Home
Back
Info Dharma
Galleria

Traktir Makan Siang
(dikutip dari buku "Kisah-Kasih Spiritual Bagian XI : Wisnu Prakasa")

Dibulan januari tahun ular, sepasang suami istri yang cukup berada dari luar kota jakarta, datang beserta anak perempuan yang masih remaja  mengunjungi saya di rumah. Kedatangannya untuk meminta petunjuk dari Bunda Mulia, atas permasalahan keluarga dan usaha.

Keluarga ini benar-benar takjub akan cara Bunda Mulia membantu para mahluk. Segala awal permasalah, dapat dijelaskan oleh Bunda Mulia dengan detail. Dan yang terpenting Bunda Mulia melimpahkan berkah kemulian untuk menyelesaikannya.

Beberapa bulan kemudian, keluarga ini mendatangi saya lagi. Ternyata kedatangannya, kali ini untuk mengucapkan rasa syukur dan terima kasih atas bantuan dan petunjuk Bunda Mulia.

Mereka juga membawa beberapa persembahan buah dan bunga, untuk ditaruh di meja altra Bunda Mulia, sebagai rasa terima kasih. Mereka kemudian menjelaskan bahwa petunjuk yang didapat sebelumnya, ternyata menjadi kenyataan semua. Begitu banyak bantuan yang datang, dan tidak diperkirakan. Mereka bahkan mengatakan bahwa kalau tidak mengalaminya sendiri, rasanya sulit mempercayai.

Saya mengingatkan bahwa semua ini atas berkah Yang Maha Kuasa. Terlebih-lebih bagi mereka yang mempunyai keyakin, jodoh dan karma baik. Saya hanya sebagai mahluk perantara, semuanya adalah berkah dari Yang Maha Kuasa.

Setelah berbincang-bincang, tiba-tiba mengeluarkan amplop merah, dan meminta saya untuk menerima sekedar persembahan mereka ini. Dengan berat hati, saya menolak persembahan mereka. Mereka tampak sekali sangat kecewa, atas penolakan saya.

Saya menjelaskan bahwa saya menolak persembahan mereka, karena saya mempunyai alasan khusus. Saya menjelaskan bahwa rasa terima kasih yang telah mereka haturkan kepada saya, merupakan persembahan yang tidak ternilai harganya bagi saya.

Mereka mengatakan sangat berhutang budi kepada saya, dan memaksa agar saya tetap menerima persembahannya.

Terpaksa saya menjelaskan, saya tidak melihat persembahan materinya. Jika mereka merasa berhutang budi, saya meminta mereka mentraktir saya makan saja kali ini.

Mendengar penawaran saya, dengan cepat disetujuinya. Tampak wajah mereka kembali berseri. Lalu mereka menanyakan makanan apa yang saya sukai, dan dimana. Saya meminta mereka untuk mentraktir saya makan mie ayam di kelapa gading dekat rumah saya. Mereka kembali terkejut, tetapi saya cepat-cepat menjelaskan bahwa hari ini saya hanya ingin makan mie ayam.

Mau tidak mau mereka menuruti kemauan saya, yang mungkin sangat aneh. Saya kemudian ikut dengan mobil mereka, pergi ke restoran mie ayam. Ketika sampai di ruko yang menjual mie ayam, tampak mereka agak ragu untuk memasuki ruko kecil , walau tampak dengan jelas adanya spanduk penutup matahari yang bertulis 'Mie Ayam'.

Melihat kecanggungan mereka, saya langsung berinisitif memasuki rumah makan kecil ini. Di rumah makan ini, saya menghabiskan dua mangkok mie ayam, dan keluarga itu  masing-masing 2 mangkok juga. Setelah selesai makan, suaminya meminta bonnya. Tertera dengan jelas sebanyak 8 mie ayam dan 4 es teh, dan jumlah yang harus dibayar tepat seharga Rp. 50.000,-.

Setelah selesai makan saya, mereka mengantarkan saya kembali kerumah. Mereka juga memohon pamit agar tidak mengganggu saya. Saya mengucapkan terima kasih atas perhatian dan makan siangnya.

Tiba-tiba sang ibu menangis terisak-isak, saya menjadi kaget melihat sang ibu menangis terisak-isak. Sang ibu dengan terisak-isak, mencoba menjelaskan bahwa dirinya sangat terharu terhadap saya. Ternyata seumur hidup, baru kali ini dia bertemu dengan orang seperti saya. Dan baru kali ini dia benar-benar menyadari bahwa uang sebesar Rp. 50.000,- sangat berharga dan bermakna bagi dirinya dan keluarganya. Disaat mereka mengalami kesusahan, banyak teman dan saudara menjauhinya. Mereka yang mendekatinya, banyak yang hanya memperalatnya belaka.

Mendengar perkataan hati sang ibu, anak perempuannya ikut menangis. Ternyata bapaknya juga tidak tahan menahan air matanya. Melihat keadaan menjadi penuh air mata, saya menjadi sedikit ricuh dan kagok menyaksikan dramatis ini.

Saya hanya dapat mengatakan bahwa manusia memiliki jodoh dan karma masing-masing. Kita yang memiliki karma baik, justru yang harus menunjukan kebaikan kepada para mahluk lainnya. Sudah menjadi tugas saya, untuk membantu para mahluk tanpa pamrih.

Saya hanya mengharapkan, benih karma baik yang saya tanam. Dapat dipelihara dan dilanjuti oleh para mereka yang pernah mendapatkan benih karma baik ini. Sehingga dari satu benih yang saya tanam, akan tumbuh dan berkembang menjadi benih-benih lainnya di hati para mahluk.

Namo Uci Yauw Ce Cin Mu Ta Thien Cun

 


  Dharma Center 'BUNDA MULIA' 
Jakarta, INDONESIA

  Vihara 'Yauw Ce Cin-Mu'  
Hua Lien, TAIWAN.

Copyright 2001 Yayasan Dharma Mulia Persada Indonesia. All rights reserved.