Home
Back
Info Dharma
Galleria

Usaha dan Nasib
(dikutip dari buku "Kisah-Kasih Spiritual Bagian 6 - oleh: Wisnu Prakasa")

Usaha berkata kepada Nasib: "Hasil kerja saya lebih besar dan lebih berguna dari kamu."

Nasib merasa tidak setuju lalu menjawab: "Apa yang telah kamu lakukan untuk mengalahkan saya ?"

Usaha menjawab: "Apakah manusia itu berumur panjang maupun pendek, kaya maupun miskin, gagal atau berhasil, semuanya ditentukan oleh saya."

Nasib lalu membalas:"Banyak orang baik berumur pendek, sedangkan yang jahat berumur panjang. Orang yang korupsi lebih kaya dari pada orang yang bekerja lebih keras. Yang malas lebih beruntung dari yang rajin. Yang pintar menjadi penganggur dan yang bodoh mendapatkan pekerjaan. Jika kamu benar-benar berpengaruh seperti yang kamu katakan. Kenapa kamu tidak membuat yang baik berumur lebih panjang, yang kerja keras lebih kaya, yang rajin lebih beruntung, si pintar mendapatkan pekerjaan ?"

Mendengar semua ini, Usaha tidak bisa membantah semua yang dikemukakan oleh Nasib. Lalu ia berkata: "Anda benar, Saya tidak mempunyai kuasa banyak untuk mempengaruhi semua ini. Ini semua terjadi karena Kamu selalu salah memberikan petunjuk, dan kamu selalu memutar-balikkan nasib orang. Tampaknya kamu menyukainya apa yang kamu lakukan."

Nasib lalu menjawab: "Sebenarnya saya sendiri tidak dapat memaksa perjalan hidup manusia. Saya hanya mengantarkan mereka hingga di awal tangga agar mereka dapat menaiki tangga kehidupannya. Jika segalanya lancar tanpa halangan, saya antarkan agar mereka dengan mudah dapat menaiki tangga kehidupannya. Tetapi jika ditengah jalan mereka berubah pikiran, saya sendiri tidak dapat memaksakan kehendaknya. Akhirnya saya biarkan saja mereka mengikuti jalan pikirannya sendiri."

"Kalau demikian, kita berdua harus mengakui bahwa sebenarnya kita tidak dapat memaksakan jalan hidup manusia. Kita hanya dapat mengantar dan mendampinginya diawal tangga, dan manusia sendiri yang memutuskan berapa anak tangga kehidupan yang akan mereka naiki. " lanjut sang usaha.

"Memang benar. Walaupun kita telah bekerja secara maksimal, ternyata gambaran pikiran manusia memegang peranan yang lebih kuat. Sungguh kasihan, manusia tidak menyadari bahwa dirinya tidak lagi menjadi master kehidupannya. Mereka hanya sebagai budak dari pikirannya." jelas sang nasib dengan terharu sedih.

Kemudian sang nasib dan sang usaha saling merangkul dan berpelukan, Mereka sadar bahwa apa yang telah mereka lakukan selama ini tidak lagi dihargai oleh manusia, akhirnya jerih payah mereka menjadi sia-sia.

(Disadur dari kumpulan cerita klasik para master Tao.)

Namo Uci Yauw Ce Cin Mu Ta Thien Cun

 


  Dharma Center 'BUNDA MULIA' 
Jakarta, INDONESIA

  Vihara 'Yauw Ce Cin-Mu'  
Hua Lien, TAIWAN.

Copyright 2001 Yayasan Dharma Mulia Persada Indonesia. All rights reserved.