Home
Back
Info Dharma
Galleria

Memberikan Persembahan
(dikutip dari buku "Kisah-Kasih Spiritual Bagian 10 - oleh: Wisnu Prakasa")

Seorang umat menanyakan tentang persembahan di vihara yang kadang ditolak oleh para pengurus vihara, karena persembahan mereka telah banyak yang sama. Bahkan ada beberapa vihara besar yang hanya memajang persembahan-persembahan mahal di altar, tetapi persembahan kecil hanya di kesampingkan atau disimpan di gudang saja.

Walaupun saya tidak memahami benar-benar permasalah dari vihara tersebut, tetapi banyak mendengar keluhan yang demikian dari berbagai umat. Inilah ringkasan cerita yang banyak saya dengar dari beberapa umat di berbagai vihara:

Seorang umat pergi berbelanja untuk membeli persembahan buah-buahan. Walau dengan uang yang terbatas, yang hanya mampu membeli beberapa buah saja. Kadang setiap toko buah akan dimasukinya untuk mendapat buah yang terbaik. Dengan cermat dan hati-hati pula, umat ini memilih satu-persatu buah yang menurutnya terbaik. Ketika mendapatkan buah yang baik, dengan rasa gembira yang luar biasa dipisahkannya buah tersebut dari yang lainnya.

Keiklasan dan ketulusan dalam memilih yang terbaik bagi persembahan di meja altar, merupakan suatu rasa kegembiraan dan ketulusan yang tidak dapat dilukiskan oleh mahluk lainnya. Inilah bukti akan berkah dari ketulusan hati, yang timbul dari niat baik dalam memberikan persembahan dan amal. Kegembiraan ini bukan diukur dari harga atau banyaknya, tetapi tergantung dari iklas dan tulusnya perbuatan kita. Dan kegembiraan dan kepuasan ini juga tidak dapat dibeli dengan apapun.

Kemudian dibawanya persembahan buah-buah ini ke vihara, untuk dipersembahkan di atas altar persembahan. Tetapi sungguh tidak terduga, ternyata pengurus vihara tersebut menyingkirkan persembahannya, dan tidak menaruh persembahannya di atas altar.

Tampak dengan tenangnya, tanpa emosi dan perasaan, para pengurus vihara sibuk menaruh berbagai persembahan buah-buah lain yang lebih mewah dan lebih banyak. Seketika itu juga dirinya langsung merasa minder, karena persembahannya tampak demikian kecilnya dibanding dengan persembahan umat-umat lain yang jauh lebih mewah dan banyak. Hati umat ini langsung terasa hancur, hanya kesedihan dan kekecewaan yang sangat luar biasa yang dirasakannya.

Semenjak kejadian itu, umat ini langsung berubah total. Dirinya tidak pernah lagi pergi berbelanja membeli buah-buah persembahan. Bahkan banyak umat lain yang mengalami kejadian yang serupa, langusng memutuskan untuk tidak akan memberikan persembahan lagi di altar persembahan.

Saya menghimbau kepada para umat yang demikian untuk memahami lebih lanjut:

  • Apakah kita harus mengorbankan pembinaan kehidupan spiritual kita untuk memberikan persembahan kepada para Mahluk Suci, hanya karena ulah dari oknum pengurus vihara yang demikian/ ?

  • Apakah kita harus mengorbankan seluruh berkah kebahagian dan kepuasan yang kita rasakan sejak awal memilih persembahan hingga sampai di depan altar persembahan, hanya karena ulah oknum pengurus vihara yang demikian ?

  • Apakah persembahan kita akan ditolak olah para Mahluk Suci, hanya karena oknum pengurus vihara tidak menaruhnya di atas altar persembahan ?

 

Bandingkan dengan kisah ini:

Ketika saya berada di Amerika, saya berniat ingin membawa pulang oleh-oleh sepatu baru kepada ibu saya. Saya kemudian pergi mengunjungi beberapa toko sepatu, untuk membeli sepasang sepatu baru.

Setelah mengelilingi beberapa toko, akhirnya saya menemukan sepatu yang sesuai dengan ibu saya. Segala rasa lelah ketika memilih sepatu, tidak saya rasakan sedikitpun. Bahkan terbayang rasa kegembiraaan dan kepuasan yang luar bisa, karena dapat menemukan sepatu yang sangat sesuai dengan ibu saya.

Ketika kembali ke Indonesia, saya menyerahkan sepasang sepatu ini kepada ibu saya. Dan saya mencoba memasangkannya kekaki ibu saya, ternyata sepatu ini tidak dapat masuk kedalam kaki ibu saya. Rupanya kaki ibu saya telah bertambah besar, karena beliau sudah bertambah berat badannya dibanding tahun lalu. Seketika itu pula perasaan hati saya bagaikan disambar halilintar, rasanya hancur berkeping-keping.

Rasa kekecewaan yang sangat luar biasa, bukan karena harga sepatu tersebut atau rasa lelah saya mencari sepatu. Rasa kecewa saya karena oleh-oleh saya tidak dapat membahagiakan ibu saya. Rasanya, walau saat ini harus mengeluarkan uang sepuluh atau seratus kali lipat untuk menjadikan sepatu ini pas di kaki ibu saya, pasti akan saya lakukan. Saat ini saya mengetahui bahwa kebahagiaan yang saya inginkan saat ini, tidak dapat dibeli dengan harga berapapun.

Merasakan kekecewaan saya yang demikian, ibu saya langsung menghibur saya. Dirinya memaksa untuk memasukan kakinya dengan susah payah kedalam sepatu ini. Walaupun saya mengetahui, walaupun dapat masuk, tidak akan nyaman dipakainya.

Ibu saya bahkan mencoba menghibur dengan mengatakan akan diet, sehingga kakinya dapat pas disepatu ini. Dan beliau juga menghibur saya dengan mengatakan, bahwa sepatu ini pasti akan pas diukuran adik perempuan saya. Segala macam alasan keluar darinya, semuanya untuk menghibur saya. Bukankan ini menjadi suatu kebalikan, dimana seharusnya saya yang menghibur beliau.

Dibalik moral cerita ini, saya ingin mengajak seluruh mahluk untuk bersama-sama saling membantu dan bekerja sama dalam pembinaan kehidupan spiritual hingga mencapai Kesempurnaan Agung Sejati.

Pertama, Ibu saya dengan susah payah mencoba menghibur saya, karena oleh-oleh saya yang tidak dapat dipakainya. Dan saya benar-benar melihat dan memahami bahwa sesungguhnya beliau telah menerima oleh-oleh saya dengan gembira dan sepenuh hati. Walaupun sepatunya kekecilan, tetapi ketulusan dan keiklasan saya jauh melebihi dari sejuta sepatu baru baginya.

Demikian pula dengan para Mahluk Suci, mereka semua bagaikan ibu dari para umat di vihara. Persembahan dari para anak-anaknya, yaitu para umat di vihara. Tidak akan pernah dipandang dari mewah dan banyaknya. Tetapi ketulusan dan keiklasan hati nurani para umat yang memberikan persembahan, jauh lebih berharga dari segala persembahan yang dapat dibeli dengan uang.

Untuk ini saya mengajak para para pengurus vihara dapat lebih intropeksi diri. Para pengurus vihara harus memahami bahwa salah satu kewajiban pengurus, adalah membantu dan membimbing para umat sehingga segala pembinaan kehidupan spiritual para umat dapat semaksimal mungkin. Bukan sebaliknya, yang harus membanding-bandingkan persembahan yang satu dengan yang lainnya. Bukan mengumpulkan persembahan yang mewah dan banyak, dan menyingkirkan persembahan yang murah dan sedikit.

Pahamilah bahwa para Mahluk Suci yang lebih mempunyai hak dengan persembahan tersebut, tidak akan pernah melakukan perbuatan yang demikian. Mengapa para pengurus dapat terjerumus dengan hal yang demikian ?

Tetapi seharusnya para pengurus vihara menyadari kewajibannya untuk berusaha menjadikan seluruh persembahan umat dengan maksimal dan sebaik mungkin. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara kordinasi yang baik, salah satunya dengan memberikan penjelasan lebih awal kepada para umat akan macam dan banyaknya persembahan yang dibutuhkan. Sehingga para umat dapat saling bekerja sama untuk melengkapi persembahan yang benar-benar dibutuhkan.

Kedua, Saya memahami permasalahan oleh-oleh sepatu ibu saya terjadi, karena kesalahan saya yang tidak menanyakan ukuran kaki ibu saya yang sekarang terlebih dahulu. Bila saya menanyakan terlebih dahulu, kepada ibu saya. Tentu saya tidak akan kecewa dan sedih, juga sepatu yang saya beli tidak sia-sia. Walaupun saya dapat mengasih adik saya, tetapi kebahagian saya sudah tidak seperti pada awalnya.

Dengan ini saya menghimbau kepada para umat yang ingin memberikan persembahan, agar dapat lebih aktif menanyakan kepada para pengurus akan kebutuhan yang lebih penting bagi vihara. Para pengurus tentu lebih mengetahui kekurangan yang masih dibutuhkan bagi vihara. Dengan demikian, persembahan kita akan lebih berguna dan bermanfaat bagi seluruh umat dan kegiatan vihara. Persembahan yang demikian, akan jauh lebih bermanfaat dan berguna.

Ketiga, persembahan materi memang nyata dimata kita. Tetapi masih banyak cara lain untuk memberikan persembahan kepada para Mahluk Suci. Dengan membantu membersihkan meja altar persembahan dan mengaturnya dengan baik, juga merupakan suatu persembahan. Inilah yang dinamakan persembahan tenaga. Persembahan lainnya, yaitu persembahan kesadaran. Salah satu contoh persembahan kesadaran, adalah dengan membaca mantra-mantra persembahan. Dan masih banyak lagi macam-macam persembahan lainnya yang dapat dilakukan.

Dengan demikian, para umat tidak boleh memiliki rasa minder hanya karena melihat persembahan umat lainnya lebih mewah dan lebih banyak. Walaupun persembahan materi kita jauh lebih kecil, tetapi kita masih dapat memberikan persembahan-persembahan lainnya. Rasa minder yang demikian adalah suatu halangan bagi kita, dan harus kita hilangkan.

Kadang kita merasa minder karena kita sebenarnya mampu memberi yang lebih, tetapi kita tidak melakukannya. Dan kita mengetahui bahwa umat lain yang lebih tidak mampu dari kita, dapat memberikan lebih baik dari kita. Walaupun sebenarnya rasa minder yang demikian juga tidak dapat dibenarkan, karena rasa minder yang demikian timbul bukan karena setelah membandingkan dengan persembahan umat lainnya.

Rasa minder yang timbul seharusnya timbul sejak awal dalam diri sendiri, karena kita sendiri telah mengetahui bahwa kita memang tidak benar-benar iklas dan tulus dalam memberikan persembahan. Lalu ternyata terbukti, karena umat yang tidak mampu ternyata lebih iklas dan tulus dalam memberikan persembahan. Rasa minder yang demikian, saya tidak dapat memberikan komentar lebih jauh karena bersifat sangat pribadi.

Inilah yang dinamakan keiklasan dan ketulusan dari masing-masing para mahluk, dan setiap mahluk memiliki keiklasan dan ketulusan yang berbeda-beda. Yang mana yang lebih baik, dan yang mana yang kurang, hanya hati nurani mereka yang benar-benar mengetahuinya. Demikian dengan keiklasan dan ketulusannya, hanya hati nurani mereka yang dapat mengetahuinya. Kejujuran adalah kunci utama dalam keiklasan dan ketulusan.

Saya lebih melihat rasa minder yang timbul ini, sebagai suatu ukuran ketulusan dan keiklasan kita dalam standart yang lebih umum, agar kita dapat lebih intropeksi pada diri sendiri. Mungkin kita merasa pembinaan spiritual kita telah mencapai tahap yang tinggi, tetapi dengan melihat para mahluk lain juga dapat menapai tahap pembinaan spiritual seperti kita atau bahkan lebih baik. Kita akan menjadi lebih giat untuk membina kehidupan spiritual kita lebih baik lagi.

Namo Uci Yauw Ce Cin Mu Ta Thien Cun

 


  Dharma Center 'BUNDA MULIA' 
Jakarta, INDONESIA

  Vihara 'Yauw Ce Cin-Mu'  
Hua Lien, TAIWAN.

Copyright 2001 Yayasan Dharma Mulia Persada Indonesia. All rights reserved.