Home
Back
Info Dharma
Galleria

Orang Tua dan Anak
(dikutip dari buku "Kisah-Kasih SpiritualBagian 6 -  Wisnu Prakasa")

Seorang anak tentu kadang kala berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan pandangan orang tuanya. Bilamana perbuatannya ini sering dilakukan, maka anak tersebut dikatakan sebagai anak nakal.

Sebagai seorang anak kecil yang alam pikirannya masih sangat sederhana, tentunya sering mendapatkan teguran dari orang tuanya. Terlebih-lebih seorang anak yang nakal tentu akan mendapatkan hukuman yang lebih berat.

Semua orang tumbuh dari bayi, lalu menjadi anak kecil, dan hingga sekarang. Sewaktu sebagai seorang anak kecil yang mempunyai orang-tua, tentu pernah mengalami dihukum oleh orang-tua, pengasuh, atau guru. Walaupun kadang kala bagi anak kecil tersebut merasa bahwa perbuatannya tidak salah, tetapi mengapa orang-tuanya melarangnya bahkan menghukumnya. Si anak kecil ingin berontak, tetapi apa daya karena takut dihukum lebih berat lagi.

Sungguh suatu keadaan yang ironis, bagi diri anak kecil ini. Dirinya merasa akan mendapatkan kesenangan dengan melakukan perbuatannya, tetapi akhirnya hukuman menyakitkan yang didapatnya.

Dirinya hanya harus menerima mentah-mentah nasehat orang tua bahwa dirinya dihukum demi kebaikannya sendiri, tetapi sebenarnya dirinya tidak tahu apa maksud kebaikan bagi dirinya. Yang diketahui bahwa orang-tuanya hanya melarang untuk melakukan lagi perbuatan yang menyenangkan itu. Inilah suatu proses belajar dan mengajar yang umum berlangsung sejak lampau hingga sekarang.

Sebagai seorang anak kecil yang sering merasakan sakitnya hukuman dari orang-tua, walaupun kadang kala pada awalnya masih merasa bingung karena tidak memahami apa sebabnya dilarang. Akhirnya hanya dapat menangis menahan sakitnya hukuman.

Rasa bingung, benci, kesal, dan takut bercampur aduk dipikirannya. Dirinya merasa ketidak adilan sebagai anak kecil yang tidak dapat melakukan apa yang disukainya, sedangkan orang tua dapat melakukan apa saja tanpa ada yang menghukumnya.

Memahami alam pikiran anak kecil yang masih polos dan sederhana, walaupun mereka kadang kala tidak mengetahui akibat dari perbuatannya karena ketidak-tahuannya. Harus kita akui bahwa mereka mencari kebahagiaan dan kesenangan terbaik sebatas jangkauan alam pikirannya, tetapi apa yang terbaik bagi menurut pandangan mereka bukanlah yang terbaik bagi orang tua. Orang tua mempunyai pengalaman dan pengetahuan yang lebih luas, sehingga mereka mengetahui kekeliruan pandangan dari para anak kecil.

Demikian pula para mahluk yang melakukan perbuatannya untuk mencari kebahagiaan dan kesenangan sesuai alam pikirannya masing-masing. Para orang dewasa berpikir bahwa perbuatan dan perkataannya adalah terbaik baginya, tetapi sadarkah mereka bahwa yang baik bagi mereka belum tentu yang terbaik menurut menurut Yang Maha Kuasa. Sadarkah para orang dewasa, jangan-jangan kita berkelakuan seperti anak kecil dimata para mahluk suci lainnya. Atau bahkan sebagai anak nakal, dimata Yang Maha Kuasa.

Sadarkah para orang tua bahwa ada suatu berkah yang sangat luar biasa bagi seluruh orang tua, pengasuh, dan guru. Dimana seorang anak kecil, walaupun kerap kali mendapat hukuman. Anak kecil itu dapat melupakannya.

Bayangkan bilamana setiap orang masih mengingat segala hukuman yang diterimanya sewaktu kecil. Bila mereka tidak melupakannya, tentu semua orang akan ingat berapa banyak ayah, ibu, pengasuh, dan guru mereka telah menghukum mereka. Sangat sedikit sekali kejadian yang dapat diingatnya dan tersimpan dihatinya, bila tidak tentu semua orang akan dendam terhadap orang tua, pengasuh, dan guru mereka.

Bersyukurlah para orang tua bahwa anak-anak tidak dipengaruhi oleh ikatan pikiran yang kuat, sehingga segalanya dapat diterima dan terlupakan.Bila anak menghukium orang tua walau hanya sekali saja, berapa lama pikiran ini mengikutinya ?

"Orang tua memarahi anaknya beratus-ratus kali, tetapi tidak ada pikiran yang membekas. Anak memarahi orang tua sekali saja, tetapi berjuta-juta goresan terpahat dalam pikirannya."

Yang Maha Kuasa tidak akan menghukum anaknya yang paling nakal sekalipun. Tetapi dengan maha pengasih yang luar biasa, Yang Maha Kuasa selalu mengirim para pembimbing kebenaran sepanjang masa. Para membimbing kebenaran sebagai penuntun bagi manusia agar sadar bahwa kebahagiaan yang mereka cari selama ini bukanlah kebahagiaan sejati, mereka hanya mengejar kebahagiaan semu dan tidak abadi yang tidak dapat menolong diakhir hidupnya.

Manusia kerap kali mengingkari Yang Maha Kuasa, tetapi sungguh suatu berkah bagi para mahluk bahwa Yang Maha Penciptaa selalu melimpahkan cinta kasih yang tanpa batas kepada manusia tiada hentinya.

Lihatlah bukankan setiap saat matahari tetap bersinar menerangi dunia. Inilah bukti yang sangat sederhana tetapi sangat disayangkan manusia tidak lagi memahami kebenarannya. Jangankan bersyukur atas berkah Yang Maha Kuasa menciptakan terang, berterima kasihpun tidak terpikir. Manusia lebih cenderung menganggap bahwa sudah menjadi tugas alamiah matahari untuk menerangi dunia.

 

Namo Uci Yauw Ce Cin Mu Ta Thien Cun

 


  Dharma Center 'BUNDA MULIA' 
Jakarta, INDONESIA

  Vihara 'Yauw Ce Cin-Mu'  
Hua Lien, TAIWAN.

Copyright 2001 Yayasan Dharma Mulia Persada Indonesia. All rights reserved.