Home
Back
Info Dharma
Galleria

Mencari Guru Sejati
(dikutip dari buku "Kisah-Kasih Spiritual Bagian 7 - oleh: Wisnu Prakasa")

Guru Sejati tidak dapat dicari.
Murid Sejati tidak dapat dipilih.
Guru dan Murid tidak mempunyai pilihan,
Dimana awal kesadaran mereka adalah satu
.

Telah hampir sepuluh tahun saya membina kehidupan spiritual dari Bunda Mulia dengan bimbingan guru saya, Wanita Berjubah Biru. Saya sangat bersyukur mendapatkan penurunan ajaran dari Bunda Mulia secara langsung. Dalam membina kehidupan spiritual, saya ingin membagi sedikit pengalaman saya yang masih terbatas.

Dalam mencari guru saya bersyukur mendapatkan guru yang benar. Wanita Berjubah Biru memang bukan termasuk guru yang pandai dalam mengajar dan menjelaskan dharma, beliau hanya seorang pertapa wanita gunung yang polos dan lugu tetapi beliau mempunyai hati yang tulus dan suci.

Dalam keterbatasannya sebagai guru yang tidak pandai mengajar, Wanita Berjubah Biru selalu memohon kepada Bunda Mulia untuk membimbing kehidupan spiritual saya. Dengan ketulusan seorang guru yang menginginkan muridnya mendapatkan ajaran yang terbaik, maka saya mendapatkan suatu berkah yang tidak ternilai, yaitu Bunda Mulia berkenan menurunkan kepada saya berbagai macam ajaran Dharma Mulia secara langsung (direct transmision). Penurun ajaran secara langsung yang saya dapatkan, sungguh suatu hal yang sulit saya jelaskan karena proses penurunan ajaran dari Bunda Mulia terjadi seketika.

Dimana Penurunan ajaran secara langsung, saya rasakan jauh lebih bermanfaat. Saya lebih memahami bahwa ajaran dharma memang bukan hanya untuk dipelajari dan diketahui sebagai pengetahuan umum lainnya, tetapi ajaran dharma harus dibina dan dihayati. Intisari ajaran Dharma yang sebenarnya jauh melampau konsep kata-kata yang dapat diungkapkan oleh pikiran manusia.

Berdasarkan pengalaman dan pembinaan spiritual saya yang masih sangat minim ini. Saya juga memahami bahwa kepandaian seorang guru spiritual dalam menjelaskan sutra, mantra, sejarah, silsilah, philosopi, filsafat tentang pengetahuan agama dan spiritual bukan suatu hal yang mutlak dan utama. Tetapi ikatan batin dan kesadaran antara guru dan murid, jauh lebih bermanfaat bagi pembinaan spiritual.Dimana menjaga samaya merupakan salah satu yang sangat penting untuk membina ikatan batin dan kesadaran.

Walaupun sekarang ini banyak guru spiritual yang pandai mengajar, dapat menghafal berbagai macam sutra, dan memiliki berpuluh-puluh mantra rahasia, tetapi semua ini bukan sebagai ukuran dalam pencapaian spiritual yang sesungguhnya. Pahami bahwa seorang murid harus mengikuti guru yang membimbing kehidupan spiritualnya pada ajaran, dan bukan kepada guru yang sebatas menguraikan ajaran dan berkotbah saja.

Tingkat pencapaian spiritual seorang guru, bukan karena penampilan dari apa yang dipakainya, bukan karena jubah yang dikenakannya, bukan karena gelar atau jabatannya, dan bukan hanya sebatas pengetahuannya dalam berdebat maupun berkotbah. Tetapi, tingkat pencapaian spiritual seorang guru jauh melampau semuanyua, dimana tingkat pencapaian spiritual seorang guru sejati hanya dapat diungkapkan dengan kejernihan kesadaran sejatinya. Sangat disayangkan, hal ini sangat sulit dipahami oleh para murid bahkan banyak para guru spiritual yang tidak menyadarinya.

Para guru spritual banyak terjerat hanya untuk menjadi pengkotbah yang pandai berpidato dan memainkan kata-kata yang indah. Sehingga mereka secara tidak langsung terjerat untuk saling berlomba-lomba menjaring umat sebanyak-banyaknya agar mendengarkan kotbahnya.

Walaupun pada dasarnya para guru spiritual memiliki hati yang mulia untuk mengajarkan dharma kepada para mahluk, tetapi harus dipahami bahwa ajaran dharma diturunkan oleh para mahluk suci bukan hanya sebatas dipelajari tetapi untuk dibina dan dihayati dalam kehidupan spiritual.

Demikian pula tingkat spiritual seorang guru tidak dapat diukur hanya dari penampilan atau kehebatan supernaturalnya. Pencapaian kehebatan terbesar dari seorang guru spiritual dapat dilihat dari cara seorang guru menunjukan dan membimbing para muridnya untuk mengenal dan mencapai kesadaran yang jernih.

Jika seorang guru ingin menunjukan mahluk lain akan kesadaran sejati, maka kesadaran sang guru harus telah terjernihkan terlebih dahulu. Sehingga sang guru dapat mengenal jati diri yang sesungguhnya. Inilah kehebatan dan mujijat terbesar dari seorang guru, karena tidak ada mujijat yang terbesar selain menemukan jati diri yang sesungguhnya. Dimana jati diri adalah kunci utama untuk membuka gerbang Nirvana.

Dilain pihak banyak para umat yang terjerat didalam lingkaran pencarian guru spiritual, sehingga banyak umat yang berkelana dari satu guru ke guru yang lain. Mereka bagaikan berbelanja mencobai pakaian dari satu ke toko lainnya di shopping-mall. Para umat yang demikian biasanya cenderung hanya memandang tingkatkan guru mereka hanya dari penampilan luar dan kehebatan sang guru dalam berkotbah, berpidato, dan leluconnya.

Banyak pula umat yang terjerat dan cenderung hanya mencari-cari dan membanding-bandingkan ajaran saja. Mereka terjerat untuk menilai ajaran hanya dari kekuatannya, keasliannya, kemurniannya, kemudahannya, dsb. Mereka tidak lagi menyadari telah terjerat kepada kefanatikan yang berlebihan, sehingga mereka hanya bangga mengakui apa yang dianggapnya lebih hebat, lebih asli, lebih murni, lebih mudah, dsb.

Mereka yang demikian bagaikan seorang petani yang hanya membanggakan kehebatan bibit padinya, dan sibuk mengejek petani-petani lainnya yang sedang menanam bibit padi yang jelek. Akhirnya, petani ini lupa untuk menanam bibit padi kebanggaannya, sehingga beberapa bulan kemudian petani ini mati kelaparan sementara petani lainnya sibuk dengan panennya.

Namo Uci Yauw Ce Cin Mu Ta Thien Cun

 


  Dharma Center 'BUNDA MULIA' 
Jakarta, INDONESIA

  Vihara 'Yauw Ce Cin-Mu'  
Hua Lien, TAIWAN.

Copyright 2001 Yayasan Dharma Mulia Persada Indonesia. All rights reserved.