Home
Back
Info Dharma
Galleria

Petunjuk Larangan
(dikutip dari buku "Kisah-Kasih Spiritual 2 -  Wisnu Prakasa")

Jangan membunuh,
Jangan mencuri,
Jangan berbohong,
..........
............
dan masih banyak larangan dan aturan lainnya yang harus dipatuhi.

Walaupun semua manusia selalu berusaha untuk tidak berbuat demikian, tetapi tidak semua manusia mempunyai dasar dan motifasi yang sama.

Banyak manusia yang mematuhi larangan tersebut hanya demi mencapai suatu tujuan tertentu, mereka tidak melakukan perbuatan tersebut hanya untuk kepentingan pribadi. Semua aturan dan larangan dipatuhi mereka, demi mengejar dan menjaga status sosial agar selalu dinilai sebagai orang baik.

Larangan ini sebagai standar untuk membedakan antara baik dan buruk. Akhirnya tanpa disadari semakin banyak manusia yang selalu berusaha untuk menutupi keburukannya dan saling menonjolkan kebaikan demi kepentingan pribadi.

Banyak manusia yang mematuhi larangan tersebut hanya karena berdasarkan unsur luar. Mereka terpaksa melakukannya karena merasa takut dan malu. Ketika mereka telah melanggar apa yang telah dilarang, mereka akan merasakan suatu perasaan menyesal, ketakutan, malu, bersalah. Adapula yang merasa ketakutan hanya karena khawatir perbuatannya diketahui oleh yang lain, sehingga takut mendapatkan hukuman, denda, nama yang tercemar, dan sebagainya. Masih banyak tujuan-tujuan lainnya yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Mereka berlaku bagaikan seorang anak kecil. Dimana seorang anak kecil takut melakukan perbuatan buruk karena merasa takut akan hukuman dari orang tua. Seorang anak kecil memang tidak melakukan perbuatan buruk, tetapi niat mereka bukan berawal dari kesadarannya sendiri. Dimana seorang anak kecil akan mentaati aturan karena rasa takut akan mendapatkan hukuman dari orang tuanya.

Demikian pula dengan mereka yang tidak melakukan perbuatan yang tidak baik kadang juga mempunyai tujuan untuk kepentingan pribadinya, sebagai contoh: dimana mereka memberikan sedekah kepada fakir miskin agar mendapatkan balasan berkah dan rejeki dari Yang Maha Kuasa. Adapula yang memberikan sedekah agar dikenal sebagai seorang yang derwaman, dan adapula yang mengharapkan predikat dan posisi tertentu dalam menyumbang.

Perbuatan mereka bagaikan perbuatan seorang anak kecil. Dimana anak kecil akan belajar lebih giat, karena mengharapkan hadiah yang telah dijanjikan oleh orang tuanya bila mendapatkan hasil ulangan yang baik. Anak kecil ini tidak menyadari bahwa belajar yang baik akan lebih bermanfaat bagi dirinya dibandingkan hadiah yang dijanjikan orang tuanya.

Inilah adalah kesalah-pahaman terbesar sepanjang sejarah manusia, dimana apa yang diperbuat manusia selalu diikuti dengan kepentingan untuk kepentingan dirinya. Keinginan yang timbul ini sebenarnya merupakan salah satu bentuk perwujudan dari gambaran keinginan yang timbul dari pikiran.

Bilamana kita telah mengetahui sumber dari pada keinginan, maka segala perbuatan kita tidak lagi terpengaruh oleh segala gambaran keinginan. Sehingga apa yang kita perbuat akan berjalan sebagaimana mestinya tanpa didasari lagi dengan tujuan tertentu yang mengharapkan hasil demi kepentingan diri sendiri.

"Bilamana kita memberi dengan tangan kanan, sebaiknya tangan kiri tidak mengetahuinya.". Sungguh suatu ungkapan yang sangat besar sekali maknanya, dimana hal ini mengajarkan manusia untuk selalu berbuat tanpa harus mempunyai tujuan tertentu sebatas kepentingan diri sendiri saja.

Semua orang telah mengetahui norma-norma kehidupan, dimana manusia harus berbuat baik dan menghindari perbuatan buruk. Bila kita pahami lebih lanjut, betapa pandainya kita dalam mengenal segala pengetahuan tentang norma-norma kehidupan tersebut. Setiap saat kita selalu membaca tentang ajaran untuk berbuat kebaikan dan menghindari perbuatan buruk. Tetapi jujurlah untuk menjawab, berapa besar yang telah kita lakukan dan perbuat tanpa didasari oleh tujuan pribadi ?

Ajaran tentang norma-norma kehidupan dibuat karena manusia tidak lagi dapat menjaga dan memegang teguh akan norma-norma kehidupan. Ajaran ini dibuat untuk membantu manusia dalam menjaga keharmonisan didalam kehidupan bermasyarakat dan membina kehidupan spiritual. Semakin banyak norma-norma kehidupan yang diabaikan oleh manusia, semakin banyak aturan larangan yang harus dibuat untuk menjaga norma-norma kehidupan manusia.

Selanjutnya, ajaran tentang norma-norma kehidupan hanya dianggap sebagai ilmu pengetahuan umum yang biasa didalam masyarakat. Manusia tidak lagi giat belajar dan berlatih untuk memahami ajaran tersebut, tetapi mereka terjerat untuk saling menbandingkan pengetahuannya masing-masing. Sehingga waktu mereka banyak terbuang dengan percuma tanpa dapat memetik manfaatnya dari ajaran-ajaran tersebut.

Bilamana kita telah memahaminya, maka kita akan menyadari bahwa sesungguhnya petunjuk larangan itu memang sudah sepantasnya kita patuhi. Demikian pula dengan ajaran tentang norma-norma kehidupan, sudah sepantasnya kita laksanakan. Semua ini kita lakukan bukan berdasarkan untuk kepentingan pribadi, tetapi semua yang kita lakukan karena memang telah menjadi bagian yang tidak dapat terpisahkan dari kesadaran alamiah dan kehidupan sebagai mahluk spiritual.

Berbuatlah seperti matahari yang menyinari bumi tanpa mempunyai tujuan atau mengharapkan apapun, semua ini berlangsung karena memang sifat alamiah dari matahari yang mempunyai cahaya untuk menyinari. Bagaikan matahari yang memberikan cahaya kepada pohon apel, tetapi matahari tidak pernah meminta dan mengharapkan pamrih disaat pohon apel tersebut telah berbuah.

Namo Uci Yauw Ce Cin Mu Ta Thien Cun

 


  Dharma Center 'BUNDA MULIA' 
Jakarta, INDONESIA

  Vihara 'Yauw Ce Cin-Mu'  
Hua Lien, TAIWAN.

Copyright 2001 Yayasan Dharma Mulia Persada Indonesia. All rights reserved.