Home
Back
Info Dharma
Galleria

Menjadi Pemarah
(dikutip dari buku "
Kisah-Kasih Spiritual -  Wisnu Prakasa")

Pertama, menjadi seorang yang pemarah merupakan suatu hal yang sangat MUDAH dilakukan. Dimana sejak kecil manusia selalu terbiasa untuk memenuhi segala keinginan yang timbul dari pikirannya.

Semakin lama keterikatan akan keinginan ini semakin kuat menguasai dirinya. Keterikatan keinginan ini membangkitkan rasa ego didalam dirinya semakin kuat, sehingga rasa kepemilikan dan ke-aku-an menjadi semakin kuat dan besar tanpa disadarinya.

Adanya keterikatan akan rasa kepemilikan dan rasa ke-aku-an yang merasa superior dari mahluk lain, membangkitkan dorongan emosi yang semakin besar untuk selalu menjaganya. Emosi yang timbul semakin lama semakin membesar. Bilamana emosi ini tidak dapat terkendali lagi, akhirnya akan menjadi sumber pembangkit rasa marah yang tidak terkendali. Sehingga awal dan sumber kelahiran rasa marah yang muncul di dalam pikiran tidak dapat disadarinya, akhirnya dirinya merasakan bahwa rasa marah yang timbul sebagai jati diri yang sebenarnya.

Sejak kecil hingga sekarang manusia pada umumnya selalu berada pada jalur ini. Di jalur dimana mereka selalu berusaha memuaskan keinginan yang timbul dari pikiran, sehingga keterikatan yang selalu didapati pada akhirnya. Keterikatan yang timbul sebenarnya adalah sumber segala penderitaan. Semakin banyak keinginan yang timbul, maka semakin besar keterikatan yang terbentuk, dan akhirnya semakin besar pula penderitaan yang akan dirasakan.

Kedua, menjadi seorang yang dapat menahan rasa marah merupakan suatu perbuatan yang TIDAK MUDAH. Disini mereka dituntut untuk selalu dapat manahan emosinya. Rasa marah yang timbul harus dapat mereka kendalikan. Walaupun kadang kala pada awalnya rasa marah ini menguasai mereka, tetapi mereka harus berusaha untuk dapat menguasai kembali emosinya.

Banyak cara untuk menguasai emosi yang timbul seperti berusaha untuk membaca mantra, mengatur nafas, atau berusaha untuk memperlambat nafas, dan ada pula dengan cara mengalihkan konsentrasi dan emosi ke hal lainnya seperti berlatih meditasi. Bermacam-macam cara untuk menahan rasa marah memerlukan latihan yang tidak mudah.

Terakhir adalah menjadi seorang yang dapat memahami amarah yang timbul, merupakan suatu hal yang SANGAT TIDAK MUDAH. Mereka yang tidak lagi terpengaruh oleh timbulnya emosi rasa marah, adalah mereka yang dapat memahami awal timbul amarah yang bersumber dari pikirannya.

Mereka yang dapat memahami awal timbul amarahnya adalah mereka yang telah memiliki kesadaran sejati yang jernih dan terbebaskan dari gambaran pikiran.

Hanya dengan kesadaran sejati maka emosi yang timbul dari gelombang dan gambaran pikiran dapat dihilangkan. Dengan memahami kesadaran sejati, segala macam penjelmaan pikiran yang pada awalnya memang tidak ada akan kembali seperti pada awalnya dan hilang dengan sendirinya. Berhati-hatilah selalu dengan penjelmaan pikiran yang sifatnya selalu berusaha untuk memperdaya kesadaran sejati.

Kekuatan pikiran yang tidak terkontrol pada mereka yang tidak membina Kesadaran Sejati, akan sangat jelas terlihat pada saat mereka dikuasai oleh pikiran yang membangkitkan emosi marah. Rasa marah yang bangkit bagaikan gemuruh ombak yang menghantam segalanya, dimana tiada lagi dapat di bedakan antara angin dan lautan yang sesungguhnya.

Mereka yang terjebak dalam lingkaran emosi pada umumnya tidak lagi menyadari bahwa dirinya telah di kuasai oleh emosinya, sehingga emosi yang timbul akan lebih mudah meluap tanpa disadari. Emosi-emosi yang timbul ini akan menghabiskan energi chi didalam tubuh. Sehingga semakin sering timbulnya emosi yang meluap, akan berakibat semakin besar energi chi yang terbuang dengan percuma.

Bilamana energi chi semakin berkurang didalam tubuh akan mengganggu peredaran energi chi baik yang melalui jalur chakra maupun yang melalui jalur pembuluh darah dan syaraf. Akibat terganggunya energi chi di dalam tubuh maka kemungkinan timbulnya penyakit di dalam tubuh akan lebih besar.

Bagi pencari kebenaran Kesadaran Sejati sebaiknya selalu berhati-hati dalam memahami Kesadaran Sejati yang sesungguhnya. Walaupun telah lama dan banyak berlatih berbagai macam cara untuk menguasai pikiran yang timbul baik berupa emosi, keinginan, dan keterikatan. Ingatlah selalu bahwa jelmaan dari pikiran adalah tanpa batas.

Namo Uci Yauw Ce Cin Mu Ta Thien Cun

 


  Dharma Center 'BUNDA MULIA' 
Jakarta, INDONESIA

  Vihara 'Yauw Ce Cin-Mu'  
Hua Lien, TAIWAN.

Copyright 2001 Yayasan Dharma Mulia Persada Indonesia. All rights reserved.