Ketika para guru besar dan master spiritual
menurunkan ajaran kepada para muridnya, maka murid tersebut telah memegang
suatu tanggung jawab untuk melatih dan membina ajaran tersebut hingga mencapai
hasil seperti yang diharapkan oleh guru.
Dimasa sekarang ini, tanggung jawab
murid untuk melatih dan membina ajaran yang telah diturunkan oleh para guru
semakin mengecil. Hal ini disebabkan karena timbul banyak karma penghalang
didalam diri sang murid.
Banyak murid setelah menerima penurunan
ajaran (menerima silsilah ajaran) terlebih-lebih ajaran khusus dan rahasia,
langsung merasa bagaikan telah menguasai ajaran tersebut sehingga dirinya
hanya membangga-banggakan ajaran tersebut. Rasa bangga yang timbul ini akan
terus membayanginya, sehingga dirinya semakin sulit untuk mengerti intisari
dari ajaran tersebut. Intisari ajaran hanya dapat terungkap dengan giat
berlatih dan membina ajaran yang diterima dari gurunya.
Bagaikan seorang juru masak yang mengajarkan
cara membuat suatu masakan spesial, sang juru masak dapat membimbing dan
mempersiapkan segala bahan-bahan keperluan bagi muridnya. Sang murid harus
berlatih dan mempraktekkan langsung cara memasak yang telah diajarkan oleh gurunya.
Bilamana sang murid telah dapat membuat masakan yang sama lezatnya seperti
gurunya, maka dirinya dapat dikatakan telah mencapai dan menguasai intisari
ajaran tersebut.
Tetapi sangat disayangkan, para murid-murid
yang setelah menerima ajaran membuat masakan spesial dari gurunya, pada
umumnya akan timbul rasa bangga akan kehebatan dan kelezatan masakan dari
resep yang didapatnya. Setelah mendapatkan resep ajaran, dirinya selalu
membanggakan kepada mahluk lainya bahwa dirinya telah dapat membuat masakan
yang terlezat di dunia. Mereka tidak lagi mengetahui bahwa rasa bangga yang
timbul ini sebenarnya telah menutupi dirinya untuk melatih dan mencoba membuat
masakan tersebut sendiri.
Tanpa mengetahui bahan dan bagaimana
mengolahnya, dirinya terjerat untuk selalu membanggakan kehebatannya karena
telah dipercaya oleh gurunya untuk menerima ajaran tersebut. Banyak para murid
yang terjerat oleh rasa bangga hanya karena dapat berhubungan dan dapat
menerima ajaran dari gurunya. Dirinya hanya membanggakan kehebatan pencapaian
gurunya, atau tentang ajaran yang telah didapatnya. Akhirnya mereka terjerumus
semakin jauh dan semakin sulit untuk menguasai intisari ajaran.
Dirinya telah lupa bahwa lain koki lain
rasa, walaupun dengan memakai resep dan alat yang sama. Demikian pula dengan
ajaran yang didapat para murid, walaupun seorang guru menurun satu ajaran,
setiap murid akan menerima dan menangkap maknanya dengan berlainan.
Para murid seharusnya berlatih keras dan
mempraktekkan segala ajaran yang didapatnya hingga dapat mencapai intisari yang
sebenarnya. Bilamana mereka telah mengerti akan intisari ajaran yang
sesungguhnya, maka tentunya tiada lagi perbedaan dan rasa bangga yang dapat
menghalangi.
Bunda Mulia telah banyak menurunkan ajaran
selama ribuan tahun, baik ajaran untuk umum hingga ajaran rahasia. Ajaran
rahasia bukan berarti ajaran ini terus dirahasiakan, tetapi ajaran ini hanya
diungkapkan bagi mereka yang telah siap untuk menerima ajaran tersebut. Dimana
ajaran Bunda Mulia hanya dapat diturunkan bagi mereka memang telah
bersungguh-sungguh ingin membina kehidupan spiritual dan menjadi mahluk
spiritual.
Rahasia atau tidaknya suatu ajaran bukanlah berarti baik
atau tidaknya guru kita. Rahasia atau tidaknya suatu ajaran berdasarkan oleh
kesiapan diri kita sendiri untuk menerima ajaran tersebut. Bilamana sang guru
melihat diri kita telah siap untuk menerima ajaran tertentu, maka sang guru
pasti akan menurunkan ajaran tersebut.