Ada seorang terpelajar
yang dalam kehidupannya tidak percaya akan Yang Maha Esa, dirinya selalu
menganggap bahwa mereka yang percaya dengan agama adalah mereka yang bodoh.
Setiap kali dia bertemu dengan temannya yang mempunyai kepercayaan terhadap
agama, dia selalu mendebatkannya.
Sering kali dia menantang temannya, sembari
mengeluarkan uang logam atau benda lainnya dari kantungnya, dan berkata:
"Bilamana memang Yang Maha Esa itu memang ada, tentu Yang Maha Esa bisa
mengambil uang logam ini dari tangan saya. Jika tidak dapat mengambil uang
ini, berarti tidak mungkin ada.".
Pada suatu undangan, saya bertemu duduk
disebuah meja dengan beberapa umat. Lelaki ini rupanya mengetahui sedikit
tentang saya, lalu memperkenalkan dirinya dan memohon izin dapat duduk
bersama-sama. Para umat mempersilahkan lelaki ini dan beberapa lelaki lainnya
untuk duduk semeja dengan saya.
Dirinya menanyakan tentang kepercayaan yang
saya jalani, tetapi saya selalu mengelak pertanyaannya dengan halus karena
saya mengetahui bahwa orang terpelajar seperti dirinya sangat keras kepala dan
tidak akan menghargai pendapat orang lain. Berdebat baginya hanya untuk
menunjukan keangkuhan bahwa dirinya lebih pandai dari yang lain.
Walaupun dirinya tampak sedikit sungkan
karena mengetahui bahwa saya juga lulusan dari universitas di amerika, dia
terus berusaha memancing saya untuk memulai perdebatan. Saya tetap mengelak
untuk berdebat dengannya. Semua ini saya lakukan, karena saya sangat
menghargai ajaran-ajaran spiritual dan kepercayaan setiap mahluk.
Saya secara pribadi mempunyai pandangan
bahwa ajaran-ajaran spiritual bukan hanya sebagai ilmu pengetahuan biasa yang
hanya dipelajari sebagai untuk menambah kepandaian intelektual. Ajaran-ajaran
spiritual hanya pantas dipelajari bagi mereka yang memang ingin membina
kehidupan spiritual.
Menyadari ketidak seriusan saya untuk
menjawab pertanyaannya, dia mulai berdebat dengan orang-orang didekatnya.
Seperti biasanya, dia pun lalu mengeluarkan uang logam dari kantungnya dan
berkata: "Buktikan bahwa kekuatan Tuhan Yang Maha Esa dapat mengambil uang
logam ini dari tangan saya.". Orang-orang didekatnya hanya terdiam mendengar
tantangannya yang sedikit sembrono.
Mendengar argumennya yang sedikit keras
terhadap umat lain, saya menanyakan "Maaf, mengapa anda berkeras hati ingin
meminta bukti dan apa manfaatnya bagi diri anda?" tanya saya.
"Segala sesuatu harus dibuktikan terlebih
dahulu, baru terbukti kebenarannya. Bila telah terbukti baru dapat dikatakan
benar-benar bermanfaat.", jawabnya cepat karena merasa bahwa saya mulai
terpancing.
"Benar perkataan anda, tetapi Yang Maha
Kuasa tidak akan melakukan hal yang bertentangan dengan hukum alam tanpa dasar
yang kuat. Semuanya tergantung jodoh dan kemauan anda sendiri." jelas saya
kepadanya.
"Maksud anda ?….. " pemuda ini bertanya
kembali kepada saya.
"Bukti yang anda harapkan kepada Yang Maha
Kuasa untuk mengambil uang logam dari tangan anda, tetap akan berlandaskan
dengan hukum alam."jawab saya.
"Jadi seharusnya bagaimana ?" tanyanya.
"Lemparkan uang logam itu keatas dengan
tangan kanan, lalu tangkap dengan tangan kiri." kata saya.
"Baik, saya akan melakukannya." Jawabnya
dengan tersenyum sambil melempar uang logam yang ditangan kanannya, dan
berusaha menangkap dengan tangan kirinya. Ternyata, dia sedikit gugup sehingga
tangkapnya meleset. Uang itu jatuh dan menggelinding dimeja, dan akhirnya
jatuh dipangkuan umat lain disebelahnya.
Saya lalu menanyakan kepada umat yang
mendapatkan uang tersebut, "Maaf, boleh tahu nama Bapak ?".
"Nama saya ... Sadar …...pak." jawabnya
sambil sedikit tersenyum dan malu.
(nama belakang Bapak Sadar, tidak saya tulis
demi kebaikannya.)
Muka orang terpelajar ini langsung memerah,
dirinya tampak terkejut. Seketika itu juga, suasana di meja ini menjadi
hening, dan sunyi sekali.
"Pak Sadar, terima kasih. " kata saya dengan
tersenyum, untuk memecahkan keheningan.
Lalu Bapak Sadar menyerahkan uang logam itu
kembali kepada orang terpelajar yang melempar uang tersebut. Orang terpelajar
itu hanya terdiam bisu dan tampak mukanya semakin merah. Dirinya hanya
mengambil uang logam yang dikembalikan kepadanya oleh Bapak Sadar, dan
memasukkan kesakunya kembali, tanpa berkata apapun. Untuk tidak membuatnya malu
yang berkelanjutan, saya lalu pamit diri untuk meninggalkan meja ini untuk
berpindah ke meja lainnya.
Sungguh suatu kebesaran dari Yang Maha Esa
sehingga pemuda terpelajar itu dapat menyadari keangkuhannya. Sesungguhnya
saya tidak mempunyai rencana apapun untuk memintanya melemparkan uang logam
keatas dan menangkapnya dengan tangan kirinya.
Saya benar-benar tidak menyangka bahwa
dirinya tidak dapat menangkap uang logam tersebut. Dan yang membuat saya
menjadi heran dan takjub, kebetulan uang logam yang dilemparnya, menggelinding
dan terjatuh dipangkuan orang yang bernama ‘SADAR’. Nama ‘Sadar’, juga bukan
nama yang umum.
Sungguh suatu misteri dari hukum alam yang
sangat sulit dimengerti. Apakah merupakan kebetulan atau kehendak alam sangat
sulit dibedakan. Tetapi demi kebaikan, saya berharap semoga manusia
benar-benar sadar akan kuasa Yang Maha Esa.
Walaupun mereka telah menyaksikan kejadian
secara langsung, mungkin masih ada juga yang mengira bahwa kejadian ini hanya
suatu yang kebetulan saja. Saya hanya dapat berdiam diri, ternyata masih
banyak manusia yang jauh lebih angkuh dari pemuda terpelajar itu. Walaupun
telah melihat langsung kebesaran dari Yang Maha Esa, tetap saja kesadarannya
tertutup.
Bila kita sadari, ternyata kebesaran dari
Yang Maha Esa setiap waktu dapat kita rasakan dan buktikan. Tetapi karena
keangkuhan kita, maka kesadaran akan kebesaran dari Yang Maha Esa tidak lagi
kita akui. Seharusnya kita selalu bersyukur akan banyaknya bukti-bukti dari
kebesaran yang telah diberikan oleh Yang Maha Esa, ternyata kita hanya
merendahkan derajat Yang Maha Esa dengan tidak mengakui bukti-bukti yang telah
kita nikmati.
Lihatlah matahari yang selalu bersinar tanpa hentinya
mengikuti hukum alam, tetapi banyak manusia yang tidak lagi mensyukuri akan
berkah dari Yang Maha Esa atas terciptanya terang bagi para mahluk. Kiranya
manusia tidak perlu lagi menuntut bukti atas kekuasaan Yang Maha Esa. Apa
artinya sebuah uang logam dibandingkan dengan matahari yang demikian besarnya?
bukti yang sedemikin besar tidak lagi kita sadari, mengapa kita harus mencari
bukti yang tidak ada artinya lagi.