Manakah Yang Benar
(dikutip dari buku "Kisah-Kasih
SpiritualBagian 14
- Wisnu Prakasa")
Seorang umat yang sudah berumur diatas 50 tahun, mengunjungi
saya di rumah. Kedatangan umat ini untuk bertukar pengalaman tentang
Ajaran-ajaran spiritual yang telah didapatnya dari Guru-Guru spiritualnya yang
berasal dari berbagai aliran dan kepercayaan. Setelah hampir setengah jam, umat
ini dengan serius menceritakan pengalaman dan pembinaan spiritualnya, saya tetap
saja banyak berdiam diri, karena tidak berniat untuk memberikan komentar apapun
padanya. Walaupun beberapa kali saya ditanya akan pandangan saya terhadap Ajaran
tertentu, dengan singkat saya hanya dapat memberikan jawaban yang sama “Sangat
bagus sekali.”
Setelah hampir satu jam penuh, umat ini baru mulai menyadari
bahwa saya tidak berniat sedikitpun akan mengomentari setiap pertanyaannya yang
menyinggung Ajaran-Ajaran masing-masing aliran dan kepercayaan.
Dan akhirnya umat ini berkata kepada saya, “Kali ini saya
mohon petunjukan yang sebenar-benarnya. Walaupun saya banyak mempelajari
pengetahuan agama dan spiritual, saya tetap saja bingung akan kebenarannya,
karena setiap aliran memiliki pandangan yang berbeda-beda……….” dan masih panjang
lagi kata-kata yang diucapkannya, yang intinya menyatakan kebingungan akan
kehidupan spiritualnya, sehingga dirinya akhirnya berpindah-pindah dari satu
aliran ke aliran lainnya.
Umat ini kemudian mengemukakan keraguannya, “…………. Manakah
yang benar, karena Aliran Kepercayaan menyatakan bahwa Sang Hyang yang
menciptakan segalanya, Umat Budha mengatakan bahwa ‘Mind’ yang menjadikan
segalanya, Di dalam Sutra menyatakan bahwa seluruhnya berasal dari Kekosongan.
Para Philosophi mengatakan bahwa ‘Consciousness’ yang membuat segalanya. Mohon
jawablah pertanyaan saya yang satu ini, karena apa yang saya pelajari selama ini
tidak dapat menjelaskan keraguan saya ini.” pintanya kepada saya dengan nada
dan wajah yang sangat memelas.
Melihat raut muka umat ini yang demikian memelas, dan
mempertimbangkan umur beliau yang sudah tidak muda lagi. Saya akhirnya terpaksa
mempertimbangkan untuk memberikan komentar juga atas pertanyaannya.
Dengan sedikit perlahan agar umat ini dapat lebih memahami
ucapan saya, saya berkata:
“Jika anda ingin mencari Kebenaran akan siapa yang
menjadikan segalanya, anda harus memahami dasar dari segala Kebenaran. Dan ini
telah tertulis dalam Kalimat Pertama dari Bab Pertama dalam Tao Te Ching: ‘Tao yang dapat
dijelaskan, adalah bukan Tao yang sebenarnya.
Jadi jika ada Kebenaran yang
dapat dijelaskan akan ‘Siapakah yang menjadikan segalanya’, sudah pasti bukan
Kebenaran yang sesungguhnya, dan berarti bukan yang menjadikan segalanya yang
sebenarnya.
Jika anda dapat memahami kebenaran ucapan saya, inipun berarti
bukan Kebenaran yang sesungguhnya pula. Jadi manakah yang benar ?”
Mendengar jawaban yang cukup panjang lebar dan sangat membingungkan
dari saya, umat ini terdiam dan membisu saja selama kurang lebih 3 menit.
Tiba-tiba dirinya berkata, “Betapa bodohnya saya selama ini!”, sehingga
saya agak terkejut dengan kata-katanya ini. Kemudian, umat ini langsung bangkit
dari kursinya dan menghormati saya seketika itu juga, sambil berkata, “Terima
kasih…terima kasih…atas bantuannya."
Sekarang, giliran saya yang tidak memahami, mengapa jawaban
saya yang sangat membingungkan itu, menjadi sedemikian besar maknanya bagi
dirinya. Mungkin ketidak pahaman saya akan apa yang baru saja saya katakan dan ketidak
tahuan saya dengan apa yang umat ini pahami dari jawaban saya yang demikian,
menjadi dirinya merasa adanya Kebenaran dalam pemahaman kehidupan spiritualnya.
Ternyata Kebenaran itu memang:
sangat sulit dijelaskan,
sangat
sulit diterima,
sangat sulit dilihat,
sangat sulit dirasakan,
sangat sulit dipahami,
apalagi dibuktikan.
— Namo Uci Yauw Ce Cin Mu Ta
Thien Cun —