Tujuan Pembinaan Spiritual
(dikutip dari buku "Kisah-Kasih Spiritual Bagian XIII : Wisnu Prakasa")
Di bulan mei tahun 2001, seorang umat Buddha yang cukup berumur (sekitar 55
tahun) datang kerumah saya, dan menanyakan apa tujuan saya membina spiritual
sejak umur yang tergolong muda.
Mendengar pertanyaan yang cukup menarik ini, saya kemudian balik bertanya
kepadanya.
“Bila tidak keberatan, saya ingin mengetahui terlebih dahulu. Apa tujuan anda
membina spiritual selama ini ?”
Mendengar pertanyaan balik saya, yang tidak berbeda. Dirinya langsung
tersenyum, dan tampak sekilas raut rasa malu dibalik seyumnya.
Umat ini kemudian tampak seperti merenung sejenak, lalu berkata “Saya hanya
menginginkan kebahagian, keselamatan, dan rejeki bagi saya dan keluarga saya.”
“Bagus sekali. Apakah anda sudah mendapatkannya semuanya?”
“Saya telah mendapatkan sebagian besar apa yang saya inginkan. Rejeki saya
cukup berlimpah, kesehatan saya cukup baik bagi seumur saya, dan keluarga saya
termaksud harmonis dan boleh dikatakan keluarga yang bahagia.” Jelasnya.
“Luar biasa ! Pembinaan spiritual anda selama ini memang telah terbukti dan
tidak sia-sia, sehingga kehidupan anda selalu dipenuhi oleh berkah dari para
mahluk suci.” Kata saya.
“Benar. Hidup didunia, pasti ada saja halangan dan kendala. Tapi selama ini,
seluruh halangan dan kesulitan dalam kehidupan saya, semuanya dapat saya atasi.
Saya benar-benar merasakan banyaknya bantuan dari para Mahlul Suci, disaat saya
dalam kesulitan.”
“Bila tujuan sudah tercapai, lalu apa lagi yang harus dicapai dalam pembinaan
spiritual?” saya kembali bertanya.
“Saya rasa, sekarang saya harus mencari ketenangan hidup. Saya sudah bertekat
untuk mengundurkan diri dari segala kegiatan busines dalam 3 tahun lagi. Saya
ingin dapat lebih giat lagi membina jalan spiritual di hari-hari selanjutnya.”
Jelasnya.
“Maaf, Sungguh sangat disayangkan, membina spiritual hanya untuk mencari
ketenangan hidup. Sedangkan separuh lebih dari hidup anda sudah terlewati dan
terpakai. Buat apa membela kehidupan yang paling lama tinggal separuh lagi ?”
kata saya sambil bertanya balik.
Mendengar perkataan saya yang demikian, tampak sekali raut wajahnya yang
berubah drastis. Umat ini terdiam bisu, tetapi Tampak wajahnya penuh dengan
kebingungan.
Saya hanya menyaksikan reaksi umat ini, dimana saya melihat dengan jelas
ekpresinya bagaikan seorang anak kecil yang bingung tidak tahu berbuat apa-apa,
karena baru saja menyadari sesuatu yang tidak terduga.
Untuk memecahkan keheningannya, saya kembali berkata “Jika anda dapat
memahami lebih lanjut makna dan tujuan dari pembinaan spiritual, yang tidak
hanya sebatas mencari kebahagian dalam kehidupan ini. Anda sebenarnya telah
memahami sebagian tujuan dari pembinaan spiritual saya selama ini.”
“Jadi…” katanya singkat dan terdiam lagi.
“Saya dan anda tidak jauh berbeda. Hanya saja, saya memulainya lebih awal.
Anda telah menghabiskan lebih dari setengah hidup anda untuk mengejar kebahagian
dunia, dan saya telah menghabiskan hampir seperempat hidup saya untuk
mempelajari pengetahuan dunia. Setelah saya merasa telah cukup mendapatkan
pengetahuan dunia. Saya sangat beruntung, karena bertemu dengan Wanita Berjubah
Biru. Beliau yang menyadari saya pentingnya akan pembinaan spiritual yang
sesungguhnya. Tidak tahu, sampai kapan anda dapat memahami tujuan dari pembinaan
spirutal saya.”
“Terima kasih… Terima kasih…Terima kasih… Saya ingin retire(mengundurkan
diri) bulan ini juga, buat apa menunggu 3 tahun lagi. Saya ingin menjadi murid.”
Katanya sambil bangun dan memberi hormat kepada saya.
“Saya tidak menyuruh anda untuk mempercepat retire anda. Itu adalah keputusan
anda pribadi. Dan satu hal lagi. Sementara ini, saya tidak menerima murid,
karena waktu saya sangat terbatas sekali. Sebaiknya anda mencari Guru Spiritual
yang lebih berpengalaman dalam mengajar, sehingga anda dapat mencapai hasil yang
maksimal.”
“Tetapi…………………………………. “ katanya lebih lanjut dan panjang lebar, dengan
berbagai alasan yang beraneka ragam.
Walau bermacam-macam alasan dan berkali-kali memohon, tetap saja saya tidak
mungkin menerimanya sebagai murid. Walaupun sekilas tampak umat ini telah
menyadari Tujuan Pembinaan Spiritual saya, tetapi sebenarnya umat ini hanya
mengetahui kulitnya saja. Hal ini yang membuat saya tidak mungkin menerimanya
sebagai seorang murid.
Bagaimana dapat menjadi Guru dan Murid yang baik,
bila
keduanya mempunyai tujuan yang berbeda.
Bagaikan seorang Murid ingin pandai berenang,
bila
Gurunya hanya mengajarkan berhitung.
Bagaikan seorang Guru mengajar berenang,
bila
sang Murid hanya belajar berhitung.
Lebih baik menjadi dua sahabat,
yang
selalu saling membantu.
— Namo Uci Yauw Ce Cin Mu Ta
Thien Cun —