Home
Back
Info Dharma
Galleria

Mendayung Melawan Arus Sungai
(dikutip dari buku "
Kisah-Kasih Spiritual -  Wisnu Prakasa")

Saya banyak mendengar ungkapan para umat yang mengatakan bahwa pembinaan spiritual bagaikan mendayung perahu melawan arus sungai. Dimana maksud mereka adalah bahwa mereka yang membina kehidupan spiritual harus terus membina kehidupan spiritualnya, bilamana berhenti maka akan kembali seperti keadaan semula lagi.

Banyak umat yang menjelaskan tentang keadaan pencapaian dari latihan spiritualnya. Dimana beberapa tahun yang lampau ketika masih giat berlatih meditasi dan berpuja-bhakti, mereka dapat merasakan ketenangan yang luar biasa. Tetapi setelah beberapa tahun tidak lagi bermeditasi dan berpuja bakti dengan giat, ketenangan tersebut tidak lagi dapat dirasakannya. Sekarang mereka menyesal sekali, karena tidak giat berlatih untuk mempertahankan pencapaiannya tersebut. Sedangkan sekarang ini, untuk bermeditasi dan berpuja-bhakti menjadi semakin sulit karena keadaan kondisi tubuhnya yang semakin melemah dimakan usia.

Sesungguhnya pernyataan mereka ada benarnya dan ada salahnya. Kebenaran yang ada adalah memang benar bagi mahluk yang menjalankan latihan metidasi dan puja-bhakti yang teratur dapat menimbulkan suatu perasaan ketenangan yang luar biasa.

Tetapi kesalahan yang ada adalah dimana mereka menganggap bahwa pencapaian ketenangan yang dirasakan dalam latihan meditasi tersebut adalah pencapaian ketenangan spiritual yang sesungguhnya. Sesungguhnya, pencapaian ketenangan yang mereka rasakan pada saat tersebut baru mencapai tahap ketenangan tubuh dan pikiran saja, bukan pencapaian ketenangan dari kesadaran sejati yang jernih.

Ketenangan yang timbul dari kesadaran, tidak akan pernah hilang bagi mereka yang telah memahami kesadarannya. Dimana para umat pembina kesadaran sejati selalu membina kesadarannya setiap saat dan setiap waktu dalam kehidupannya, pembinaan kesadaran sejati tidak terikat pada saat bermeditasi ataupun berpuja bhakti saja.

Walaupun mereka tidak lagi membinanya beberapa saat, kesadarannya tetap akan dipahaminya. Hanya kemelekatan pikiran yang mungkin semakin kuat memperdaya kesadarannya, karena dirinya tidak terus membina diri untuk selalu membersihkan segala kemelekatan pikiran yang timbul.

Masih banyak penyebab lainnya yang menjadikan umat ini merasakan kehilangan ketenangan yang dirasakan sebelumnya. Salah satu kendala lainnya yang banyak dialami oleh mereka adalah:

Disaat merasakan ketenangan yang luar biasa, dirinya tidak mencari ketenangan tersebut. Dengan menjalankan pembinaannya secara rutin, maka ketenangan yang luar biasa akan timbul secara alamiah. Tetapi setelah lama tidak melakukan pembinaan, akhirnya umat ini terjerumus kedalam latihan yang hanya bertujuan untuk mencari-cari ketenangan yang menurutnya pernah dicapainya di masa lampau.

Umat ini tidak menyadari bahwa diwaktu lampau ketenangan tersebut dapat dicapainya karena latihannya terpusat untuk mengikuti petunjuk ajaran dari gurunya, tetapi latihan sekarang yang dilakukannya terpusat pada pencarian ketenangan yang dirasakannya dimasa lampau. Umat ini secara tidak langsung telah melakukan bentuk latihan pembinaan yang berlainan, maka tidak mengherankan bilamana hasil yang dicapainya juga akan berbeda.

Namo Uci Yauw Ce Cin Mu Ta Thien Cun

 


  Dharma Center 'BUNDA MULIA' 
Jakarta, INDONESIA

  Vihara 'Yauw Ce Cin-Mu'  
Hua Lien, TAIWAN.

Copyright 2001 Yayasan Dharma Mulia Persada Indonesia. All rights reserved.