Home
Back
Info Dharma
Galleria

Menghadapi Kematian
(dikutip dari buku "
Kisah-Kasih Spiritual -  Wisnu Prakasa")

Seorang pemuda datang mencari saya, dan memohon agar saya sudi melihat keadaan bapaknya yang sakit karena penyakit kanker di ususnya. Dokter telah melakukan operasi dan rupanya kanker ini telah menyebar.

Mendengar permohonan yang tulus dari pemuda ini, saya merasa tergerak untuk melihat keadaan bapaknya. Saya selalu mengingatkan bahwa kehidupan dan kematian adalah kuasa dan kehendak dari Yang Maha Kuasa. Manusia hanya memohon dan berdoa, untuk yang tebaik.

Disaat melihat bapaknya yang rupanya dalam kondisi kritis, sayapun turut bersedih didalam hati. Kesedihan disebabkan karena melihat keadaannya yang sudah sangat lemah dan capai sekali dalam memperjuangkan kesadarannya. Tubuh dan kesadarannya sudah sangat lemah, sedangkan semangat untuk bertahannya masih sangat kuat. Sementara kesadarannya terus bergulat melawan kebingungan dan ketidak tahuan akan apa yang harus diperbuat bila meninggalkan tubuhnya.

Melihat keadaan tubuh dan sinarnya, sayapun langsung mengetahui bahwa orang tua dihadapan saya ini semasa mudanya tidak giat berlatih dharma untuk menghadapi keadaan sekarang ini. Melihat keadaannya yang sedemikian berat untuk menghadapi kematiannya, saya turut bersedih hati. Dizaman sekarang ini, semakin sedikit manusia yang telah mempersiapkan dirinya untuk menghadapi saat-saat seperti ini.

Saya lalu mengundang Bunda Mulia untuk memohon petunjuk. Setelah mendapatkan gambaran tentang apa yang harus diperbuat untuk lelaki ini, saya mohon pamit dan mengatakan bahwa saya akan datang kembali keesokan hari untuk membantunya. Kemudian saya pulang untuk mengadakan puja bhakti memohon petunjuk dan berkah dari Bunda Mulia, kemudian dengan roh sejati saya membuat Fu Bunda Mulia agar dapat meringankan penderitaan orang tua yang sakit ini..

Keesokan harinya, saya mengajak seorang umat untuk menemani saya ke rumah sakit. Sambil membakar Fu Bunda Mulia, Saya mengajak keluarga sisakit untuk memanjatkan permohonan kepada Yang Maha Esa agar diberikan kesempatan bagi anak-anaknya untuk berbakti lebih banyak terhadap orang tua.

Kemudian saya mengundang Bunda Mulia dan para Mahluk Suci agar memberkati lelaki tua ini dan memohon agar lelaki tua ini dapat diberikan kesempatan lagi untuk mengenal Dharma lebih dalam. Dua permohonan inilah yang selalu saya mohonkan kepada Bunda Mulia dalam menolong orang-orang yang sakit.

Rupanya permohonan istri dan anak-anaknya terkabul. Bunda Mulia memberikan kesempatan sekitar 3 bulan agar lelaki tua ini dapat menyelesaikan tugasnya dan mempelajari Dharma lebih lanjut. Sungguh luar biasa Cinta Kasih Mulia Bunda Mulia, sehingga hanya beberapa hari kondisi lelaki tua ini dengan cepat membaik. Dan beberapa hari kemudian lelaki tua ini dapat pulang kembali kerumahnya.

Pada saat mengadakan puja harian dirumah, saya tidak lupa mengadakan puja bhakti khusus untuk memohon berkah kepada Bunda Mulia untuk selalu memberikan pengajaran dharma kepada roh lelaki tua ini baik secara langsung maupun di alam bawah sadarnya. Hal inilah yang sangat saya harapkan ketika pertama kali saya melihatnya terbaring dirumah sakit.

Permohonan saya rupanya terkabul dengan adanya tanda positif yang saya dengar sendiri dari anaknya. Anaknya bercerita bahwa kemarin bapaknya bermimpi bertemu dengan Budha Amitabha dan Dewi Kwan-Im. Dalam mimpi bapaknya, dia memohon langsung kepada Budha Amitabha untuk membimbingnya.

Istri dan anaknya sangat senang mendengar lelaki ini bercerita tentang mimpinya, karena sejak masa muda lelaki ini tidak pernah belajar dan sangat tidak peduli dengan agama maupun kepercayaan apapun. Semenjak mimpinya, lelaki ini lebih sering membaca mantra Budha Amitabha. Mendengar cerita anaknya, saya merasa senang karena apa yang telah saya mohonkan kepada Bunda Mulia telah terkabulkan.

Tidak terasa sudah hampir 3 bulan terlewatkan, saya telah melupakan kejadian diatas. Hingga pada suatu hari, anaknya menelpon saya mengabari tentang bapaknya yang baru meninggal dunia beberapa saat yang lalu. Diapun menceritakan bahwa kali ini ayahnya dapat meninggal dengan tenang dan tampak senyum diwajahnya menampakkan kebahagiaan di akhir hidupnya.

Saya mengucapkan bela-sungkawa atas kepergian bapaknya. Dan di kamar sembahyang saya, saya mengadakan puja-bhakti Buddha Amitabha, Bunda Mulia dan Ting Cang Wang Phosat untuk memohon agar Roh Almarhum dapat menghadapi alam peralihan (bardo) secepatnya. Dan semoga Roh Alamaruh dapat terlahirkan di surga Budha Amitabha.

Malam harinya, anak lelaki ini datang ketempat saya untuk meminta petunjuk-petunjuk yang penting dalam mengurusi upacara kematian almarhum. Anak lelaki ini juga menceritakan kepada saya bahwa sekeluarga sudah merelakan kepergian beliau.

Mereka semua berbahagia dengan kepergian beliau yang begitu tenang dan tanpa harus melewati penderitaan. Pemuda ini juga menceritakan bahwa dari kemarin beliau selalu tersenyum gembira. Dan ketika anak lelaki ini menyuruhnya untuk terus menggunakan malanya membaca mantra, Beliau menganguk dan tertawa gembira.

Pemuda ini merasa lucu kepada Bapaknya yang belakangan ini tampak begitu cerah sinar mukanya dan selalu tampak bergembira. Wajah senyum beliau yang lucu kemarin sangat berbekas di pikiran, jelas anak lelaki ini kepada saya. Dan pagi ini mendadak, beliau meninggal dengan meninggalkan senyum diwajahnya.

Sayapun ikut terharu mendengarkan ceritanya yang luar biasa ini. Saya sangat bersyukur kepada Bunda Mulia yang selalu membimbingnya, sehingga beliau dapat menghadapi kematiannya dengan tenang dan senyum.

Kesempatan kedua yang didapatnya benar-benar dipergunakan dengan baik oleh beliau. Hanya dalam waktu tiga bulan, beliau akhirnya dapat menghadapi kematiannya dengan tenang. Sungguh suatu hasil yang sangat sulit dicapai dalam waktu sesingkat ini.

Walaupun masih banyak lagi bantuan yang diberikan oleh Bunda Mulia terhadap keluarga ini, kiranya saya tidak perlu menceritakannya untuk menghindari kesalah-pahaman bagi mereka yang tidak mengerti dan mengalami kejadiannya secara langsung.

Saya mengajak semua mahluk untuk mengambil hikmah atas kejadian yang sebenarnya ini. Selagi kita mempunyai kesempatan seperti sekarang untuk mempelajari Dharma, pergunakanlah sebaik mungkin untuk berlatih Dharma. Berlatih lebih dini, akan banyak bermanfaat.
Ingatlah bahwa setiap mahluk tidak tahu kapan harus meninggal, maka lebih baik bersiap payung sebelum hujan. Pepatah ini sangat tepat untuk mengingatkan kita agar mempersiapkan diri sebelum kematian datang secara tidak terduga.

Sungguh sangat sedikit mahluk yang dapat memperoleh kesempatan kedua seperti Beliau, dan lebih sangat sedikit lagi mereka yang akhirnya dapat menghadapi kematiannya dengan tenang dan senyum.

Bagi mereka yang sedang mengalami sakit parah maupun telah divonis oleh waktu. Walaupun bagaimana sulit dan singkatnya waktu, saya selalu meyakinkan tiada kata telat untuk memulai dharma. Walaupun hanya membaca satu macam mantra, bilamana dapat memahaminya pasti manfaatnya sangat besar.

Mereka yang mempunyai teman atau saudara yang mengalami koma (tidak tersadarkan), saya mengungkapkan satu rahasia dari keadaan alamiah roh: “Walaupun tubuh mengalami koma, tetapi selama roh masih terikat pada unsur tubuh maka kesadaran masih terus dapat berinteraksi.”

Saya tidak akan menjelaskan lebih dalam, tetapi gunakan ungkapan ini untuk kepentingan yang baik dan positif. Dan semoga para ahli ilmu pengetahuan dapat membuktikan kebenaran dari ungkapan rahasia saya,sehingga alam roh tidak lagi menjadi hal yang bersifat rahasia bagi para mahluk yang tidak mengetahuinya.

— Namo Uci Yauw Ce Cin Mu Ta Thien Cun —

 


  Dharma Center 'BUNDA MULIA' 
Jakarta, INDONESIA

  Vihara 'Yauw Ce Cin-Mu'  
Hua Lien, TAIWAN.

Copyright © 2001 Yayasan Dharma Mulia Persada Indonesia. All rights reserved.