Home
Back
Info Dharma
Galleria

Pengajar Spiritual Dari Luar Negeri
(dikutip dari buku "Kisah-Kasih SpiritualBagian 9 -  Wisnu Prakasa")

Bukan maksud saya mengurangi rasa hormat kepada yang telah membantu mengajarkan ajaran-ajaran agama yang Mulia.

Bukan maksud saya untuk menghambat pengabdian mereka yang telah membantu mengajarkan ajaran-ajaran agama yang Mulia.

Bukan maksud saya untuk merendahkan derajat mereka yang telah membantu mengajarkan ajaran-ajaran agama yang Mulia.

Bukan maksud saya untuk menyinggung perasaan mereka yang telah membantu mengajarkan ajaran-ajaran agama yang Mulia.

Tetapi saya ingin membantu memberikan sedikit gambaran tentang alamiah keadaan spiritual di Indonesia, sehingga tugas mulia mereka dapat berjalan lebih lancar.

Para pengajar, Guru Besar, dan Master Spiritual dari luar negeri, kiranya untuk lebih memahami perjalanan hidup bangsa Indonesia. Dimana Bangsa Indonesia memiliki latar belakang yang sangat unik dan jauh berbeda dengan perjalan hidup bangsa lainnya, terutama dalam perjalanan kehidupan spiritual beragama.

Perbedaan kebudayaan dan perjalanan kehidupan spiritual beragama di negeri asal para pengajar agama, kadang tidak disadari oleh mereka. Para pengajar dari luar negeri berhak untuk membanggakan ajarannya, tetapi sangat disayangkan cenderung berlebihan dengan membandingkan ajarannya untuk merendahkan ajaran agama atau aliran lain, terlebih-lebih akan ajaran yang telah berakar di bumi nusantara ini. Para pengajar juga banyak memberikan kesaksian yang bersifat pribadi, tanpa melihat dampak yang menyinggung perasaan umat aliran dan agama lainnya. Masih banyak lagi ketidak tahuan mereka, yang dapat berakibat fatal bagi seluruh mahluk. Semua ini dapat terjadi, karena ketidak tahuan mereka akan alamiah keadaan spiritual beragama di Indonesia.

Walaupun semua itu adalah hak dan kewajiban mereka, tetapi saya hanya dapat menyarankan para pengajar dari luar negeri yang mengajar di bumi nusantara. Sebaiknya mereka harus dapat lebih bijaksana dalam mengajarkan ajarannya. Saya mengharapkan untuk lebihn menekankan ajaran yang mengarah pada Cinta Kasih dan pembinaan spiritual bagi diri sendiri, dibanding dengan ajaran yang mengarah pada masalah perbandingan dan perbedaannya ajaran.

Saya secara pribadi melihat dan memahami bahwa terjadinya zaman keemasan dan kebesaran suatu agama di Indonesia, bukan karena penderitaan yang dialami oleh agama lainnya seperti terjadi dinegara-negara lainnya. Tetapi kebesaran suatu agama di Indonesia terjadi karena memang ajaran agama itu sangat sesuai kebutuhan pada keadaan masyarakat Indonesia pada waktu dan zaman tersebut. Dan saya mencoba memahami hal ini dengan melihat sekilas perkembangan kehidupan spiritual beragama bangsa Indonesia, sebagai berikut:

Kehidupan spiritual beragama di Indonesia, dimulai sejak berabad-abad sebelumnya. Dalam perjalanan kehidupan spiritualnya, bangsa Indonesia telah mengalami berbagai zaman keemasan dari bermacam-macam agama. Kita mengenal adanya zaman keemasan bagi agama Hindu, zaman keemasan agama Buddha, zaman keemasan agama Buddha Shiva, zama keemasan Islam oleh para Walinya, zaman agama Kristiani di zaman kolonial belanda, hingga zaman toleransi beragama sekarang.

Proses perubahan dan peralihan zaman-zaman keemasan ini merupakan suatu keunikan yang tidak dimiliki oleh bangsa lainnya, sehingga perjalanan kehidupan spiritual bangsa Indonesia menjadi sangat sulit dipahami oleh bangsa lainnya.

Perubahan kehidupan beragama yang dialami bangsa Indonesia, tidak seperti perjalanan kehidupan beragama negara-negara lain. Dimana di negara lain banyak terjadi perang antar agama yang satu dengan yang lain, keributan aliran yang satu dengan alirannya. Di negara-negara lain, permasalahan kadang mengarah pada pemaksaan untuk menganut agama tertertu, hingga pembantaian massal pada umat aliran tertentu.

Saya menyatakan bahwa kehidupan spiritual bangsa Indonesia yang telah mengalami berbagai perubahan, karena memang keadaan alamiah dari keadaan dan kondisi bangsa Indonesia yang demikian. Bagaikan seorang anak bayi yang terlahir tanpa alas kaki, setelah dapat berjalan maka akan memakai sandal, ketika akan berlari akan memakai sepatu sport, ketika pergi kepesta akan memakai sepatu pesta, dan ketika harus bersujud di hadapan Yang Maha Esa harus menanggalkan segala alas kakinya.

Bangsa Indonesia pada awalnya merupakan penganut aliran animisme. Kemudian mulai masuk ajaran Hindu dari India. Agama Hindu kemudian dapat diterima di Bumi Nusantara, karena perubahahan dari masyarakat yang animisme menjadi penganut Hindu merupakan suatu perubahan yang tidak drastis total. Perubahan ini berlangsung dengan baik dan aman, inilah keindahan dari ajaran agama Hindu yang memang pada zaman tersebut sangat dibutuhkan dan sesuai dengan kehidupan nenek moyang bangsa Indonesia.

Kemudian masuk agama Buddha juga dari India, yang kemudian bersinkrenisme dengan agama Hindu yang sudah berkembang di Indonesia. Sinkrenisme kedua ajaran dari India ini melahirkan aliaran yang dikenal dengan ajaran Buddha-Shiva. Lahirnya ajaran Buddha-Shiva ini adalah suatu keindahan alamiah dari bumi nusantara yang tidak dimiliki oleh bangsa lainnya. Inilah bukti toleransi yang kuat dari nenek moyang bangsa Indonesia, yang tidak dimiliki oleh bangsa-bangsa lainnya.

Walaupun di negara India, sebagai sumber awal agama Hindu dan Buddha. Tetapi kerukunan kehidupan antar agama Hindu dan Buddha, tidak semulus seperti di Indonesia yang memang telah memiliki rasa saling menghormati satu dengan yang lainya. Bahkan terjadinya keributan kedua agama besar di India yang cukup lama, tidak pernah terjadi di bumi nusantara.

Pengaruh kebudayaan Indonesia yang sangat kuat ini, menjadikan sinkrenisme ajaran Buddha-Shiva berbeda dengan tradisi di India. Kerukunan antar ajaran Hindu dan Buddha, masih dapat kita saksikan di masyarakat Hindu di Bali. Dimana kita dapat menyaksikan Pura "Bunda" (Temple "Mother") di Bali, yang memiliki unsur Hindu dan Buddha yang sangat nyata. Dan hal ini tidak pernah terjadi di India. Bahkan upacara di Bali juga terlihat adanya sedikit unsur dari aliaran Tao.

Kemudian masuknya agama islam di pinggir pantai, melengkapi keindahan perjalanan kehidupan spiritual beragama bangsa Indonesia. Para nelayan di pinggir pantai, masih mendambakan ajaran-ajaran agama yang sesuai dengan kehidupan sehari-harinya. Kehausan akan kebutuhan ajaran agama ini, akhirnya dapat dipenuhi dengan masuknya ajaran islam dari negeri Arab.

Bagaikan telah dipersiapkan dan diatur oleh semesta alam. Berkembangnya agama Islam di bumi nusantara, juga berbarengan dengan masuknya bangsa belanda yang menjajah Indonesia selama 350 tahun. Dan menurut saya pribadi, tidak lepas adanya kemungkin bahwa bangsa Indonesia tidak akan merdeka atau akan jauh lebih lama lagi untuk mendapatkan kemerdekaannya, bila penduduknya bukan beragama Islam atau masih beragama Buddha-Shiva.

Dalam ajaran Buddha-Shiva, sangat dipentingkan untuk tidak melakukan perbuatan membunuh, walau apapun juga alasannya. Tetapi dengan masuknya ajaran Islam, makan pandangan yang demikian dapat diperbaharui sesuai dengan keadaan dan kondisi yang ada. Dengan demikian, perang melawan penjajah belanda dan jepang dapat lebih diterima oleh bangsa Indonesia, karena untuk membela hak dan menjunjung tinggi kebenaran bangsa.

Disini saya melihat kebenaran dan bukti akan zaman keemasan dan kebesaran agama-agama di Indonesia, yang tidak terbentuk dari penderitaan yang dialami oleh umat penganut ajaran agama lainnya. Tetapi perubahan kehidupan beragama bangsa Indonesia terjadi karena memang ajaran agama itu sangat sesuai kebutuhan pada keadaan waktu dan zaman tersebut.

Dengan pemahaman perjalan kehidupan beragama bangsa Indonesia, maka bagi para Pengajar, Guru Besar Dan Master Spiritual dari luar negeri yang ingin mengajarkan ajarannya di bumi nusantara. Harus benar-benar menghormati nilai luhur yang telah diwarisi oleh nenek moyang bangsa Indonesia.

 

Namo Uci Yauw Ce Cin Mu Ta Thien Cun

 


  Dharma Center 'BUNDA MULIA' 
Jakarta, INDONESIA

  Vihara 'Yauw Ce Cin-Mu'  
Hua Lien, TAIWAN.

Copyright 2001 Yayasan Dharma Mulia Persada Indonesia. All rights reserved.