Home
Back
Info Dharma
Galleria

Mengapa Tidak Menanggapi Mimpi
(dikutip dari buku "Kisah-Kasih Spiritual Bagian 9  - oleh: Wisnu Prakasa")

Mimpi adalah bayangan pendamping tidur,
Demikian pula pikiran yang membayangi 
dan mendampingi Kesadaran Sejati.

Seorang umat bertanya, mengapa saya tidak pernah menanggapi secara panjang akan cerita-cerita mimpi dari para umat ?

Sekarang ini, saya akan menjelaskan mengapa saya tidak menanggapi cerita mimpi para umat. Walau sebenarnya tidak sepenuhnya benar, kalau saya selalu tidak menanggapi kisah mimpi mereka.

Saya selalu akan mendengarkan seluruh kisah mimpi mereka dari awal hingga akhir. Dan saya akan berusaha semaksimal mungkin memahami mimpi yang bagaimanakah yang mereka alami.

Setelah mendengar kisah mimpi-mimpi mereka, saya selalu mengajukan beberapa pertanyaan kepada mereka. Dengan mengetahui jawaban dari mereka itu, saya akan dapat lebih memastikan dari manakah sumber mimpi mereka yang sebenarnya. Sangat disayang bahwa, sebagian besar mimpi yang mereka alamiah, tidak lebih bersumber dari gambaran kemelekatan pikiran mereka sendiri yang telah memperdaya Kesadaran Sejatinya.

Jika mereka bermimpi, karena telah diperdaya oleh gambaran pikiran mereka sendiri. Mimpi yang demikian sudah pasti tidak akan saya tanggapi. Bila saya tangapi lebih lanjut, mereka akan menjadi lebih diperdaya dan terikat dengan mimpinya.

Para mahluk yang bermimpi yang menyenangkan, setelah terbangun akan cenderung terikat untuk mengharapkan mimpinya menjadi kenyataaan. Akhirnya mereka telah diperdaya oleh keinginan gambaran pikirannya yang ingin menjadikan mimpi tersebut menjadi kenyataan.

Walau ada keinginannya tidak seberapa rumit, tetapi banyak pula yang keinginannya yang sangat rumit, aneh, bahkan hingga yang tidak masuk akal lagi. Selanjutnya, jika mereka sudah menyadari bahwa keinginan mimpinya sudah melewati batas kemampuannya, dan tidak lagi dapat dicapainya. Akhirnya mereka menjadi sedih dan kecewa.

Mereka yang datang menceritakan mimpi buruknya kepada saya, biasanya datang dengan wajah yang sedih dan ketakutan yang berlebihan. Mereka tidak lagi menyadari bahwa ketakutan akan mimpi buruknya akan menjadi kenyataan, sebenarnya hanya berasal dari kemelekatan gambaran pikiran sendiri yang telah memperdaya kesadaran sejati mereka. Inilah yang dinamakan menderita sebelum penderitaan datang.

Setelah banyak bertemu dengan banyak umat dari berbagai sekte dan aliran, saya dapat mengambil beberapa kesimpulan ringkas:

  • Bila keadaan sadar (bangun), mereka selalu diperdaya oleh pikirannya. Apalagi ketika tertidur, pasti dengan lebih mudah diperdaya oleh gambaran pikirannya.

  • Walau kadang memungkinan mereka bermimpi dengan kesadaran penuh, tetapi keadaan yang demikian sangat jarang sekali dialami oleh mereka yang tidak terlatih.

  • Walau kesadaran dapat selalu terjenihkan diwaktu sadar (bangun), tetapi kadang masih dapat terperdaya oleh gambaran pikiran di waktu tidur.

  • Untuk dapat memiliki kesadaran penuh yang jernih disetiap saat, walau diwaktu tidur. Masih dibutuhkan pembinaan yang lebih lanjut lagi, sehingga kesadaran sejati benar-benar terjernihkan, baik diwaktu sadar, diwaktu tidur, disaat kematian, dan disaat tanpa tubuh kasar.

Inilah pencapaian spiritual mutlak dan harus dibina oleh seluruh mahluk spiritual dalam pembinaan kehidupan spiritual, hingga mencapai Kesempurnaan Agung Sejati.

 

Alam mimpi tidak mutlak bagi alam kehidupan.
Demikian pula pikiran tidak mutlak bagi
Kesadaran Sejati.

( Jakarta, 1999)

 

Namo Uci Yauw Ce Cin Mu Ta Thien Cun

 


  Dharma Center 'BUNDA MULIA' 
Jakarta, INDONESIA

  Vihara 'Yauw Ce Cin-Mu'  
Hua Lien, TAIWAN.

Copyright 2001 Yayasan Dharma Mulia Persada Indonesia. All rights reserved.