Penurunan Ajaran Dharma Mulia
(dikutip dari buku "Kisah-Kasih
Spiritual Bagian
8 - oleh: Wisnu Prakasa")
Berdasarkan pengalaman saya yang sangat terbatas ini, saya
hanya dapat menerangkan bahwa penurunan ajaran langsung yang saya terima dari
Bunda Mulia dapat saya bagi menjadi dua bagian penurunan. Pertama adalah
penurunan ajaran melalui Roh Sejati, dan kedua adalah penurunan melalui
Kesadaran Sejati.
Penurunan ajaran melalui Roh Sejati, biasanya diawali
dengan adanya sinar emas yang sangat kemilauan memancar dari tubuh Bunda Mulia
keseluruh tubuh saya. Sinar emas ini bagaikan sorotan sinar matahari, tetapi
warnanya keemasan dan jauh lebih terang benderang. Seketika itu juga tubuh
saya terasa hampa, dan timbul energi dari dalam yang mulai menggerakan seluruh
pusat cakra. Dengan mengikuti gerakan ini, saya sekejab langsung memahami
berbagai mantra, mudra dan gerakan-gerakan khusus lainnya.
Ketika proses berlangsungnya penurunan ajaran melalui Roh
Sejati biasanya saya dapatkan secara tertutup dan hanya disaksikan oleh para
murid-murid di vihara Bunda Mulia Hua Lien dan selalu didampingi langsung oleh Wanita Berjubah Biru.
Walaupun pembinaan Roh Sejati merupakan salah satu ajaran yang juga banyak
dibina oleh para murid Bunda Mulia di Taiwan, tetapi beberapa murid utama dari
Bunda Mulia di Taiwan sangat tertarik menyaksikan proses penurunan ajaran yang
saya terima dari Bunda Mulia. Dimana keterbatasan bahasa dan kata-kata, tidak
lagi menjadi penghalang saya dalam menerima silsilah ajaran dari Dharma Mulia.
Dalam beratus-ratus tahun belakangan ini, proses penurunan ajaran langsung oleh Bunda
Mulia masih terbilang sangat langkah. Biasanya para pembina Roh Sejati, hanya
menerima ajaran dari seorang guru atau hanya dari para mahluk suci lainnya.
Saya merasa sangat bersyukur atas berkah yang saya terima langsung dari Bunda Mulia,
dan ternyata ajaran pembinaan Roh Sejati dapat saya pahami selengkapnya dalam
waktu yang sangat singkat.
Cara penurunan ajaran yang kedua adalah melalui Kesadaran Sejati, biasanya diawali
atas petunjuk dari Bunda Mulia dalam meditasi kesadaran sejati
atau menjernihkan kesadaran terlebih dahulu. Setelah kesadaran terbebaskan
dari segala keterikatan pikiran, maka proses penurunan ajaran berlangsung
seketika. Apa yang saya dengar, lihat, rasakan, dsb; semuanya menjadi satu
kesatuan ajaran Dharma yang sangat sulit saya gambaran. Saya hanya dapat
memberikan sedikit gambaran bagaikan kita melihat air, mendengar suara air,
dan merasakan kesegaran air. Semuanya menjadi satu kesatuan dengan kesadaran
kita.
Proses pembinaan spiritual saya dalam membina Dharma Mulia
sangat sulit dipahami bagi mereka yang tidak mengenal sayan sejak awal, karena
penurunan ajaran ini jauh melampau keterbatasan bahasa, kalimat, dan
kata-kata. Selanjutnya, ajaran yang saya dapatkan dari Bunda Mulia ini terasa
menjadi bagian dari diri saya. Dimana Ajaran Dharma Mulia menjadi sangat mudah
dipahami.
Sejak membina ajaran Dharma Mulia secara langsung dari
Bunda Mulia, satu hal lagi yang saya rasakan. Segala macam kitab, sutra, dan
ajaran-ajaran Dharma para Guru Besar dan Para Master yang saya baca menjadi
lain. Selama ini saya telah salah paham dengan makna yang terkandung
didalamnya. Ternyata semuanya sejak dahulu membicarakan satu pokok utama,
tetapi dengan gaya bahasa yang berbeda-beda.
Kitab suci, tidak hanya sekedar menceritakan berbagai macam
alam spiritual, atau hanya mencerikan riwayat hidup para Mahluk Suci, atau
hanya membuat larangan-larangan agar para mahluk untuk berbuat jahat, dan
mengharuskan para mahluk untuk berbuat kebaikan. Masih ada makna yang lebih
berharga dari semua ini, yaitu memberikan bimbingan kepada para mahluk untuk
mengenal sumber penderitaan dan sumber kebahagiaan, shingga para mahluk dapat
mencapai Pencapaian Agung.
Demikan pula dengan ajaran para Guru Besar dan para Master.
Mereka menulis ajarannya bukan hanya sebagai cerita biasa, atau sebagai kisah
lucu, atau hanya sebagai contoh yang dikarang. Ternyata sebenarnya mereka
telah berusaha untuk menunjukan sumber penderitaan dan sumber kebahagian
kepada para murid-muridnya. Sungguh sangat disayangkan bahwa jerih payah para
Guru Besar dan Master tersebut hanya dianggap sebagai cerita umum yang biasa
bagi para muridnya
— Namo Uci Yauw Ce Cin Mu Ta Thien Cun —