Home
Back
Info Dharma
Galleria

Penjaga Pos Yang Kerasukan
(dikutip dari buku "
Kisah-Kasih Kerasukan -  Wisnu Prakasa")

Kejadian ini terjadi di Jakarta, pada sore hari sehabis magrib di pertengahan tahun 2000. Seorang pemuda penjaga pos keamanan tiba-tiba kerasukan di warung dekat pasar umum. Kejadian yang tiba-tiba ini, menarik banyak perhatian orang disekitarnya. Sehingga cukup banyak masyarakat yang menonton kejadian kerasukan ini.

Pemuda yang kerasukan ini, tingkah lakunya tidak lagi terkontrol. Bahkan empat orang lainnya, yang mencoba menahannya tetapi tidak dapat mengendalikannya. Ucapan pemuda ini juga sangat diluar kebiasaannya, dan kadang sangat tidak layak untuk didengar. 

Mendengar kejadian penjaga pos keamanan yang telah kerasukan selama hampir satu jam, seorang umat wanita dari salah satu Vihara di jakarta, yang kebetulan tinggal didekat tempat kejadian memutuskan untuk menelepon saya. Umat ini meminta pentunjuk saya akan keadaan Penjaga Pos yang menurutnya telah kerasukan roh halus sedemikian parah dan tidak terkendali lagi.

Dengan sedikit becanda saya mengatakan bahwa, saya mempunyai dua alternatif jalan keluar. Yang pertama, saya menyarankan kepadanya untuk memakai pakaian sembayang, lengkap dengan segala atributnya,  selain membawa mala (tasbih/rosari umat budha) jangan pula ketinggalan Vajra dan Bell turut dibawa juga. Lalu mengambil segelas air suci Ta Pei Cu, dan melakukan …….. ( demi menjaga kerahasian alam lain, saya tidak dapat membuka buat umum).

Dan alternatif kedua, adalah dengan menggunakan Air Suci, dan diberikan kepada yang kerasukan. 

Saya kemudian menjelaskan kepadanya, bahwa bila alternatif pertama dijalankan, maka dirinya harus siap-siap akan dianggap sebagai dukun hebat. Bersiap-siaplah keesokan harinya, pasar  akan ramai seperti biasanya, tetapi mereka bukan hanya untuk berbelanja, melainkan mereka juga akan mengantri didepan rumah 'ibu dukun' baru, untuk memohon berbagai macam bantuan dan petunjuk.

Tetapi, bila alternatif kedua yang dijalankan, maka secara tidak langsung dirinya akan mulai terjebak dalam suatu KEBOHONGAN SPIRITUAL. Dimana bila dirinya memang ingin membantu seluruh mahluk, dirinya harus terlebih dahulu mengetahui dengan jelas awal sebab-akibatnya suatu permasalahan dengan selengkap-lengkapnya. Kejadian kerasukan, bahkan hingga terjadi di tempat umum yang ramai, adalah suatu proses sebab-akibat yang panjang.

Niat untuk membantu terhadap sesama, adalah suatu perbuatan yang sangat baik. Tetapi niat untuk berbuat baik saja, belum sempurna bila tidak dibarengi dengan Kebijaksaan. Walau dengan alasan demi kebaikan menolong manusia dari gangguan mahluk halus, hal ini juga kurang bijaksana, karena dirinya tidak mengetahui alasan dan sebab dasar permasalahan yang berdampak kerasukan ini.

Tetapi bila keadaan dan situasi menjadi buruk dan sangat mendesak, maka hal yang terpenting adalah menjaga ketenangan dan keharmonisan pada semua pihak, sehingga mereka tidak akan saling memperburuk keadaan dan tidak akan saling melakukan karma buruk lebih dalam lagi. Bila semua pihak dapat saling menahan dan menenangkan diri, selanjutnya akan lebih mudah dicarikan cara yang terbaik dan bijaksana untuk menyelesaikan persoalan yang sebenarnya.

Akhirnya, umat wanita ini memutuskan untuk melakukan alternatif kedua, dengan alasan untuk menenangkan keadaan yang semakin tidak terkendali dan  telah berlangsung cukup lama.

Saya lalu menjelaskan kepadanya, karena ini kejadiannya di Pasar, yang merupakan tempat umum. Dirinya harus lebih berhati-hati, agar tidak mengakibatkan dampak kesalah pahaman spiritual yang lebih dalam lagi bagi masyarakat, yang memiliki beraneka ragam keyakinan dan kepercayaan.

Dirinya harus berusaha semaksimal mungkin baik untuk menghindar dari dampak propaganda agama, atau secara tidak langsung  seakan-akan menunjukan kehebatan agamanya di depan umum. Tujuan utama pembinaan spiritual adalah untuk membina diri sendiri, bukan untuk menarik atau mempromosikan kehebatan agamanya masing-masing. Demikian pula, bila memang bertujuan untuk membabarkan Ajaran Agama di masyarakat umum,  lebih baik memfokus  pada kwalitas pembinaan untuk mencapai tingkat spiritual yang tinggi, bukan hanya sebatas mencari umat sebanyak-banyaknya.

Untuk itu, saya lalu memberikan jalan keluar kepada umat wanita ini. Gunakanlah segelas Air Suci Ta Pei Cu, tetapi jangan bilang bahwa ini adalah Air Suci Ta Pei Cu. Berikan saja segelas Air Putih ini kepada orang lain yang memiliki KEPERCAYAAN YANG SAMA dengan yang kerasukan. Suruhlah orang tersebut untuk meneteskan Air Suci tersebut kemulut yang kerasukan, tetapi sebelumnya mohon untuk membacakan doa menurut kepercayaannya. Bila memungkinkan, ajaklah orang lain untuk membantu memanjatkan doa dalam hati menurut kepercayaannya masing-masing. Kemudian, teteskan beberapa tetes pada mulut yang kerasukan.

Saya juga berpesan kepada umat wanita ini, untuk jangan berkata apapun, selain yang telah saya pesankan. Bila telah sadar, dirinya harus cepat menghindari dari kerumunan orang-orang, dan kembali kerumah tanpa sepengetahuan orang-orang lain.

Setelah mendengar petunjuk saya. Kemudian, umat wanita langsung mengucapkan terima kasih kepada saya, dan dirnya mohon pamit untuk mengambil Air Suci Tai Pei Cu dari altar dan mengikut petunjuk yang sangat sederhana dari saya.

Kurang dari 5 menit, ternyata wanita ini kembali menelpon saya. Wanita ini menceritakan kejadian selanjutnya kepada saya dengan rasa takjub. Menurutnya, ternyata sungguh luar biasa khasiatnya. Ketika diberikan Air Suci tersebut, seketika itu juga pemuda yang kerasukan itu terdiam mendadak, dan sadar kembali dengan wajah yang sangat lelah. Orang-orang yang melihat kejadian tersebut sangat terkagum-kagum, mungkin tidak percaya bahwa sedemikian mudah masalah kerasukan diatasi, bahkan ditempat umum sekalipun.

Saya hanya berkata kepada umat wanita ini, “Yang paling andil menolong orang kerasukan itu adalah dia yang membacakan doa dan meneteskan air suci di mulut yang kerasukan, karena dialah yang melakukan segalanya. Biarlah orang lain yang menyaksikan peristiwa ini, menyimpulkan sendiri atas peristiwa yang disaksikannya menurut kepercayaannya masing-masing, tanpa harus terjerat lebih dalam lagi oleh propaganda-propaganda agama yang semata-mata bersifat mengumpulkan umat sebanyak-banyaknya, dengan memanfaatkan berbagai kesempatan yang hanya sebatas menunjukan kehebatan mistis dan spiritual saja. Hal ini tidak lain telah membohongi umat kepercayaan lain, dengan melakukan KEBOHONGAN SPIRITUAL dan mengambil kesempatan untuk menjaring umat sebanyak-banyaknya.”

— Namo Uci Yauw Ce Cin Mu Ta Thien Cun —

 


  Dharma Center 'BUNDA MULIA' 
Jakarta, INDONESIA

  Vihara 'Yauw Ce Cin-Mu'  
Hua Lien, TAIWAN.

Copyright © 2001 Yayasan Dharma Mulia Persada Indonesia. All rights reserved.