga
Kesadaran bukan sesuatu yang dapat dicapai atau tidak dicapai. Kesadaran yang
sebenarnya adalah keadaan alamiah kebenaran yang sesungguhnya, dengan memahami
timbulnya gambaran pikiran, tanpa memperdulikan dan memberikan ikatan apapun
pada pikiran itu.
Di dalam tahap awal memulai praktek, akan banyak gambaran-gambaran pikiran yang timbul silih berganti. Tetapi, cukup dipandang
tanpa dianalisa ataupun dipertimbangkan, dan bersandarlah selalu pada Kesadaran, yang merupakan “Si pengenal”
pikiran-pikiran itu. Tanpa memperdulikan, bereaksi atau memberikan arti apapun kepada
gambaran-gambaran pikiran itu, seperti halnya seorang kakek memperhatikan anak-anak kecil
yang tengah bermain.
Bertahan dalam keadaan ini, maka kita akan masuk dalam keadaan Kesadaran Jernih tanpa pikiran
secara alamiah. Ketika semua ini tiba-tiba hening dalam kekosongan, pada saat yang sama sebuah
kebijaksanaan yang meliputi alamiah kesadaran akan muncul, jernih, segar, jelas dan lapang.
Di dalam tahap awal pembinaan ini, pasti akan banyak terjadi pencampur-bauran Kesadaran dengan
pengalaman rasa kebahagiaan, kejernihan dan ketiadaan pikiran; tetapi apabila kita tetap bertahan tanpa sedikitpun terperdaya dengan rasa senang, bangga, puas, terikat, pengharapan, ragu, bimbang, dsb. Maka Pembinaan Kesadaran Sejati kita tidak akan menyimpang.
— Namo Uci Yauw Ce Cin Mu Ta
Thien Cun —