Home
Back
Info Dharma
Galleria

Pembinaan Moral dan Kesadaran Sejati
(dikutip dari buku "Kisah-Kasih SpiritualBagian 14 -  Wisnu Prakasa")

Pembinaan moral dan budi pekerti merupakan pembinaan yang sangat baik, dan merupakan suatu pembinaan dasar yang utama bagi seluruh mahluk dalam masyarakat. Pembinaan moral dan budi pekerti untuk melatih perbuatan, ucapan, dan pikiran agar selalu benar. Bertujuan agar kita selalu berbuat kebaikan dan mencegah kesalahan yang dapat menghasilkan penderitaan bagi diri kita dan mahluk lain.

Bagi para mahluk yang menjalankan kehidupan spiritual, untuk menjadi mahluk spiritual. Pembinaan kehidupan spiritual yang sesungguh tidak terbatas pada pembinaan moral dan budi pekerti saja. Masih banyak pembinaan lainnya yang harus dijalankan. Salah satu pembinaan spiritual yang penting, adalah pembinaan Kesadaran Sejati yang bertujuan untuk kembali memahami jati diri Kesadaran yang sesungguhnya.

Didalam pembinaan moral, para mahluk ditekankan untuk menghindari perbuatan yang menghasilkan penderitaan. Sebagai contoh dalam pembinaan moral, kita dilarang untuk mencuri, membunuh, dsb. Dengan melakukan perbuatan mencuri dan membunuh, kita telah membuat mahluk lain menderita. Sehingga pembinaan moral ini tampaknya penuh dengan berbagai larangan, dan aturan.

Pembinaan Kesadaran Sejati, jauh melampau pembinaan moral ini. Dimana Pembinaan Kesadaran Sejati bertujuan untuk memahami sumber awal timbulnya perbuatan-perbuatan tersebut. Dengan menyadari sumber awal timbulnya perbuatan-perbuatan tersebut, para pembina akan lebih menyadari kebenaran yang sesungguhnya. Sehingga mereka telah terbebaskan dari segala keinginan untuk melakukan perbuatan tersebut.

Saya dapat memberikan contoh globalnya, dimana pembinaan moral untuk mencegah dan menghentikan kita untuk berbuat yang tidak baik. Keinginan yang timbul untuk melakukan perbuatan ini kadang muncul dengan kuatnya, dengan pembinaan moral yang kuat tentu kita dapat menahan diri untuk tidak mengikuti keinginan ini. Setelah beberapa saat, timbul lagi keinginan tersebut yang mendorong kita untuk melakukan. Kali ini disertai dengan berbagai alasan yang timbul, untuk membuat kita tidak merasa benar-benar bersalah. Dengan Pembinaan Moral yang kuat, tentu kita masih dapat mengatasinya.

Gambaran keinginan ini terus timbul kembali bahkan hingga berhari-hari, berbulan-bulan, dan bertahun-tahun. Setiap kali ditolak, setiap kali pula mereka akan muncul kembali, bahkan kedatangnya disertai berbagai macam alasan yang membujuk dan membuat kita lebih tidak merasa bersalah bila melakukannya. Alasan ini bermacam bentuk seperti: ‘Hanya sekali saja’, ‘Sekali ini saja, lalu tobat’,’Orang lain udah sering melakukan, kita coba aja sekali ini’, ‘Biar kasih dia pelajaran’, ‘Pinjem deh, nanti kita kembaliin lagi’, dsb.

Mereka yang benar-benar telah terlatih dengan baik, tentu dapat menahan segala keinginan yang timbul ini. Tetapi lebih banyak yang gagal dan mengikuti keinginan tersebut. Inilah sifat gambaran keinginan yang tidak pernah mengenal lelah, memperdaya manusia.

Pembinaan Kesadaran Sejati tidak menfokuskan pada pembinaan melawan berbagai keinginan yang timbul satu persatu tanpa hentinya ini. Pembinaan Kesadaran Sejati akan memahami sumber awal timbulnya semua keinginan-keinginan tersebut. Mereka akan memahami bahwa gambaran pikiran adalah sumber awal timbulnya semua keinginan-keinginan yang selalu memperdaya itu.

Para pembina Kesadaran Sejati selalu memiliki kesadaran jerni yang penuh, sehingga mereka akan menyadari pula setiap gambaran pikiran yang mulai timbul. Dengan kesadaran penuh yang selalu jernih, para pembina tidak lagi dapat diperdaya oleh berbagai keinginan dan kemelekatan pikiran yang timbul. Ketika gambaran pikiran mulai timbul, kesadaran mereka pasti akan memahaminya timbulnya gambaran pikiran mereka. Sehingga gambaran pikiran ini akan lenyap kembali tanpa dapat memperdaya dengan keinginan dan kemelekatan.
 

— Namo Uci Yauw Ce Cin Mu Ta Thien Cun —

 


  Dharma Center 'BUNDA MULIA' 
Jakarta, INDONESIA

  Vihara 'Yauw Ce Cin-Mu'  
Hua Lien, TAIWAN.

Copyright © 2001 Yayasan Dharma Mulia Persada Indonesia. All rights reserved.