Home
Back
Info Dharma
Galleria

Penurunan Ajaran
(dikutip dari buku "Kisah-Kasih SpiritualBagian 3 -  Wisnu Prakasa")

Ketika para guru besar dan master spiritual menurunkan ajaran kepada para muridnya, maka murid tersebut telah memegang suatu tanggung jawab untuk melatih dan membina ajaran tersebut hingga mencapai hasil seperti yang diharapkan oleh guru.

Dimasa sekarang ini, tanggung jawab murid untuk melatih dan membina ajaran yang telah diturunkan oleh para guru semakin mengecil. Hal ini disebabkan karena timbul banyak karma penghalang didalam diri sang murid.

Banyak murid setelah menerima penurunan ajaran (menerima silsilah ajaran) terlebih-lebih ajaran khusus dan rahasia, langsung merasa bagaikan telah menguasai ajaran tersebut sehingga dirinya hanya membangga-banggakan ajaran tersebut. Rasa bangga yang timbul ini akan terus membayanginya, sehingga dirinya semakin sulit untuk mengerti intisari dari ajaran tersebut. Intisari ajaran hanya dapat terungkap dengan giat berlatih dan membina ajaran yang diterima dari gurunya.

Bagaikan seorang juru masak yang mengajarkan cara membuat suatu masakan spesial, sang juru masak dapat membimbing dan mempersiapkan segala bahan-bahan keperluan bagi muridnya. Sang murid harus berlatih dan mempraktekkan langsung cara memasak yang telah diajarkan oleh gurunya. Bilamana sang murid telah dapat membuat masakan yang sama lezatnya seperti gurunya, maka dirinya dapat dikatakan telah mencapai dan menguasai intisari ajaran tersebut.

Tetapi sangat disayangkan, para murid-murid yang setelah menerima ajaran membuat masakan spesial dari gurunya, pada umumnya akan timbul rasa bangga akan kehebatan dan kelezatan masakan dari resep yang didapatnya. Setelah mendapatkan resep ajaran, dirinya selalu membanggakan kepada mahluk lainya bahwa dirinya telah dapat membuat masakan yang terlezat di dunia. Mereka tidak lagi mengetahui bahwa rasa bangga yang timbul ini sebenarnya telah menutupi dirinya untuk melatih dan mencoba membuat masakan tersebut sendiri.

Tanpa mengetahui bahan dan bagaimana mengolahnya, dirinya terjerat untuk selalu membanggakan kehebatannya karena telah dipercaya oleh gurunya untuk menerima ajaran tersebut. Banyak para murid yang terjerat oleh rasa bangga hanya karena dapat berhubungan dan dapat menerima ajaran dari gurunya. Dirinya hanya membanggakan kehebatan pencapaian gurunya, atau tentang ajaran yang telah didapatnya. Akhirnya mereka terjerumus semakin jauh dan semakin sulit untuk menguasai intisari ajaran.

Dirinya telah lupa bahwa lain koki lain rasa, walaupun dengan memakai resep dan alat yang sama. Demikian pula dengan ajaran yang didapat para murid, walaupun seorang guru menurun satu ajaran, setiap murid akan menerima dan menangkap maknanya dengan berlainan.

Para murid seharusnya berlatih keras dan mempraktekkan segala ajaran yang didapatnya hingga dapat mencapai intisari yang sebenarnya. Bilamana mereka telah mengerti akan intisari ajaran yang sesungguhnya, maka tentunya tiada lagi perbedaan dan rasa bangga yang dapat menghalangi.

Bunda Mulia telah banyak menurunkan ajaran selama ribuan tahun, baik ajaran untuk umum hingga ajaran rahasia. Ajaran rahasia bukan berarti ajaran ini terus dirahasiakan, tetapi ajaran ini hanya diungkapkan bagi mereka yang telah siap untuk menerima ajaran tersebut. Dimana ajaran Bunda Mulia hanya dapat diturunkan bagi mereka memang telah bersungguh-sungguh ingin membina kehidupan spiritual dan menjadi mahluk spiritual.

Rahasia atau tidaknya suatu ajaran bukanlah berarti baik atau tidaknya guru kita. Rahasia atau tidaknya suatu ajaran berdasarkan oleh kesiapan diri kita sendiri untuk menerima ajaran tersebut. Bilamana sang guru melihat diri kita telah siap untuk menerima ajaran tertentu, maka sang guru pasti akan menurunkan ajaran tersebut.

 

Namo Uci Yauw Ce Cin Mu Ta Thien Cun

 


  Dharma Center 'BUNDA MULIA' 
Jakarta, INDONESIA

  Vihara 'Yauw Ce Cin-Mu'  
Hua Lien, TAIWAN.

Copyright 2001 Yayasan Dharma Mulia Persada Indonesia. All rights reserved.