Home
Back
Info Dharma
Galleria

Uang Logam
(dikutip dari buku "Kisah-Kasih SpiritualBagian 3 -  Wisnu Prakasa")

Ada seorang terpelajar yang dalam kehidupannya tidak percaya akan Yang Maha Esa, dirinya selalu menganggap bahwa mereka yang percaya dengan agama adalah mereka yang bodoh. Setiap kali dia bertemu dengan temannya yang mempunyai kepercayaan terhadap agama, dia selalu mendebatkannya.

Sering kali dia menantang temannya, sembari mengeluarkan uang logam atau benda lainnya dari kantungnya, dan berkata: "Bilamana memang Yang Maha Esa itu memang ada, tentu Yang Maha Esa bisa mengambil uang logam ini dari tangan saya. Jika tidak dapat mengambil uang ini, berarti tidak mungkin ada.".

Pada suatu undangan, saya bertemu duduk disebuah meja dengan beberapa umat. Lelaki ini rupanya mengetahui sedikit tentang saya, lalu memperkenalkan dirinya dan memohon izin dapat duduk bersama-sama. Para umat mempersilahkan lelaki ini dan beberapa lelaki lainnya untuk duduk semeja dengan saya.

Dirinya menanyakan tentang kepercayaan yang saya jalani, tetapi saya selalu mengelak pertanyaannya dengan halus karena saya mengetahui bahwa orang terpelajar seperti dirinya sangat keras kepala dan tidak akan menghargai pendapat orang lain. Berdebat baginya hanya untuk menunjukan keangkuhan bahwa dirinya lebih pandai dari yang lain.

Walaupun dirinya tampak sedikit sungkan karena mengetahui bahwa saya juga lulusan dari universitas di amerika, dia terus berusaha memancing saya untuk memulai perdebatan. Saya tetap mengelak untuk berdebat dengannya. Semua ini saya lakukan, karena saya sangat menghargai ajaran-ajaran spiritual dan kepercayaan setiap mahluk.

Saya secara pribadi mempunyai pandangan bahwa ajaran-ajaran spiritual bukan hanya sebagai ilmu pengetahuan biasa yang hanya dipelajari sebagai untuk menambah kepandaian intelektual. Ajaran-ajaran spiritual hanya pantas dipelajari bagi mereka yang memang ingin membina kehidupan spiritual.

Menyadari ketidak seriusan saya untuk menjawab pertanyaannya, dia mulai berdebat dengan orang-orang didekatnya. Seperti biasanya, dia pun lalu mengeluarkan uang logam dari kantungnya dan berkata: "Buktikan bahwa kekuatan Tuhan Yang Maha Esa dapat mengambil uang logam ini dari tangan saya.". Orang-orang didekatnya hanya terdiam mendengar tantangannya yang sedikit sembrono.

Mendengar argumennya yang sedikit keras terhadap umat lain, saya menanyakan "Maaf, mengapa anda berkeras hati ingin meminta bukti dan apa manfaatnya bagi diri anda?" tanya saya.

"Segala sesuatu harus dibuktikan terlebih dahulu, baru terbukti kebenarannya. Bila telah terbukti baru dapat dikatakan benar-benar bermanfaat.", jawabnya cepat karena merasa bahwa saya mulai terpancing.

"Benar perkataan anda, tetapi Yang Maha Kuasa tidak akan melakukan hal yang bertentangan dengan hukum alam tanpa dasar yang kuat. Semuanya tergantung jodoh dan kemauan anda sendiri." jelas saya kepadanya.

"Maksud anda ?….. " pemuda ini bertanya kembali kepada saya.

"Bukti yang anda harapkan kepada Yang Maha Kuasa untuk mengambil uang logam dari tangan anda, tetap akan berlandaskan dengan hukum alam."jawab saya.

"Jadi seharusnya bagaimana ?" tanyanya.

"Lemparkan uang logam itu keatas dengan tangan kanan, lalu tangkap dengan tangan kiri." kata saya.

"Baik, saya akan melakukannya." Jawabnya dengan tersenyum sambil melempar uang logam yang ditangan kanannya, dan berusaha menangkap dengan tangan kirinya. Ternyata, dia sedikit gugup sehingga tangkapnya meleset. Uang itu jatuh dan menggelinding dimeja, dan akhirnya jatuh dipangkuan umat lain disebelahnya.

Saya lalu menanyakan kepada umat yang mendapatkan uang tersebut, "Maaf, boleh tahu nama Bapak ?".

"Nama saya ... Sadar …...pak." jawabnya sambil sedikit tersenyum dan malu.

(nama belakang Bapak Sadar, tidak saya tulis demi kebaikannya.)

Muka orang terpelajar ini langsung memerah, dirinya tampak terkejut. Seketika itu juga, suasana di meja ini menjadi hening, dan sunyi sekali.

"Pak Sadar, terima kasih. " kata saya dengan tersenyum, untuk memecahkan keheningan.

Lalu Bapak Sadar menyerahkan uang logam itu kembali kepada orang terpelajar yang melempar uang tersebut. Orang terpelajar itu hanya terdiam bisu dan tampak mukanya semakin merah. Dirinya hanya mengambil uang logam yang dikembalikan kepadanya oleh Bapak Sadar, dan memasukkan kesakunya kembali, tanpa berkata apapun. Untuk tidak membuatnya malu yang berkelanjutan, saya lalu pamit diri untuk meninggalkan meja ini untuk berpindah ke meja lainnya.

Sungguh suatu kebesaran dari Yang Maha Esa sehingga pemuda terpelajar itu dapat menyadari keangkuhannya. Sesungguhnya saya tidak mempunyai rencana apapun untuk memintanya melemparkan uang logam keatas dan menangkapnya dengan tangan kirinya.

Saya benar-benar tidak menyangka bahwa dirinya tidak dapat menangkap uang logam tersebut. Dan yang membuat saya menjadi heran dan takjub, kebetulan uang logam yang dilemparnya, menggelinding dan terjatuh dipangkuan orang yang bernama ‘SADAR’. Nama ‘Sadar’, juga bukan nama yang umum.

Sungguh suatu misteri dari hukum alam yang sangat sulit dimengerti. Apakah merupakan kebetulan atau kehendak alam sangat sulit dibedakan. Tetapi demi kebaikan, saya berharap semoga manusia benar-benar sadar akan kuasa Yang Maha Esa.

Walaupun mereka telah menyaksikan kejadian secara langsung, mungkin masih ada juga yang mengira bahwa kejadian ini hanya suatu yang kebetulan saja. Saya hanya dapat berdiam diri, ternyata masih banyak manusia yang jauh lebih angkuh dari pemuda terpelajar itu. Walaupun telah melihat langsung kebesaran dari Yang Maha Esa, tetap saja kesadarannya tertutup.

Bila kita sadari, ternyata kebesaran dari Yang Maha Esa setiap waktu dapat kita rasakan dan buktikan. Tetapi karena keangkuhan kita, maka kesadaran akan kebesaran dari Yang Maha Esa tidak lagi kita akui. Seharusnya kita selalu bersyukur akan banyaknya bukti-bukti dari kebesaran yang telah diberikan oleh Yang Maha Esa, ternyata kita hanya merendahkan derajat Yang Maha Esa dengan tidak mengakui bukti-bukti yang telah kita nikmati.

Lihatlah matahari yang selalu bersinar tanpa hentinya mengikuti hukum alam, tetapi banyak manusia yang tidak lagi mensyukuri akan berkah dari Yang Maha Esa atas terciptanya terang bagi para mahluk. Kiranya manusia tidak perlu lagi menuntut bukti atas kekuasaan Yang Maha Esa. Apa artinya sebuah uang logam dibandingkan dengan matahari yang demikian besarnya? bukti yang sedemikin besar tidak lagi kita sadari, mengapa kita harus mencari bukti yang tidak ada artinya lagi.

 

— Namo Uci Yauw Ce Cin Mu Ta Thien Cun —

 


  Dharma Center 'BUNDA MULIA' 
Jakarta, INDONESIA

  Vihara 'Yauw Ce Cin-Mu'  
Hua Lien, TAIWAN.

Copyright © 2001 Yayasan Dharma Mulia Persada Indonesia. All rights reserved.