Home
Back
Info Dharma
Galleria

Nasehat Suprise Wanita Berjubah Biru
(dikutip dari buku "Kisah-Kasih Spiritual Bagian XI : Wisnu Prakasa")

Percakapan ini terjadi pada akhir bulan september 2001, di Jakarta. Dan saya diceritakan langsung oleh Wanita Berjubah Biru pada malam hari, setelah perjumpaan saya dan Wanita Berjubah Biru dengan Lama ‘AY’.
(note: Lama berarti Guru dalam bahasa Tibet).

Wanita Berjubah Biru menjelaskan kepada saya, bahwa Lama AY itu banyak bertanya kepadanya, tetapi pertanyaannya selalu mempunyai maksud yang tersembunyi dan bertujuan lain.

Salah satu pertanyaan Lama AY kepada Wanita Berjubah Biru, seperti yang diceritakan oleh Wanita Berjubah Biru: "Ama sudah tua. Apakah Ama tidak khawatir akan penerusnya. Bukankah sangat sayang sekali bila segala pencapaian dan kemampuan ilmu spiritual Ama, yang sangat langkah dan luar biasa ini, tidak dapat diwariskan dan diteruskan."

Mendengar pertanyaan Lama AY ini, Wanita Berjubah Biru langsung menjawab, "Apa lagi yang harus di khawatirkan oleh saya ? Kemampuan saya sudah diturunkan kepada 3 penerus saya. Yang pertama adalah Master XXX, walau sekarang Master XXX hanya memfokuskan mengajar Dharma, tetapi Master XXX juga telah menguasai kemampuan saya. Kedua Master YYY dan ada di Taiwan, Master YYY memang tidak menguasai kemampuan untuk membantu mahluk lain, tetapi Master YYY sangat luar biasa dalam Tata Cara Persembahan Altar dan Puja-Bhakti. Murid saya yang terakhir, adalah WWW di Indonesia. WWW juga telah menguasai seluruh kemampuan saya, hingga Ajaran-Ajaran Rahasia Yauw Ce Cin Mu. Selanjutnya adalah tugas mereka untuk meneruskannya, apalagi yang harus saya khawatirkan."

Setelah Wanita Berjubah Biru menceritakan jawabannya kepada saya, Beliau dengan raut wajah sedih, menjelaskan kepada saya bahwa semakin hari, semakin banyak orang-orang yang memohon kepadanya untuk diwarisi kemampuan supernaturalnya saja. Sehingga, banyak sekali dari mereka yang sangat kecewa karena permintaannya tidak terkabulkan. Sungguh kasihan, bagi para pembina spiritual yang mempunyai pandangan sempit ini. Sungguh kasihan, mereka mengukur Ajaran Dharma Mulia, hanya sebatas segi mistis dan supernaturalnya.

Mereka yang hanya melihat kehebatan Ajaran Dharma Mulia sebatas segi mistis dan supernatural saja, tentunya tidak akan pernah dapat memahami dan mengungkapkan Berkah utama dari Ajaran Dharma Mulia yang sebenarnya. Dimana Berkah dan Manfaat utama dari Ajaran Dharma Mulia, adalah sebagai Jalan Pembinaan menuju Ke-Buddha-an atau Pencapaian Agung Tanpa Batas. Ajaran Dharma Mulia, tidak akan menciptakan mahluk sakti, mahluk super, mahluk gaib, mahluk mistis, dsb. Tetapi, Ajaran Dharma Mulia, dapat membimbing para mahluk memahami Jati Diri Sejatinya, sehingga dapat mencapai Kesempurnaan Agung Sejati dan Ke-Buddha-an.

Wanita Berjubah Biru lalu menjelaskan kepada saya, bahwa sebagai murid Beliau yang terakhir dan termuda. Saya yang akan merasakan akibat yang paling banyak. Dimana dikemudian hari, saya akan semakin dibenci dan mendapatkan banyak masalah dari mereka yang demikian, karena hati mereka selalu dipenuhi oleh rasa dengki dan iri-hati.

Wanita berubah biru juga menjelaskan bahwa saya harus selalu tabah dalam menghadapi tantangan ini. Mereka yang demikian, memang tidak pantas untuk menjadi murid Bunda Mulia. Mereka bukannya membantu memutar Roda Dharma dan membantu mahluk dari segala penderitaan. Tetapi justru menghambat dan mempersulit tugas saya. Saya tidak boleh menghabiskan waktu dengan percuma, hanya untuk mengurusi kebodohan dan kemelekatan pikiran mereka.

Wanita Berjubah Biru, lalu menjelaskan kepada saya. Walau demikian, Saya harus tetap mengasihani mereka, karena mereka yang berbuat demikian kepada saya. Sebenarnya mereka telah mencelakakan dan menjerumuskan diri sendiri. Dan, saya tidak boleh berputus-asa dalam membantu para mahluk lainnya, karena masih banyak mahluk lain yang benar-benar sangat membutuhkan bantuan dan bimbingan saya.

Mendengar nasehat yang tidak terduga-duga dari Wanita Berjubah Biru, membuat saya sangat surprise sekali. Inilah untuk pertama kalinya, Wanita Berjubah Biru menahan saya dalam membantu para mahluk.

Sebelum-sebelumnya, Wanita Berjubah Biru justru selalu memberikan wejangan kepada saya, untuk lebih giat memutar Roda Dharma dan membantu para mahluk dari segala penderitaannya. Beliau mengetahui benar akan sifat saya. Dimana saya justru selalu berusaha menghindar dari apa yang diharapkan Beliau.

Saya sendiri juga mengakui bahwa saya baru akan aktif sepenuhnya membantu para mahluk dari penderitaan, hanya ketika bersama Wanita Berjubah Biru. Tetapi bila tidak bersama Wanita Berjubah Biru, saya lebih menyukai ketenangan dan pembinaan diri sendiri.

Setelah mendengar nasehat yang lain daripada biasanya, saya mulai berusaha untuk intropeksi diri,dan merenungkan lebih dalam lagi nasehat Beliau.

Sejauh ini, saya cukup lama mengenal Lama AY, bahkan sebelum dirinya menjadi Lama (guru). Bahkan ketika AY masih merupakan murid dari Master XXX. Setahu saya, AY telah berguru ke Master XXX lebih dari 5 tahun. Kemudian, AY berpindah dari satu guru ke guru lainnya. Akhirnya AY lalu berguru pada salah satu Rinphoce, dan beberapa tahun kemudian diangkat menjadi Lama (Guru).

Diluaran Lama AY selalu mengaku bahwa saya adalah Gurunya, walau Lama AY mengetahui bahwa saya tidak pernah mengangkatnya sebagai murid saya. Kadang pula Lama AY juga berani menyatakan, bahwa dirinya adalah murid dari Wanita Berjubah Biru. Walau Lama AY juga mengetahui bahwa Wanita Berjubah Biru tidak pernah mengangkat sebagai muridnya juga.

Memahami akan keadaan Lama AY sepenuhnya, saya akhirnya dapat lebih memahami akan nasehat Wanita Berjubah Biru. Ternyata begitu banyak mahluk yang tampaknya ingin menjalankan pembinaan spiritual, tetapi MOTIVASI pembinaan spiritualnya justru tidak sesuai dengan pembinaan spiritual yang sebenarnya. Pembinaan Spiritual adalah pembinaan diri, untuk mencapai Alam Spiritual Tinggi yang terbebaskan dari segala penderitaan. 

Saya mengetahui dengan sepenuhnya akan kehebatan yang sangat luar biasa dalam pembabaran Dharma dari guru-guru Lama AY, yaitu Master XXX dan Rinpoche YZ. Tetapi tetap saja Lama AY, tidak dapat memahami Ajaran Dharma Gurunya, sehingga Lama AY masih terus berkeliling dari satu guru ke guru lainnya. Hal ini terjadi, karena apa yang diajarkan oleh Master XXX atau Rinpoche YZ, dan apa yang diharapkan oleh Lama AY sangat berbeda.

Saya teringat akan nasehat dari Bodhisattva Danau Biru, yang pernah mengatakan kepada saya, "Guru menawarkan Sorga, Murid mencari Neraka. Sorga yang ditawarkan, akhirnya sia-sia belaka. Walau Buddha hadir dihadapnya, dan membabarkan Ajaran Dharma. Mereka tetap saja tidak dapat mengetahui dan memahaminya.".

Mereka yang demikian, justru akan lebih memberatkan Gurunya. Dan ternyata terbukti nyata. Dimana saya juga melihat sendiri, betapa kasihannya Rinpoche YZ, mendapatkan perlakuan dari murid-murid yang demikian. Murid-murid Rinpoche YZ, bukan saja tidak memahami Ajarannya, tetapi mereka bahkan berani berbuat dan berkata yang menjelekan Guru mereka sendiri. Bahkan banyak dari mereka, yang mengakui dan merasa lebih suci dari para Guru-Guru Spiritual mereka.

Jika saja mereka selalu menyadari bahwa dalam Tantrayana, samaya antara murid dan Guru sangat penting sekali. Dimana ikatan antara Murid dan Guru, dapat melebihi ikatan antara Anak dan Orang Tua. Mereka seharusnya menyadari bahwa Karma Buruk dari Anak Durhaka saja sudah sangat berat, apalagi Karma Buruk dari Murid Durhaka. Neraka yang paling dalampun, mungkin masih terlalu ringan baginya.

Sungguh kasihan perjalanan hidup para mahluk pembina yang demikian. Seharusnya mereka dapat menyadari, bahwa karma baik mereka yang sedemikian besar, sehingga dapat berjumpa dengan berbagai Guru Spiritual, agar tidak disia-siakan dengan percuma. Seharusnya mereka menyadari, bahwa: Untuk dapat bertemu dengan Guru Spiritual, merupakan kesempatan yang sangat langkah. Apalagi dapat  mendengar Ajaran Dharma dan diterima menjadi umat.

Tetapi, setelah menjadi umat. Ternyata, mereka tidak dapat memanfaatkan kesempatan baiknya. Mereka tidak lagi menyadari bahwa umur mereka semakin tua, dan kemampuan untuk membina Ajaran Dharma semakin berkurang. Bila karma baik sudah habis, jangankan bertemu Guru Spritual, mendengarkan Ajaran Dharma saja sudah tidak memungkinkan lagi.

 

— Namo Uci Yauw Ce Cin Mu Ta Thien Cun —

 


  Dharma Center 'BUNDA MULIA' 
Jakarta, INDONESIA

  Vihara 'Yauw Ce Cin-Mu'  
Hua Lien, TAIWAN.

Copyright © 2001 Yayasan Dharma Mulia Persada Indonesia. All rights reserved.