Masalah ini sebenarnya sudah ada sejak
lampau hingga sekarang. Semua ini tergantung dari jodoh dan karma
masing-masing. Saya sendiri melihat dan menyaksikan sendiri beberapa umat yang
saya kenal dengan baik dari aliran tertentu, dengan mudahnya berpindah-pindah
guru dengan mudahnya bagaikan anak-anak muda yang terus mengikuti mode dan
fashion.
Secara pribadi saya dapat memahami bilamana
perpindahan mereka dari guru besar yang satu ke guru besar yang lainnya.
Didasari oleh tujuan dan niat untuk mencari guru pembimbing yang lebih sesuai,
agar dapat memahami dan membina ajaran dharma dengan lebih baik lagi.
Sebagai mahluk yang berniat menjalankan
pembinaan kehidupan spiritual, para mahluk harus jujur dengan hati nurani
masing-masing. Apakah memang benar alasan ini yang menjadi dasar pertimbangan
yang sebenarnya? Sudahkah kita telah benar-benar mengetahui dan memahami dasar
dan tujuan dari ajaran guru ?
Atau memang sebenarnya kita mempunyai alasan
lain yang sebenarnya bersumber dari masalah dan sifat pribadi diri kita
sendir. Hanya diri kalian sendiri yang memahami alasan yang sebenarnya.
Saya telah banyak bertemu dengan para umat
aliran lain yang telah berpindah-pindah dari satu guru ke guru lainnya. Dan
saya sangat menyayangkan bahwa sebagian besar alasan perpindahan mereka hanya
disebabkan oleh masalah pribadi sendiri.
Saya melihat banyak pula para murid yang
telah berbulan-bulan dan bahkan bertahun-tahun telah menyatakan
perlindungannya dihadapan gurunya, tetapi sekarang ini tidak lagi menyadari
pentingnya menjaga samaya antara murid dan guru. Bahkan banyak dari mereka
dengan sangat berani menjelekan dan memburukan guru-guru mereka. Sunguh
kasihan, mereka benar-benar tidak menyadari apa yang telah mereka perbuat.
Bagi umat yang demikian, sejujurnya saya
katakan bahwa saya juga tidak dapat banyak membantu kehidupan spiritual
mereka. Seburuk-buruknya seorang yang telah kita anggap sebagai guru,
selamanya tetap sebagai guru kita. Bila kita merasa ajarannya tidak sesuai
lagi dengan kita, kita tidak perlu memburuk-burukannya. Katakan dan jelaskan,
atau setidaknya anda dapat berdiam dan tidak perlu melakukannya.
Saya ingatkan kepada para umat yang
demikian. Pahamilah bahwa seburuk-buruknya orang tua, mereka tetap orang tua
kita selamanya. Demikian pula bila kita telah menyatakan perlindungan kepada
seorang guru besar, maka guru besar ini sebenarnya telah menjadi orang tua
spiritual kita. Jika ditengah pembinaan spiritual, kita merasa tidak lagi
dapat menerima ajarannya, apakah kemudian pantas menjelekan orang tua sendiri
?
Orang tua yang telah melahirkan kita,
membimbing dan melindungi kita. Mungkin mereka mengharapkan kita untuk menjadi
dokter, tetapi kita ingin menjadi seorang pilot. Apakah pantas ketidak cocokan
ini langsung memutuskan ikatan anak dan orang tua.
Atau seburuknya, bila kita mengetahui bahwa
orang tua kita adalah seorang pembunuh. Apakah kita langsung memutuskan ikatan
keluarga dan menjelek-jelekan mereka ? Semua ini saya serahkan kembali kepada
masing-masing umat yang demikian.
Para umat yang sering berpindah-pindah
ajaran dan aliran dengan alasan yang demikian. Saya memohon maaf karena tidak
dapat banyak membantu pembinaan spiritual mereka. Bukannya saya menolak mereka
untuk menjadi murid dari Bunda Mulia, tetapi saya hanya ingin memberikan yang
terbaik bagi mereka.
Banyak pula umat dari satu agama dan
berpindah ke agama lainnya, walaupun perpindahan ini sangat baik dan benar
bagi pembinaan kehidupan spiritualnya. Saya juga mengharapkan agar mereka
tetap saling menghormati.
Pahami lebih dalam: bukankah kita dapat
menganut dan menerima ajaran agama kita sekarang, juga karena adanya andil
dari proses belajar mengajar dari pengalaman dan pembinaan kehidupan kita
sebelumnya. Bukankah seorang mahasiswa akan lebih baik jika dirinya dapat
tetap menghormati bekas para gurunya di SMA, SMP, atau bahkan sekolah dasar.
Terlepas dari berbagai masalah pribadi, saya
juga melihat banyaknya perpindahan yang didasari pertimbangan lainnya. Di masa
sekarang dimana segala informasi dengan mudah dan cepat didapat. Para mahluk
juga semakin cenderung untuk berpindah dari satu guru ke guru lain. Hal ini
memang ada baiknya, tetapi para mahluk juga cenderung untuk menghabiskan
waktunya didalam proses pembinaan kehidupan spiritualnya ini.
Banyak para mahluk yang mulai memahami
pentingnya jalankan pembinaan spiritual. Tetapi sangat disayangkan dalam
pembinaan spiritualnya, mereka kadang tidak mahami tujuan dan cara mencapaian
yang sebenarnya. Dimana mahluk yang demikian, biasanya akan cenderung untuk
mencoba-coba berbagai macam cara satu demi satu. Tetapi biasanya mereka juga
cepat menjadi jenuh dan kecewa, karena kenyataan dan hasilnya tidak seperti
yang diharapkan.
Untuk ini saya mengajak para mahluk yang
pada dasarnya telah mempunyai semangat untuk membina kehidupan spiritual,
untuk tidak membuang waktu anda dengan percuma dalam pembinaan kehidupan
spiritual. Mengapa kita harus mencari-cari yang kita tidak ketahui arahnya ?
Bukankah kehidupan yang sangat singkat ini, harus dapat dimanfaatkan
sebaik-baiknya dalam pembinaan spiritual.
Dimana sejak lampau ajaran para Buddha,
Bodhisattva dan para mahluk suci telah menurunkan berbagai macam ajaran,
bahkan lebih dari 84.000 ajaran. Banyaknya ajaran, jangan dianggap sebagai
suatu yang akan membingungkan bagi para mahluk dalam membina kehidupan
spiritual.
Keaneka-ragaman ini merupakan suatu berkah bagi para mahluk,
dimana banyaknya ajaran diturunkan karena kondisi, pengetahuan, keadaan,
pencapaian, dan karma masing-masing para mahluk berbeda-beda. Walaupun
demikian, akhirnya seluruh ajaran ini akan menuju kesatu tujuan yang sama
yaitu mencapai ke-Buddha-an, Kesempurnaan Agung Sejati, Pencapaian Sejati,
Pencapaian Tanpa Batas, Pencapaian Tertinggi, Pencapaian Tao, dsb.