Disaat berumur dua tahun, kita hanya
tertarik pada susu dan mainan, tetapi semakin kita tumbuh ketertarikan kita
semakin bertambah. Inilah salah satu sifat dari pikiran, dimana pikiran juga
sangat dipengaruhi oleh tubuh dan indera. Sehingga pikiran yang tidak terbina
akan semakin kuat memperdaya hanya untuk memuaskan kepuasan tubuh dan indera.
Bilamana kita menganggap pikiran adalah
jati-diri yang sebenarnya, bagaimana mungkin pikiran selalu terpengaruh oleh
perkembangan tubuh dan indera yang tidak permanen. Dengan memahami
perkembangan tubuh, kita dapat memahami bahwa pikiran bukanlah jati diri yang
sesungguhnya, dimana pikiran juga bukan merupakan sesuatu yang permanen karena
pikiran disaat berumur dua tahun, disaat remaja, disaat sekarang, dan disaat
tua masing-masing akan berlainan.
Setiap hari dan setiap saat, pikiran selalu
dipenuhi dengan segala konsep, pandangan, teori, dan gambar-gambaran lainnya
yang selalu berubah-rubah. Jika kita pahami, pikiran manakah yang sebenarnya
sebagai jati-diri yang sesungguhnya ? ataukah semua pikiran yang timbul adalah
semu belaka.
Demikian pula dengan keadaan dan kondisi alam, dimana setiap
saat pikiran dan tubuh akan merasakan keadaan dan kondisi yang berbeda-beda.
Keadaan dan kondisi manakah yang sebenarnya bagi pikiran dan tubuh ? ataukah
semua keadaan dan kondisi juga semu belaka ?