Home
Back
Info Dharma
Galleria

Nama Kehormatan
(dikutip dari buku "
Kisah-Kasih SpiritualBagian 14 -  Wisnu Prakasa")

Seorang umat bertanya:”Para pembimbing spiritual lain selalu mempunyai sebutan berbagai nama Kehormatan, mengapa kami tidak diizinkan menggunakannya dalam Dharma Center ini ? Bukankan ini menunjukan sikap hormat para murid kepada Gurunya.?”

Seringnya pertanyaan yang seperti ini, akhirnya membuat saya untuk menjelaskan lebih lanjut agar para umat Bunda Mulia dapat memahami lebih jelas lagi alasan saya.

“Nama atau julukan apapun sebenarnya tidak menjadi masalah bagi saya secara pribadi. Saya ingin bertanya sekarang; Apakah dengan sebutan sebuatan kehormatan yang luar biasa dari para umat, akan membuat pencapaian kehidupan spiritual saya langsung lebih tinggi ? atau sebaliknya dengan memiliki julukan buruk sekalipun dari para umat, akan menjadikan pencapaian kehidupan spiritual saya menjadi lebih rendah ?”


”Tidak!!!” terdengar jawaban yang sama dari para umat.

“Baik sekali, anda mulai mengerti. Sekarang saya ingin mengetahui:Apakah dengan menyebut saya dengan nama dan julukan yang luar biasa tersebut akan menambah pencapaian kehidupan spiritual kalian ? dan apakah dengan menyebut saya dengan nama buruk akan menjadikan pencapaian kehidupan spiritual kalian lebih rendah ?” tanya saya sekali lagi.

“Tentu!!!” para umat menjawab lagi dengan serentak.

“Kalau memang kalian mempunyai pandangan yang demikian, terserah kalian selanjutnya. Tetapi harus dipahami, saya belum tentu menengok bila kalian memanggil saya dengan sebutan yang aneh-aneh. “ jelas saya singkat.

“Mengapa ?” seorang umat dibarisan belakang bertanya.

“Saya sebenarnya hanya salah satu mahluk dari sekian juta mahluk yang membantu Bunda Mulia dan para Budha untuk membimbing dan menuntun pembinaan kehidupan spiritual mahluk lain hingga mencapai Kesempurnaan Sejati. Ini adalah tugas saya, seperti yang selalu diutarakan oleh Bunda Mulia.”

“Tetapi….bagaimana untuk mengungkapkan rasa hormat kami sebagai murid  yang belajar pada seorang guru ?”

“Sebutan Nama sudah cukup. Sebutan lainnya sangat sulit saya terima. Seharusnya sebutan yang setara dengan tugas ini, adalah ‘Dharma Guide alias Pemandu Dharma’ sebagai mana istilah ‘Tour Guide atau Pemandu Jalan’. Saya hanya sebagai ‘Dharma Guide’ yang hanya dapatg membimbing dan menunjukan jalan pembinaan kehidupan spirituan kalian, karena saya hanya mengetahui selangkah dari kalian. Mungkin esok hari, kalian dan saya juga tidak lagi berbeda. Dimana kalian tidak memerlukan seorang ‘Dharma Guide’ lagi, karena kalian telah mengetahui sama seperti apa yang saya ketahui disaat ini. Bahkan dikemudian hari, jika kalian benar-benar telah mencapai Kesempurnaan Sejati atau KeBuddhaan, kalian tidak memerlukan Budha manapun. Dengan mencapai Kesempurnaan Sejati, maka kalian dan Buddha adalah tidak lagi berbeda, karena anda adalah Buddha itu sendiri.”

“Bukankah kita menyebut Budha, sebagai tanda kehormatan kita pada para Budha, karena para Buddha telah menurunkan Ajaran Dharmanya. Dan sebagai rasa hormat kepada para penerus Ajaran, adalah sangat pantas sekali bila dipanggil dengan satu nama kehormatan.” tanya seorang umat dari barisan depan.

“Benar, tetapi saya tetap pada mempunyai pandangan bahwa para Budha tidak akan terpengaruh jika kalian menyebutnya dengan sebutan Budha atau yang lebih baik lainnya. Dan para Budha juga tidak akan terpengaruh bila kalian menyebutnya dengan sebutan yang terburuk sekalipun. Jadi buat apa mempermasalah nama kehormatan, lebih baik kita memahami makna dan intisari sesungguhnya dari kata ‘Buddha’. Jika kita dapat memahami kata ‘Buddha’ yang sesungguhnya, ini merupakan suatu ungkapan rasa hormat yang sangat luar biasa kepada para Mahluk yang telah mencapai Kesempurnaan Sejati.  Ini akan jauh lebih bermanfaat, daripada kita dengan gampangnya menyebut kata ‘Buddha’ tetapi kita tidak memahami maknanya. Dan buat apa kita memanggil seseorang dengan berbagai nama Kehormatan seperti: ‘Rinpoche’, ’Guru Besar’, ’Master’,  dsb, tetapi kenyataannya perbuatan dan hati kita, tidak sesuai dengan apa yang kita ucapan. Om Mani Padme Hum.” Jelas saya sambil menutup Ajaran hari ini.

“……Om Mani Padme Hum.”

— Namo Uci Yauw Ce Cin Mu Ta Thien Cun —

 


  Dharma Center 'BUNDA MULIA' 
Jakarta, INDONESIA

  Vihara 'Yauw Ce Cin-Mu'  
Hua Lien, TAIWAN.

Copyright © 2001 Yayasan Dharma Mulia Persada Indonesia. All rights reserved.