Tradisi Yang Hilang
(dikutip dari buku "Kisah-Kasih
Spiritual
- Wisnu Prakasa" )
Kebiasaan yang dilakukan oleh para nenek
moyang terdahulu, dikatakan sebagai tradisi. Arti kata tradisi, kadang dianggap
sebagai suatu kebiasaan yang dianggap tidak bermanfaat karena tidak memiliki
penjelasan yang benar.
Saya banyak mendengar dari para generasi muda, yang menganggap
seluruh puja-bhakti, sembahyang pada malam tahun baru, upacara Cauw-Tu, upacara
Syukuran, Fung-Shui, dsb, hanya sebagai tradisi. Saya tidak mempertentangkan
keyakinan mahluk lain, karena setiap mahluk tingkat kebijaksanaan dan spiritual
yang berbeda, sesuai dengan karma masing-masing.
Saya teringat akan teman kuliah yang berasal dari America,
ketika saya masih sekolah di Amerika. Teman itu mengatakan bahwa pemuda
Indonesia ketika menonton film di bioskop, cenderung memilih kursi di belakang.
Bahkan pelajar Indonesia di Amerika, ketika duduk di kelas biasanya cenderung
memilih duduk kursi di belakang. Walau ada yang memilih di depan, tetapi hanya
sebagian kecil dapat dihitung dengan jari. Sungguh suatu kebiasaan dan tradisi
yang aneh, katanya.
Teman saya juga menjelaskan bahwa bagi orang amerika, menonton
film di bioskop cenderung memilih duduk di tengah atau lebih ke depan, akan
dapat merasakan gambar dan sound system yang lebih baik dan seru. Dan duduk
lebih depan di dalam kelas, agar dapat mendengar dan melihat lebih baik akan
materi yang diterangkan oleh guru
Saya sangat membenarkan analisa dan pengamatan tema saya ini,
yang sangat masuk akan logika. Saya secara pribadi juga memilih tempat duduk di
tengah atau agak kebelakang bila menonton film di bioskop. Saya dengan sedikit
bercanda mengatakan bahwa lebih-lebih menonton film mandarin, saya tidak akan
mau duduk di bangku depan. Dan saya lebih baik tidak menonton film mandarin,
bisa harus duduk di bangku paling depan. Mendengar ‘pandangan pribasi saya yang
terasa sangat ektreem bagi dirinya’, teman saya semakin bingung. Kebingunan ini
terutama karena teman saya benar-benar mengenal saya cukup lama, bahkan teman
saya juga mengakui bahwa saya hampir seperti seorang Pure-Scientist sejati
(ilmiah tulen) yang terlalu cenderung menghadapi kehidupan dengan akan sehat dan
logika.
Mengetahui kebingungannya yang luar biasa, saya lalu
menjelaskan dengan singkat. Maksud saya menjelaskan alasan saya, bukan untuk
menentang pendapat teman saya, atau hanya mencari-cari alasan yang dibuat-buat
untuk kebenaran. Alasan saya untuk melakukan sesuatu, juga tidak dapat mewakili
seluruh pelajar indonesia lainnya.
Saya memilih bangku yang agak kebelakang ketika menonton film
mandarin, sebab saya tidak mengerti bahasa mandarin sehingga saya harus membaca
subtitle atau teks terjemahannya. Jika saya duduk terlalu kedepan, maka saya
harus memutar leher saya dari kiri ke kanan terus untuk setiap baris tulisan
terjemahannya. Bisa dibayangkan berapa ratus baris tulisan terjemahan yang harus
saya baca, dan berapa ratus kali saya harus memutar leher saya selama lebih dari
satu jam. Saya menonton bioskop untuk mencari hiburan, dan bukan
mencari penyakit pegal-pegal leher. Dengan duduk agak kebelakang, saya dapat
merasakan manfaatnya sehingga tidak harus memaksakan leher saya terus bergerak
kiri-kanan untuk membaca terjemahan teksnya selama film berlangsung.
Kekurangan saya yang tidak dapat mengerti bahasa mandarin,
ternyata membuat keadaan alamiah saya untuk duduk agak di belakang. Secara
alamiah, saya akan merasakan bahwa tempat duduk agak kebelakang terasa lebih
santai dan nyaman dibanding duduk di depan dan dekat layar. Saya juga melihat
beberapa teman saya, yang juga lebih senang duduk agak di belakang, walau mereka
kadang tidak lagi menyadari alasan mereka untuk memilih tempat yang agak
di belakang. Mereka juga tidak salah, karena mereka memang benar-benar merasa
lebih santai dan relaks ketika duduk di bangku agak kebelakang.
Saya merasakan pengamatan dan pandangan teman amerika saya,
ada kesamaannya seperti apa yang dialami oleh pandangan para generasi muda,
terhadap kebiasaan orang tua dan nenek moyang mereka. Kebiasaan orang tua dan
nenek moyang, tidak lagi dapat dipahami dan tidak dapat diterima dengan akal dan
logika generasi sekarang. Akhirnya mereka cenderung untuk menganggapnya sebagai
kebiasaan dan tradisi yang aneh dan hanya mengada-ngada.
— Namo Uci Yauw Ce Cin Mu Ta
Thien Cun —