Home
Back
Info Dharma
Galleria

Membunuh Nyamuk
(dikutip dari buku "
Kisah-Kasih Spiritual -  Wisnu Prakasa")

Disaat menjelang sore, kita menutup pintu dan jendela rapat-rapat. Selain untuk mencegah adanya pencurian, kita juga mencegah adanya nyamuk yang masuk kedalam rumah. Nyamuk merupakan binatang yang kecil, tetapi juga menjadi binatang yang sangat menjengkelkan manusia dengan gigitannya.

Berbincang-bincang tentang masalah si kecil nyamuk yang selalu menjengkelkan ini. Timbul suatu pertanyaan kecil tetapi besar dampaknya, karena masing-masing pihak mempunyai pandangan yang saling berbeda yaitu, ”Mengapa kita tidak boleh membunuh nyamuk, bukankah nyamuk berbahaya bagi kesehatan ?”

Sebagai umat pengikut Bunda Mulia, kita tidak boleh melakukan suatu perbuatan yang mengakibatkan penderitaan bagi mahluk lain. Perbuatan membunuh mahluk lain berarti kita telah menyebabkan penderitaan bagi mahluk yang kita bunuh, terlebih-lebih bila kita melakukan perbuatan membunuhnya dengan sengaja dan sadar. Walaupun hanya membunuh nyamuk yang kecil, hal ini termasuk dalam perbuatan yang mengakibatkan penderitaan bagi nyamuk tersebut. Tetapi bukankah jika kita tidak membunuhnya maka nyamuk akan mengakibatkan penderitaan bagi manusia ?

Sebagai manusia yang mempunyai akal-budi untuk berpikir lebih baik, maka seharusnya berusaha mencari solusi lain yang lebih baik. Nyamuk adalah mahluk yang tidak mempunyai akal-budi seperti manusia, maka para nyamuk tidak pernah terpikir untuk mencari makan lain selain darah. Para nyamuk tidak menyadari bahwa setetes darah dapat mengakibatkan kematian baginya.

Demikian dengan manusia yang bangga mempunyai akal-budi, apakah pantas demi setetes darah harus mengorbankan satu nyawa ciptaan Yang Maha Kuasa. Walaupun hanya nyawa seekor nyamuk, tetapi tetap sebagai mahluk hidup ciptaan Yang Maha Kuasa.

Untuk mencegah terjadinya pembunuhan terhadap nyamuk, kita harus berusaha untuk melakukan sesuatu yang sifatnya menghindari perbuatan membunuh. Sebaiknya kita melakukan pencegahan seperti menutup pintu dan jendela agar para nyamuk tidak dapat mengganggu kita. Dengan menghindari gigitan nyamuk berarti kita juga telah mencegah timbulnya kemungkinan terjangkit penyakit demam berdarah.

Membunuh nyamuk telah menjadi kebiasaan manusia sejak kecil, karena itu sangat aneh bilamana kita mendengar bahwa ada orang yang tidak berani membunuh nyamuk. Membunuh nyamuk yang kecil saja sudah tidak berani, apalagi membunuh lainnya. Bilamana kita dengan mudah membunuh nyamuk yang kecil, maka secara tidak sadar kita akan terbiasa untuk membunuh binatang lainnya tanpa mempertimbangkan perasaan dan penderitaan yang dirasakan oleh binatang tersebut.

Mereka yang terbiasa membunuh nyamuk dengan alasan karena nyamuk merugikan manusia, tentunya secara tidak langsung pikirannya juga dapat menerima berbagai alasan lainnya untuk membunuh semut. Semut bukan binatang yang selalu merugikan manusia, tetapi mengapa manusia juga terbiasa untuk membunuh seekor semut tanpa memiliki rasa kasihan terhadap mahluk yang lemah ini.

Walau pada awalnya hanya sebagai alasan yang didasari pada pedoman bahwa binatang tersebut pantas dibunuh karena merugikan manusia. Selanjutnya kebiasaan ini akan terbiasa untuk membunuh binatang lainnya tanpa rasa kasihan. Sungguh suatu perubahan hati-nurani yang mengarah pada unsur negatif, yaitu kehilangan rasa belas kasih terhadap sesama mahluk lainnya yang juga ciptaan dari Yang Maha Kuasa.

Perasaan bersalah ketika membunuh binatang tanpa alasan yang kuat tidak lagi diperdulikan, hal ini terjadi karena manusia telah terbiasa membunuh binatang. Yang sangat disayangkan dimana masyarakat umum tidak lagi memperdulikan pembunuhan dan penyiksaan terhadap binatang. Perbuatan yang tampaknya tidak berarati, akhirnya menjadi suatu kebiasaan yang berdampak sangat besar. Lihatlah berapa banyak seorang pemburu yang tidak berani membunuh nyamuk, adakah seorang yang mempunyai hobby memancing, tidak berani membunuh semut ?

Selain itu, bilamana kita pahami lebih lanjut. Masalah yang kita hadapi dalam membunuh nyamuk atau tidaknya, bukanlah mengenai perbuatannya. Dimana masalah sebenarnya yang kita hadapi adalah masalah emosi yang timbul atau tidaknya. Cobalah kita pahami, sebagai mahluk yang mempunyai pengetahuan untuk membedakan benar dan salah, dan sebagai mahluk yang diberikan kelebihan akan akal budi. Apakah pantas bilamana manusia harus terpengaruh oleh emosi untuk membunuh hanya demi setetes darah ?

Janganlah kita membiarkan timbulnya emosi yang pada awalnya sangat kecil, dan akhirnya dapat menjadi emosi yang besar didalam pikiran. Kebiasan yang tidak baik ini, dapat menjadikan pikiran kita terbiasa untuk melakukan perbuatan membunuh dan memandang rendah mahluk lainnya.

Kita dapat belajar untuk memaafkan para nyamuk tersebut. Bilamana kita dapat memaafkan nyamuk yang telah menggigit kita, maka secara tidak langsung kita akan terbiasa untuk memaafkan segala kesalahan mahluk lain. Dengan demikian kita telah berlatih diri untuk membina bodhicita dan rasa cinta kasih terhadap segala mahluk.

Bilamana kita sulit untuk melakukannya, berusahalah dengan mencoba untuk mengurangi perbuatan membunuh atau mencegah kemungkinan datangnya nyamuk. Sebagai contoh, bilamana kita terbiasa menyemprot obat anti-nyamuk pada malam hari, kita dapat menyemprotkannya pada sore hari sebelum para nyamuk mulai berdatangan kedalam rumah kita. Dengan demikian kita telah mencegah masuknya nyamuk dan juga mengurangi pembunuhan terhadap para nyamuk.

— Namo Uci Yauw Ce Cin Mu Ta Thien Cun —

 


  Dharma Center 'BUNDA MULIA' 
Jakarta, INDONESIA

  Vihara 'Yauw Ce Cin-Mu'  
Hua Lien, TAIWAN.

Copyright © 2001 Yayasan Dharma Mulia Persada Indonesia. All rights reserved.