Home
Back
Info Dharma
Galleria

Remaja Putri Yang Kerasukan
(dikutip dari buku "
Kisah-Kasih Kerasukan -  Wisnu Prakasa")

 Guru Utama pembina spiritual adalah Kesadaran Jernihnya,
        Pelindung utama pembina spiritual adalah Kesadaran Jernihnya,
                Pendamping utama pembina spiritual adalah Kesadaran Jernihnya.
                                                                                                ( Bandung, 2001 )
   

Dibulan maret 2001 di kota kembang, Bandung. Seorang remaja putri berumur 19 tahun Kerasukan roh. Kemudian keluarganya meminta bantuan seorang pengurus Senior dari salah satu vihara, yang dipercaya memiliki kemampuan lebih dalam kekuatan spiritual.

Pengurus Senior vihara ini datang dengan  pakaian dan berbagai attribut keagamaannya yang sangat lengkap. Kemudian, Pengurus Senior ini langsung membacakan berbagai mantra pengundangan Bodhisattva dan Dharmapala. Walau telah dibacakan bermacam-macam mantra Bodhisattva hingga menempelkan senjata Dharmapala ke atas kepada dan tubuh remaja ini, ternyata roh tersebut tidak menunjukan ketakutan sedikitpun. Bahkan remaja putri yang kerasukan ini, tampak menjadi semakin marah dan kasar. Bahkan, semakin pengurus Senior memaksakan kehendaknya, dengan berbagai cara mengusir kerasukan tersebut, remaja yang kerasukan ini semakin marah dan kasar terhadapnya, bahkan hingga banyak terucap kata-kata yang tidak pantas didengar dan sangat merendahkan pengurus Senior dan atribut-atribut keagamaannya.

Semenjak kejadian ini, banyak pula umat di vihara tersebut menjadi bingung. Di dalam hati mereka selalu bertanya, bagaimana mungkin roh yang demikian tidak merasa takut sedikitpun dengan mantra-mantra suci dan senjata Dhamapala ? Pengurus Senior vihara tersebut hanya mengatakan bahwa roh yang datang adalah roh yang sangat jahat. Tetapi penjelasan pengurus vihara ini, tetapi tidak dapat diterima oleh para umatnya. Mereka semakin bingung,  Bukankah kalau memang benar kerasukan roh jahat, seharusnya roh jahat tersebut akan lebih takut kepada mantra-mantra suci Bodhisattva dan Dharmapala. Mengapa justru roh jahat tersebut menjadi semakin berani dan kasar, bahkan berani pula mengeluarkan kata-kata penghinaan yang tidak layak didengar ?

Pada suatu kesempatan mengajar Dharma di Bandung, para umat membawa remaja putri tersebut kehadapan saya. Di dalam wajah mereka tampak jelas terkandung rasa bingung dan kalut. Saya memahami keadaan dan perasaan mereka, dimana pikiran mereka penuh dengan tanda tanya, “Mengapa mantra-mantra suci dan pusaka senjata Dharmapala tidak dapat mengalahkan roh yang demikian ?”, dan masih banyak lagi pertanyaan yang tampaknya ingin disampaikan kepada saya.

Bahkan beberapa umat akhirnya mengemukakan kebingungannya kepada saya. Mereka langsung bertanya: Jika disaat kita membutuhkan bantuan, dengan membaca mantra-mantra suci para mahluk suci tidak datang. Berarti disaat kita berpuja bhakti, apakah para mahluk suci tersebut juga tidak akan datang ?

Sebenarnya saya tidak ingin ikut mencampuri urusan yang telah ditangani oleh orang lain. Dan para umat juga mengetahui bahwa saya tidak akan mencampuri urusan yang berhubungan dengan orang lain atau aliran lain.  Tetapi saya melihat wajah para umat yang sangat memelas mengharapkan bantuan saya, dan hati nurani saya mengetahui adanya ketidak beresan dalam kejadian kerasukan ini. Dampaknya sangat luar biasa, sehingga dapat  membuat para umat semakin terjerumus dalam suatu kebingungan akan apa yang telah dipercaya dan dibina selama bertahun-tahun.

Mendengar banyaknya umat yang memohon bantuan akan masalah kerasukan remaja purti ini, dan juga mengetahui adanya sesuatu yang tidak sewajarnya pada kejadian remaja putri ini. Saya memutuskan untuk langsung memohon petunjuk dari Bunda Mulia agar diberikan penjelasan yang sebenarnya atas permasalahan ini. Dengan tenang saya selalu menjaga Kejernihan Kesadaran dan membangkitkan Roh Sejati untuk mencapai tingkat kekosongan mutlak, sehingga  kesadaran saya bagaikan cermin yang menangkap gambaran dari berkah Bunda Mulia. Seketika itu juga, dengan sejelasnya, Kesadaran saya menangkap seluruh gambaran kejadian peristiwa remaja putri tersebut dari awal hingga akhir.

Kemudian saya memanggil anak perempuan dan mengatakan kepadanya, “Sebelum kejadian tersebut malam  tersebut, kamu berdoa di depan foto nenek kamu  ?”

Mendengar pertanyaan saya yang tidak terduga-duga, seketika itu wajahnya tampak sangat terkejut. Anak perempuan ini, langsung berlutut di hadapan saya,  wajahnya menunduk ke tanah, sambil berkata dengan pelan, "ya...”.

Mendengar jawaban anak perempuan ini, seketika itu seluruh umat menjadi kaget sekali akan pengakuannya.

“Dan memohon nenek kamu datang dan menggunakan tubuhmu ?”, lanjut saya bertanya lagi

“ya…”, jawab remaja  putri ini kembali dengan lebih perlahan.

Para umat semakin bingung dan kaget. Tidak menyangka akan pertanyaan dan jawabanya yang didengarkannya.

“Tetapi kemudian nenek kamu ditangkap oleh dua roh penjaga yang ...... .” (saya tidak dapat menuliskan selengkapnya, demi menjaga rahasia langit)

“ya…”, remaja ini menjawab sambil menganggukan kepala.

“Kamu melihat nenek kamu ditangkap. Kemudian kamu mengamuk dan berontak untuk menolong nenek kamu.”

“Benar…. Saya marah tetapi juga sangat takut, karena nenek dipaksa begitu.”

“Ternyata sia-sia saja. Mereka tidak memperdulikan kamu.”.

“Iya, saya sangat sedih.” jelasnya.

“Nenek kamu telah berada di satu tempat alam penantian, tetapi karena mendengar kamu memanggilnya. Kemudian melarikan diri, tetapi ternyata ketahuan oleh penjaga di alam penantian tersebut. Sehingga akhirnya harus ditangkap kembali dengan paksa.” jelas saya.

“Saya benar-benar tidak menyangka akan menjadi demikian parah. Saya juga tidak berani mengungkapkannya kepada orang lain, karena takut lebih disalahkan lagi.” jawabnya.

“Jangan sekali-kali lagi, melakukan ini lagi. Akhirnya nenek kamu harus menanggung akibatnya. Seharusnya kamu, mendoakan agar nenek kamu dapat tenang di alam penantiannya, bukan mengganggunya.”

“Maaf, saya benar-benar bersalah.” jawabnya perlahan.

“Kamu masih beruntung hanya mengalami masalah ini. Banyak yang mengundang kembali keluarganya yang telah meninggal, ternyata yang datang hanya para mahluk halus gentayangan lainnya. Mereka mengetahui bahwa roh keluarga kamu yang meninggal, tidak dapat datang lagi. Dan mereka akan mengaku-ngaku sebagai roh keluarga kamu, bahkan banyak pula yang berani mengaku sebagai roh mahluk suci.”

“…” dirinya hanya terdiam.

Tiba-tiba ada seorang umat yang bertanya langsung, “Mengapa roh ini tidak takut kepada mantra-mantra suci yang kita bacakan ?”

“Demi kebaikan bersama, saya tidak akan mengungkapan rahasia ini sepenuhnya. Mantra suci bukannya tidak berhasil mengusir roh jahat, tetapi masih banyak unsur lainnya seperti tujuan, makna, situasi, kondisi, waktu, ketulusan hati, dan juga kejernihan kesadaran dari yang melafalkan mantra-mantra suci. Pelafalan mantra suci digunakan untuk mengundang para mahluk suci, agar dapat melimpahkan berkah dan welas asih kepada para mahluk. Kejadian ini dapat dikategorikan urusan keluarga, dimana seorang cucu memohon bantuan dari sang nenek yang telah meninggal. Sang cucu memiliki keyakinan yang demikian kuat, akan doa pengundangan roh sang nenek. Sehingga timbul suatu energi alamiah yang menghubungkan doanya hingga ke alam penantian dari mereka yang telah meninggal.”

“Wow…” beberapa umat berguman dengan takjubnya.

 “Inilah bukti nyata yang kalian lihat dan saksikan sendiri. Dengan melafalkan mantra, puja-puji, doa, permohonan. Jika kita memiliki keyakinan yang kuat, maka segala yang kita lakukan, segala persembahan, dan permohonan kita akan terdengar hingga keseluruh penjuru alam, bahkan hingga ke alam para Mahluk Suci Tanpa Batas.”

 

— Namo Uci Yauw Ce Cin Mu Ta Thien Cun —

 


  Dharma Center 'BUNDA MULIA' 
Jakarta, INDONESIA

  Vihara 'Yauw Ce Cin-Mu'  
Hua Lien, TAIWAN.

Copyright © 2001 Yayasan Dharma Mulia Persada Indonesia. All rights reserved.