Mengapa Wanita Dibedakan
(dikutip dari buku
"Kisah-Kasih Spiritual Bagian XI : Wisnu Prakasa")
Seorang wanita dari salah satu aliran agama Buddha, datang
berkunjung ke rumah saya untuk mengemukakan beberapa permasalahan spiritual yang
dihadapinya. Salah satu permasalahan wanita ini, adalah tentang perbedaan aturan
antara pria dan wanita dalam menjalankan pembinaan ajaran Dharma.
“Mengapa dalam menjalankan pembinaan ajaran Dharma, wanita
tidak diperlakukan sama seperti lelaki ? Bahkan sebagai bikhuni sekalipun, masih saja
dibedakan dengan para bikhu. Bukankah seharusnya wanita mempunyai persamaan hak
dan kewajiban.” tanya wanita dengan menggebu-gebu.
“Apakah anda merasa terganggu dengan adanya perbedaan
perlakuan yang ada ?” tanya saya.
“Sangat terasa sekali, contohnya bila saya berusaha untuk
menanyakan lebih banyak ajaran dari para Bhante. Rasanya banyak umat lelaki dan
Bhante lainnya, yang mulai melotot penuh curiga. Saya ini merasa seperti
dianggap sebagai raja setan yang ingin memakan orang saja. Sungguh suatu
penghinaan terhadap wanita.”, jawabnya dengan cepat.
“Bila tujuan tulus, mengapa anda harus khawatirkan pandangan
salah orang lain. Tetapi lebih baik lagi, bila kita dapat lebih berhati-hati
agar mereka tidak mengalami pandangan yang salah. Hal ini akan baik buat diri
kita, buat Bhante, dan orang lainnya.” jelas saya.
“Benar juga, hal ini dapat saya maklumi. Tetapi masih banyak
lagi perbedaan yang tidak fair bagi wanita. Seharusnya diadakan reformasi dalam
agama Buddha.” Katanya lagi.
“Sekarang lagi masanya reformasi di Indonesia. Anda
ikut-ikutan juga rupanya mengemukakan reformasi dalam agama Buddha. Tapi, ada
baiknya juga.” Jawab saya sambil bercanda.
“Habis, sekarang bukan zamannya seperti masa Sang Buddha.
Sekarang ini, lelaki dan wanita harus sederajat.”, katanya pula sambil tersipu.
“Setuju, tetapi segala sesuatu harus terjadi secara alamiah,
tanpa dipaksakan. Bila sudah waktunya, maka apa yang tidak sesuai dengan keadaan
zaman, pasti akan ber-evolusi dengan sendirinya.Seperti halnya, dengan persamaan
hak yang anda maksudkan.”
“Di zaman ini, sudah banyak ajaran yang tidak sesuai lagi.
Terutama dalam perbedaan derajat lelaki dan wanita, sudah seharusnya di rubah
secepatnya. Tetapi tidak ada yang berani melakukannya.”, katanya lagi dengan
semakin bersemangat.
“Bukan tidak ada yang berani melakukannya. Tetapi alamiah
keadaan lelaki dan wanita sendiri yang tidak memungkinkan perubahan secara
drastis. Walau di zaman sekarang ini. Kita dapat melihat dalam permainan
olah-raga, ketika seorang pemain pria menyenggol dengan kasar pemain pria
lainnya. Pemain pria yang tersenggol paling akan langsung memukul pemain pria
yang menyenggolnya. Paling parahnya, mereka akan langsung berbaku hantam. Tentu
wasit dan pemain lainnya, langsung memisahkan mereka. Setelah dipisahkan, mereka
melanjutkan permainannya. Urusan perkelahian, selesai sudah sampai disini saja.
Inilah alamiah dari lelaki." jelas saya.
"Memang lelaki semuanya begitu.", jawabnya langsung.
"Tetapi tidak demikian bagi pemain wanita, ketika disenggol
dengan kasar oleh pemain wanita lainnya. Pemain wanita yang tersenggol, tidak
akan langsung memukul pemain yang menyenggolnya. Pemain wanita ini akan mulai
berpikir, untuk merencanakan pembalasan. Sehingga dalam menit selanjutnya,
pemain ini terus berpikir, bagaimana caranya untuk membalas dendamnya. Inilah
alamiah dari wanita. Apakah anda dapat merasakan perbedaan alamiah ini ?” lanjut
saya.
“Benar juga.” Jawabnya dengan tersipu.
“Bila kita telah mengetahui alamiah yang berbeda antara lelaki
dan wanita, bahkan hingga di zaman sekarang ini. Kita harus menerima keadaan
perlakuan yang berbeda pula. Walau secara pribadi, saya juga melihat banyak hal
yang sudah sepantasnya diperbaharui dalam pembinaan spiritual. Dan saya yakin,
apa yang anda maksudkan pasti terjadi di masa yang akan datang.”
“Iya, jika saja semua pengajar Dharma dapat memiliki pandang
yang luar seperti……..”
“Maaf, Anda tidak berhak membandingkan para pengajar Dharma.
Tanpa mereka, para mahluk belum tentu mengenal ajaran Dharma hingga sekarang.”,
potong saya lebih lanjut.
“Mohon maaf, atas kelancangan saya.”, pintanya dengan
membungkukan badan.
“Oh yach, satu lagi. Jika di dunia ini terjadi pertempuran
antara lelaki dan wanita. Saya pasti akan berada di kelompok wanita, karena
lebih baik mempunyai musuh lelaki daripada bermusuhan dengan wanita.”, kata saya
sambil tersenyum.
“Ha…ha…. Benar sekali.”, jawabnya jujur sambil tertawa.
— Namo Uci Yauw Ce Cin Mu Ta
Thien Cun —