Home
Back
Info Dharma
Galleria

Um Meni Pudmi Hem
(dikutip dari buku "
Kisah-Kasih SpiritualBagian 14 -  Wisnu Prakasa")

Alkisah seorang wanita tua penjual kayu bakar yang tinggal di pinggir sungai kecil. Setiap harinya, wanita tua ini harus menyebrangi sungai untuk dapat menjual kayu bakarnya di pasar. Walaupun sudah puluhan tahun menyebrangi sungai, tetap saja timbul perasaan takut yang luar biasa dihatinya akan derasnya air sungai yang mengalir. Dan setiap kali merasa takut, wanita ini terus melafalkan mantra “Um Meni Pudmi Hem” selama berkali-kali. Seperti biasanya setiap kali, wanita melafalkan mantranya, maka air sungai menjadi surut dan tidak berderas kencang lagi. Setelah melihat air sungai menjadi surut, baru rasa takutnya agak berkurang dan wanita tua ini mulai memberanikan diri menyebrangi sungai sambil terus melafalkan mantranya hingga sampai keseberang.

Pada suatu hari, wanita ini mendengar adanya seorang Guru Spiritual yang sangat terkenal dari negeri seberang datang berkunjung di dekat desanya. Wanita tua ini juga tidak menyia-nyiakan kesempatan yang sangat berharga ini. Pagi itu dirinya, tidak menjual kayu bakar di pasar, dirinya memang telah berniat mengunjungi Guru Spiritual yang sangat terkenal itu.

Rupanya keberuntungan ada dipihak sang wanita tua ini, sehingga dirinya dengan mudahnya dapat mencari kediaman sang Guru Spiritual dan  ternyata sang Guru Spiritual juga berkenan menerima kedatangannya. Dihadapan sang Guru Spiritual tersebut, Wanita tua ini langsung bersujud memohon berkah dan blessing.

“Buddha memberkatimu” kata sang Guru Spiritual.

“Um Meni Pudmi Hem… Um Meni Pudmi Hem… Um Meni Pudmi Hem…” wanita tua terus melafalkan mantra sebagai rasa hormat yang tinggi kepada sang Guru, pewaris dan penerus berputarnya Roda Dharma dari Sang Buddha.

“Wahai nenek yang terkasih, apa yang dapat saya bantu ?” sang Guru Spiritual dengan nada lembut menawarkan bantuannya.

“Guru, mohon maaf. Selama ini hidup saya, saya tidak pernah memohon apapun. Tetapi kali ini, saya terpaksa harus memohon bantuan anda. Saya hanya mempunyai satu permohonan saja.” mohon wanita tua ini dengan kepala terus menunduk ketanah.

“Nenek, Silahkan menjelaskan permintaan anda.”

“Guru, setiap hari saya harus menjual kayu bakar ke pasar, dan setiap hari saya harus menyebrangi sungai. Tetapi……… setiap kali saya ingin menyebrangi sungai, saya selalu merasakan rasa takut yang sangat luar biasa. Saya tidak tahu harus berbuat apa-apa lagi, untuk menghilangkan rasa takut yang luar biasa ini. Saya bisanya hanya melafalkan mantra ‘Um Meni Pudmi Hem’ setiap kali sebelum menyebrang. Tolonglah saya, Guru. Bagaimana menghilangkan rasa takut menyebrangi sungai.” Pinta sang nenek sambil bersujud.

“Nenek tua, anda sudah benar sekali caranya. Bila kita dalam kesulitan, maka dengan melafalkan mantra sangat baik sekali untuk menenangkan hati. Oh yah, saya baru saja mendengar anda mengucapkan mantra “Om Mani Padme Hum”. Tetapi sayang sekali, rupanya mantra yang nenek ucapkan sedikit salah. Nenek, anda harus mengucapkan mantra Avalokitsvhara dengan baik dan benar, sehingga dapat benar-benar bermanfaat. Coba nenek ikut saya ‘Om Mani Padme Hum’” jelas sang Guru.

“Om Meni Pudmi Hum.” Kata si Nenek dengan perlahan.

“Sekali lagi nenek, Om Mani Padme Hum”, sang Guru berkata lagi.

“Om Meni Padmi Hum”, kata sang nenek dengan perlahan.

“Dengarkan baik-baik, Nek. Om…Ma…ni… Pad…me… Hum…”, sang Guru berkata lagi dengan nada sangat perlahan.

“Om… Ma…Ni… Pad…Me… Hum…”, kata sang nenek dengan perlahan.

“Bagus… Bagus… ini yang benar ‘Om Mani Padme Hum’, Sekarang nenek harus mengucapkan mantra ini sebanyak 108 kalii dengan benar sebelum menyebrang, pasti rasa takut anda, akan hilang.” Jelas sang Guru.

“Om Ma Ni Pad Me Hum, Om Ma Ni Pad Me Hum, Terima kasih… terima kasih… terima kasih. Om Ma Ni Pad Me Hum....” kata sang nenek sambil bersujud kembali.

Sang Nenek lalu pulang kerumah, sambil terus melafalkan mantra “Om Mani Padme Hum” dalam hati, agar dirinya terus dapat mengingatnya. Hingga malam harinya sebelum tidur, sang nenek terus melafalkan berulang-ulang.

Keesokan harinya dengan wajah cerah dan penuh kegembiraan, sang Nenek mulai bersiap diri membawa kayu bakar untuk dijual di pasar. Sambil berjalan ke arah sungai dengan penuh keyakinan akan kehebatan mantra barunya, sang nenek berpikir bahwa dirinya benar-benar sangat beruntung sekali mempunyai karma baik, sehingga dapat bertemu dan mendapatkan ajaran akan melafalkan mantra yang  benar dari sang Guru Spiritual yang hebat.

Setiba di dipinggir sungai, sang nenek menurunkan pikulan kayu bakarnya. Kemudian dilihatnya air sungai yang tampak setinggi biasanya dan mengalir cukup deras. Sang nenek kemudian memejam matanya, dan menarik nafas perlahan-lahan. Kemudianh dirinya mulai melafalkan mantra ‘Om Mani Padme Hum… Om Mani Padme Hum…’ berkali-kali.

Setelah melafalkan sebanyak 108 kali, sang nenek merasa senang. Ternyata dirinya benar-benar tidak merasakan rasa takut sedikitpun. Lalu sang nenek mulai membuka mata perlahan-lahan. Dilihatnya air sungai yang mengalir dihadapannya. Ternyata air sungainya, tidak surut sedikitpun seperti biasanya, dan arusnya tidak mengecil sedikitpun. Dirinya merasa heran, karena biasanya sehabis membaca mantra, air sungai akan menyurut dan arusnya akan mengecil, sehingga dirinya dapat melihat batu-batu besar di dasar sungai sebagai penuntun jalan menyebrang sungai. Walau rasa takut tidak lagi timbul, tetapi sang nenek kebingungan sekali, karena tidak tahu bagaimana caranya untuk menyebrangi sungai dengan air yang masih belum surut dan arus yang cukup deras.

Lalu sang nenek memutuskan, untuk menutup mata kembali dan malafalkan mantra ‘Om Mani Padme Hum’ hingga 108 kali. Kemudian sang nenek membuka matanya, ternyata air dan arus sungai tetap saja tidak berubah sedikitpun. Dicobanya sekali lagi, membacakan mantra ‘Om Mani Padme Hum’ sebanyak 108 kali. Dan air dan arus sungai tidak berubah juga. Dicobanya lagi membaca mantra dengan perlahan-lahan, agar setiap mantra dapat diucapkan tanpa kesalahan sedikitpun, tetapi tetap saja arus sungai tidak juga surut.

Tidak terasa hari telah siang, dan tampak air sungai semakin deras. Sang nenek yang merasa sangat kebingungan, akhirnya memutuskan untuk tidak jadi ke pasar, melainkan pergi mencari sang Guru Spiritual untuk menceritakan kejadian  yang sangat aneh ini.

Beruntunglah sang nenek, ternyata sang Guru Spiritual masih berada di penginapanya seperti kemarin.

“Guru, Saya mengalami kejadian yang sangat aneh dan tidak masuk akal.  Mohon Guru berkenan memberikan petunjuk lagi?” mohon sang nenek.

“Nenek, dengan senang hati saya akan membantu.” Jawab sang Guru dengan lembut.

“Guru, tadi pagi ketika ingin menyebrang sungai. Saya terus melafalkan mantra ‘Om Mani Padme Hum’ sesuai dengan petunjuk dari Guru kemarin. Mantra Guru benar-benar sangat luar biasa, dengan mengucapkan  ‘Om Mani Padme Hum’, rasa takut saya benar-benar tidak timbul lagi.” Jelas sang nenek.

“Bagus sekali, memang terbukti bahwa membaca mantra dengan benar, sangat besar manfaatnya. Lalu kejadian aneh apa yang anda alami, Nek.  ?” tanya sang Guru.

“Guru, Mantra dari Guru sangat luar biasa. Sehabis malafalkan mantra ‘Om Mani Padme Hum’, saya tidak merasa takut lagi. Tetapi… tetapi… mengapa air sungainya tidak surut dan arusnya tidak mengecil juga. Bahkan, saya telah mencobanya lebih sepuluh kali berturut-turut melafalkan mantra ‘Om Mani Padme Hum’ sebanyak 108 kali. Sungguh aneh, Air sungainya tetap saja tidak surut-surut, dan arusnya juga tidak berubah sedikitpun.”

“Nenek..... Lalu bagaimana anda dapat menyeberangi sungai tersebut sebelumnya ?” tanya sang Guru.

“Guru. Dihari-hari sebelumnya, sehabis saya melafalkan mantra ‘Um Meni Pudmi Hem’, air sungai pasti langsung surut dan arusnya mengecil. Sehingga akan tampak batu-batu yang menjadi patokan saya untuk menyebrang. Tetapi saya  merasa takut sekali ketika menyebrang sungai. Terlebih-lebih ditengah sungai, Saya pasti merasakan takut yang sangat luar biasa, karena saya selalu membayangkan jangan-jangan airnya akan langsung meninggi lagi dan arusnya akan menjadi deras kembali, atau bagaimana bila batu yang saya injak ini pecah. Walaupun penuh dengan ketakutan, saya terpaksa menyebrang sambil terus melafalkan mantra. Karena takut yang luar biasa, saya hanya dapat menyeberangi sungai dengan sangat  perlahan, tetapi.... selama ini saya masih beruntung, karena air sungainya selalu meninggi dan deras kembali, tepat ketika saya telah sampai diseberang sungai. " jelas sang Nenek dengan panjang lebar.

“Buddha memberkatimu”, kata sang Guru dengan nada kekaguman.

“Saya sangat senang sekali. Ternyata mantra yang Guru ajarakan sangat luar biasa hebatnya, sehingga saya tidak merasa takut lagi. Bila saya tidak merasa takut, tentu saya dapat menyebrang sungai dengan lebih cepat sebelum arus sungai naik kembali. Tetapi....... sungguh sangat aneh sekali. Setiap hari selama bertahun-tahun, saya selalu menyeberang sungai. Baru hari ini air sungainya tidak surut sedikitpun. Mohon bantuan Guru lagi.....” Mohon sang nenek.

“Nenek, Buddha memberkatimu. Saya rasa, lebih baik nenek kembali melafalkan mantra ‘Um Meni Pudmi Hem’. Ini jauh lebih baik bagi nenek. Setidaknya, nenek masih dapat menyebrang sungai.” Kata sang Guru.

“Guru ???” kata sang nenek singkat, dengan wajah kebingungan.

— Namo Uci Yauw Ce Cin Mu Ta Thien Cun —

 


  Dharma Center 'BUNDA MULIA' 
Jakarta, INDONESIA

  Vihara 'Yauw Ce Cin-Mu'  
Hua Lien, TAIWAN.

Copyright © 2001 Yayasan Dharma Mulia Persada Indonesia. All rights reserved.