Home
Back
Info Dharma
Galleria

Pencapaian Seorang Pembina
(dikutip dari buku "Kisah-Kasih SpiritualBagian 3 -  Wisnu Prakasa")

Seorang lelaki sekitar berumur 40, dengan penampilan yang rapi dan tampak sangat terpelajar berkunjung kerumah saya. Lelaki dengan sopan memperkenalkan diri, dan menceritakan bahwa diri sebagai murid dari berbagai para master dan guru-guru besar terkenal di berbagai negara. Mendengar pengalaman bertahun-tahun di bidang spiritual dan begitu banyak guru-gurunya, tentunya kedatangan lelaki ini merupakan suatu kehormatan bagi saya.

Setelah berbincang-bincang tentang pengalamannya dalam membina dharma dari para guru besar. Selanjutnya lelaki ini menjelaskan bahwa dirinya telah mencapai tahap pencapaian, dimana dirinya telah memahami bahwa Kekosongan (kesunyataan/emptiness) adalah segalanya; dan kekosongan juga tidak segalanya.

Lelaki ini menjelaskan bahwa segalanya di alam semesta adalah satu pada awalnya, semuanya berasal dari diri sendiri. Karena dirinya telah menyadari semuanya, maka dirinya dapat melakukan apapun. lelaki ini juga menjelaskan bahwa dirinya tidak perlunya menghormati rupang di altar dan tidak perlu bersembah sujud, karena telah menyadari bahwa: dirinya adalah Budha, dan Budha adalah dirinya.

Begitu banyak cerita yang dibabarkan lelaki ini, saya hanya mendengar dengan penuh perhatian agar dapat menangkap jelas makna ceritanya.

Tetapi sungguh suatu yang tidak terduga dimana setelah mengakhiri ceritanya, lelaki ini memohon pentunjuk ajaran tentang inti KEKOSONGAN dari sudut pandang saya sebagai murid Bunda Mulia. Saya yang memang tidak menduga permohonannya, sehingga dengan alamiah, saya hanya tersenyum kepadanya.

Lelaki ini kembali mengulangi permohonannya, agar kiranya saya dapat memberikan petunjuk dan ajaran kepadanya. Saya dengan reflek alamiah kembali tersenyum kepadanya.

Mungkin lelaki ini menganggap saya tidak mendengar permohonannya, sehingga dirinya sedikit mendekatkan badan dan mengulangi lagi permohonannya untuk ketiga kalinya. Dengan perlahan saya kembali tersenyum lalu hanya mengucapkan: "Saya telah memenuhi permohonan anda."

Mendengar jawaban saya yang juga tidak terduga, lelaki ini tampak sedikit kebingungan. Kemudian dengan sedikit ragu-ragu, dirinya tampak memaksakan diri untuk mengucapkan terima kasih.

Sebelum pamit pulang, pemuda ini kembali bertanya: "Rupang apakah yang ditengah altar, tampaknya begitu menawan sinarnya ?"

"Oh, ini adalah Bunda Mulia Dewi ….".

Sebelum saya mengakhiri jawaban saya, lelaki ini langsung bersembah-sujud penuh tiga kali di depan altar Bunda Mulia dan berkata dengan sangat perlahan: "Terima kasih… terima kasih…. terima kasih.... sungguh luar biasa."

Dengan tersenyum saya kembali mengantar lelaki ini keluar dari ruang altar.

Walaupun kejadian ini sangat sederhana dan umum, tetapi pengalaman yang tidak terduga ini merupakan pengalaman yang berharga didalam pembinaan kehidupan spiritual. Saya mencoba untuk membagi pengalaman kepada para pembina kehidupan spiritual, semoga dapat bermanfaat bagi mereka yang dapat memahaminya. Bagi para umat lain yang tidak memahaminya, jangan memaksakan diri untuk menebak-nebak makna sebenarnya. Tanpa pemahaman intisari yang sebenarnya, segalanya tidak akan banyak bermanfaat bagi kehidupan spiritual.

Atas petunjuk dari Bunda Mulia, saya akan mengungkapkan sedikit apa yang saya ketahui dan pelajari dari pengalaman diatas.

Lelaki terpelajar yang datang mengunjungi saya, merupakan seorang umat yang sangat tekun dari satu Aliran Buddha Esoteric. Hal ini dibuktikannya dengan giat membina berbagai macam ilmu spiritual dari para master dan guru-guru besar terkenal di manca negara.

Lelaki ini juga telah memahami dasar dari ajaran Kekosongan dari para gurunya. Tetapi sangat disayangkan, dirinya belum memahami bahwa segalanya adalah sebagaimana apa adanya. Bilamana lelaki ini telah memahami lebih lanjut tentang kekosongan (Tao) yang sebenarnya, maka dirinya akan memahami bahwa kekosongan adalah kekosongan, segalanya adalah segalanya, tidak segalanya adalah tidak segalanya, diri sendiri adalah diri sendiri, dan Budha adalah Budha. Bilamana segalanya tetap sebagaimana apa adanya, bagaimana mungkin diri sendiri dapat menjadi Budha tanpa diri sendiri ?

Dimanakah letak kesulitan dan hambatan yang dialami oleh lelaki  tersebut ?

Walaupun lelaki ini telah mencapai tahap tertentu didalam pembinaannya, Lelaki ini masih sangat terikat akan pemahaman ajaran kekosongan, dan sehingga dirinya terjebak di dalam lingkaran pengertiannya sendiri. Dirinya menganggap bahwa segala kata-kata tidak lagi bermanfaat, sebagaimana dirinya mengangap bahwa segala rupang tidak lagi bermanfaat.

Sungguh suatu kebesaran dari Bunda Mulia, saya dilimpahkan pengetahuan dan berkah untuk dapat memberikan pentunjuk dan ajaran kepada lelaki tersebut. Saya menyadari bahwa tiga kali senyum yang dilakukan atas petunjuk Bunda Mulia akan sangat bermanfaat bagi lelaki tersebut dikemudian hari dalam pembinaannya memahami intisari Kekosongan yang sebenarnya.

Sungguh merupakan suatu berkah yang luar biasa bagi lelaki tersebut. Saya menyadari bahwa sangat sedikit para mahluk yang telah mencapai tingkat seperti lelaki tersebut. Dan lebih sedikit lagi para mahluk yang mencapai tingkat demikian, dan dapat memiliki karma baik sehingga Bunda Mulia dapat memberikan petunjuk dalam pembinaan spiritualnya.

— Namo Uci Yauw Ce Cin Mu Ta Thien Cun —

 


  Dharma Center 'BUNDA MULIA' 
Jakarta, INDONESIA

  Vihara 'Yauw Ce Cin-Mu'  
Hua Lien, TAIWAN.

Copyright © 2001 Yayasan Dharma Mulia Persada Indonesia. All rights reserved.