Seorang lelaki sekitar berumur 40, dengan
penampilan yang rapi dan tampak sangat terpelajar berkunjung kerumah saya.
Lelaki dengan sopan memperkenalkan diri, dan menceritakan bahwa diri sebagai
murid dari berbagai para master dan guru-guru besar terkenal di berbagai
negara. Mendengar pengalaman bertahun-tahun di bidang spiritual dan begitu
banyak guru-gurunya, tentunya kedatangan lelaki ini merupakan suatu kehormatan
bagi saya.
Setelah berbincang-bincang tentang
pengalamannya dalam membina dharma dari para guru besar. Selanjutnya lelaki
ini menjelaskan bahwa dirinya telah mencapai tahap pencapaian, dimana dirinya
telah memahami bahwa Kekosongan (kesunyataan/emptiness) adalah segalanya; dan
kekosongan juga tidak segalanya.
Lelaki ini menjelaskan bahwa segalanya di
alam semesta adalah satu pada awalnya, semuanya berasal dari diri sendiri.
Karena dirinya telah menyadari semuanya, maka dirinya dapat melakukan apapun.
lelaki ini juga menjelaskan bahwa dirinya tidak perlunya menghormati rupang di
altar dan tidak perlu bersembah sujud, karena telah menyadari bahwa: dirinya
adalah Budha, dan Budha adalah dirinya.
Begitu banyak cerita yang dibabarkan lelaki
ini, saya hanya mendengar dengan penuh perhatian agar dapat menangkap jelas
makna ceritanya.
Tetapi sungguh suatu yang tidak terduga
dimana setelah mengakhiri ceritanya, lelaki ini memohon pentunjuk ajaran
tentang inti KEKOSONGAN dari sudut pandang saya sebagai murid Bunda Mulia.
Saya yang memang tidak menduga permohonannya, sehingga dengan alamiah, saya
hanya tersenyum kepadanya.
Lelaki ini kembali mengulangi permohonannya,
agar kiranya saya dapat memberikan petunjuk dan ajaran kepadanya. Saya dengan
reflek alamiah kembali tersenyum kepadanya.
Mungkin lelaki ini menganggap saya tidak
mendengar permohonannya, sehingga dirinya sedikit mendekatkan badan dan
mengulangi lagi permohonannya untuk ketiga kalinya. Dengan perlahan saya
kembali tersenyum lalu hanya mengucapkan: "Saya telah memenuhi permohonan
anda."
Mendengar jawaban saya yang juga tidak
terduga, lelaki ini tampak sedikit kebingungan. Kemudian dengan sedikit
ragu-ragu, dirinya tampak memaksakan diri untuk mengucapkan terima kasih.
Sebelum pamit pulang, pemuda ini kembali
bertanya: "Rupang apakah yang ditengah altar, tampaknya begitu menawan
sinarnya ?"
"Oh, ini adalah Bunda Mulia Dewi ….".
Sebelum saya mengakhiri jawaban saya, lelaki
ini langsung bersembah-sujud penuh tiga kali di depan altar Bunda Mulia dan
berkata dengan sangat perlahan: "Terima kasih… terima kasih…. terima kasih....
sungguh luar biasa."
Dengan tersenyum saya kembali mengantar
lelaki ini keluar dari ruang altar.
Walaupun kejadian ini sangat sederhana dan umum, tetapi pengalaman yang tidak terduga ini merupakan pengalaman yang berharga didalam pembinaan kehidupan spiritual. Saya mencoba untuk membagi pengalaman kepada para pembina kehidupan spiritual, semoga dapat bermanfaat bagi mereka yang dapat memahaminya. Bagi para umat lain yang tidak
memahaminya, jangan memaksakan diri untuk menebak-nebak makna sebenarnya. Tanpa
pemahaman intisari yang sebenarnya, segalanya tidak akan banyak bermanfaat
bagi kehidupan spiritual.
Atas petunjuk dari Bunda Mulia, saya akan
mengungkapkan sedikit apa yang saya ketahui dan pelajari dari pengalaman
diatas.
Lelaki terpelajar yang datang mengunjungi
saya, merupakan seorang umat yang sangat tekun dari satu Aliran Buddha
Esoteric. Hal ini dibuktikannya dengan giat membina berbagai macam ilmu
spiritual dari para master dan guru-guru besar terkenal di manca negara.
Lelaki ini juga telah memahami dasar dari
ajaran Kekosongan dari para gurunya. Tetapi sangat disayangkan, dirinya belum
memahami bahwa segalanya adalah sebagaimana apa adanya. Bilamana lelaki ini
telah memahami lebih lanjut tentang kekosongan (Tao) yang sebenarnya, maka
dirinya akan memahami bahwa kekosongan adalah kekosongan, segalanya adalah
segalanya, tidak segalanya adalah tidak segalanya, diri sendiri adalah diri
sendiri, dan Budha adalah Budha. Bilamana segalanya tetap sebagaimana apa
adanya, bagaimana mungkin diri sendiri dapat menjadi Budha tanpa diri sendiri
?
Dimanakah letak kesulitan dan hambatan yang
dialami oleh lelaki tersebut ?
Walaupun lelaki ini telah mencapai tahap
tertentu didalam pembinaannya, Lelaki ini masih sangat terikat akan pemahaman
ajaran kekosongan, dan sehingga dirinya terjebak di dalam lingkaran
pengertiannya sendiri. Dirinya menganggap bahwa segala kata-kata tidak lagi
bermanfaat, sebagaimana dirinya mengangap bahwa segala rupang tidak lagi
bermanfaat.
Sungguh suatu kebesaran dari Bunda Mulia,
saya dilimpahkan pengetahuan dan berkah untuk dapat memberikan pentunjuk dan
ajaran kepada lelaki tersebut. Saya menyadari bahwa tiga kali senyum yang
dilakukan atas petunjuk Bunda Mulia akan sangat bermanfaat bagi lelaki
tersebut dikemudian hari dalam pembinaannya memahami intisari Kekosongan yang
sebenarnya.
Sungguh merupakan suatu berkah yang luar biasa bagi lelaki
tersebut. Saya menyadari bahwa sangat sedikit para mahluk yang telah mencapai
tingkat seperti lelaki tersebut. Dan lebih sedikit lagi para mahluk yang
mencapai tingkat demikian, dan dapat memiliki karma baik sehingga Bunda Mulia
dapat memberikan petunjuk dalam pembinaan spiritualnya.